
"Apa kewarasanmu tertinggal di tempat lain?"
Tentu saja itu sarkastik. Tapi Samuel malah bergumam ya, sambil meletakkan tangannya yang memegang tangan Emilia di dadanya.
"Kewarasanku di sini. Dalam dirimu."
"Berhenti mengajakku bercanda, Samuel Ahkam. Aku menawarkan—"
"Kebahagiaan bagi mereka yang terancam tidak bahagia. Aku tahu. Karena itu, untuk bayarannya, aku ingin kebahagiaanmu dan aku. Bersama."
Emilia tidak bisa melihat apa-apa tapi ia bersumpah tidak menyukai suasana ini. Dadanya terasa ngilu dan asing.
"Dengarkan, Emilia." Tangan Samuel menangkup wajahnya. Menuntun Emilia mendongak meski jelas ia hanya melihat kegelapan. "Aku memiliki ibu. Dan aku tahu kebahagiaan terbesar ibuku adakah aku."
"...."
"Aku menginginkanmu, Gadis Kecil." Ibu jari Samuel bergerak membelai bibirnya. "Aku ingin melihatmu bahagia dengan kebahagiaan terbesarmu. Tenang saja. Aku mendengarnya dari ibuku. Apa yang membuat dia menderita bukan aku, tapi Suryanata. Maka aku tidak akan menjadi Suryanata bagi anakku. Agar kamu bahagia."
"Berhenti bicara omong—"
"Bukan omong kosong." Samuel bergumam saat menarik tubuh Emilia dalam pelukannya. "Kecuali kamu berkata bahwa pria yang menyukaimu dipenuhi omong kosong."
Kenapa jadi salah Emilia?
"Astaga, Emilia. Seorang gadis hebat sepertimu hanya disukai oleh omong kosong."
"Kenapa harus aku—"
__ADS_1
"Yah, begitulah. Kamu mengatakannya sendiri."
"Aku tidak—"
"Tapi kamu berkata aku omong kosong."
Kenapa jadi salah Emilia padahal dia memang bicara omong kosong?!
Yang aneh, Emilia dibuat bungkam. Hanya diam merasakan pelukan Samuel semakin erat, membawanya pada perasaan tak jelas yang tak ia kenali.
Emilia takut. Apa hidupnya dalam bahaya? Ia palpitasi. Apa tensi darahnya melonjak?
"Emilia-ku." Samuel berbisik di bibirnya. "Berhenti bersembunyi."
...*...
Emilia memilih tidak menjawab. Ia tak menunggu mata siapa pun menggantikan matanya. Kehilangan mata ini adalah kesalahan Emilia, jadi ia tak menunggu seseorang kehilangan mata untuknya.
Secara mandiri Emilia duduk di tempat tidurnya, tapi Samuel segera menyelimuti tubuh telanjang Emilia.
"Aku ingin cokelat." Emilia bergumam saat Samuel memberinya segelas air mineral.
Meski tak melihat, ia tahu Samuel tersenyum. "Panas atau dingin?"
"Dingin."
"Baiklah." Samuel menyempatkan diri mencium keningnya. "Tunggu di sini. Akan kubuatkan."
__ADS_1
Ada keheningan di sekitar Emilia saat Samuel beranjak pergi. Ia meraba sekitaran tempat tidur, melewatkan kaus Samuel yang tergeletak begitu saja di dekat bantal untuk meraih bonekanya.
Apa sudah benar ia menerima Samuel? Apa sudah benar ia melakukan hal ini? Emilia tak tahu. Sulit untuk tahu. Mungkin ia takut.
Karena emosi adalah kelemahan. Dan apa yang Samuel tawarkan adalah permainan emosi.
"Senior."
"Kekasihmu akan marah kamu menyebut Mahesa setelah bercinta."
Suara Nine di interkom menjawab Emilia. Ia menoleh, mencari tombol di dekat tempat tidur untuk menekannya. "Berhenti mengintip."
"Emilia, aku tidak berselera melihat Samuel Ahkam telanjang, oke? Aku hanya melihat kalian berciuman." Nine terkekeh. "Tapi, yah, itu kemajuan. Jangan menyebut Mahesa lagi."
Emilia jadi gugup. Atau mungkin gelisah. "Tidak bisakah aku bicara dengan Senior sebentar? Aku hanya ingin—"
"Meyakinkan dirimu sendiri. Sayangku, berhenti membantasi diri. Jika kamu masih perlu bicara pada Mahesa mengenai hal aneh tentangmu, dia akan kecewa."
"Tapi—"
"Kekasihmu datang."
Emilia melepaskan tangan dari tombol itu, duduk diam sampai terdengar suara pintu terbuka. Ia tak tahu mengapa rasanya agak menakutkan saat Samuel duduk, menyerahkan segelas cokelat susu dingin.
"Aku memberinya sedotan. Minumlah."
Berusaha terlihat biasa, Emilia menyesapnya.
__ADS_1
...*...