Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
18. Merasa Bersalah [REVISED]


__ADS_3

Sore sudah menjelang ketika Samuel mengetuk pintu kamar Ema. Tadinya ia pikir itu dikunci, tapi ternyata terbuka ketika Samuel mendorongnya.


Masih tidur.


Dia terlihat lebih lemah sejak datang ke sini. Seperti tidak semangat, lelah dan menyedihkan.


Logisnya mungkin dia masih sulit beradaptasi. Apalagi, situasi di sekitar mereka juga buruk, jadi Samuel memaklumi jika dia mungkin menganggap desanya jauh lebih nyaman daripada tempat ini.


"Ema."


Samuel mendekatinya hati-hati. Melihat napas Ema tampak berat dan sesak. Spontan saja Samuel menyentuh kening gadis itu, tersadar bahwa sekarang dia sungguhan sakit.


Hah. Dia datang atas permintaan Samuel, jadi kalau dia sakit, jelas tanggung jawab Samuel.


"Ema, bangunlah. Makan ini." Samuel menepuk-nepuk lengannya tapi tak mendapat respons. "Ema, bangunlah dulu."


Haruskah ia biarkan dia tidur?


Samuel mendesah samar. Duduk di dekat karpet tempat Emilia berbaring, meletakkan piring makanan di atas meja.


Kejadian Idrus lalu Seline, Samuel merasa itu perbuatan seseorang. Seseorang yang melakukannya dengan tujuan tertentu dan rasanya masih akan ada lagi.


Tapi siapa, kenapa, dan bagaimana?


Samuel sudah memerintahkan Ryo untuk mengurus kejadian tersebut, tapi anak buahnya memberi isyarat samar bahwa ada keganjilan yang sulit ditemukan.


Seperti ... seperti sesuatu menghalangi bagian terpenting dari hal itu.


Makanya meski Samuel merasa Ema berbuat sesuatu, tetap sulit yakin. Karena bagaimana bisa?


Harus seseorang sekuat Argantana yang bisa mengutak-atik permainan seberbahaya ini.

__ADS_1


Gadis desa ini bisa apa? Dia sekarang malah demam karena lupa makan dan kedinginan.


Samuel tak peduli pada nasib para Ahkam itu. Ia pun bisa melindungi diri sendiri. Tapi tetap saja tidak mengetahui apa-apa adalah sebuah kelemahan fatal.


"Aku sedikit merasa bersalah padamu." Samuel menepuk-nepuk kening Ema.


Bergeser melihat tangannya yang tampak sangat kasar untuk ukuran seorang wanita bagi Samuel.


Beberapa sudut kulitnya mengelupas dan kering kasar.


Itu sangat mengganggu Samuel memikirkan bahwa ia yang membawa Ema, lalu memaksakan menghadapi semua hal konyol di rumah ini.


Samuel rasa sebaiknya ia keluar saja.


Dipejamkan matanya tenang, menunggu beberapa waktu sampai Ema terbangun.


"Ada apa?" tanya dia datar.


Ayo bawa dia menjauh dari tempat ini dulu, sebisa mungkin.


*


Emilia sudah sadar sejak Samuel masuk. Atau sebenarnya ia memang menunggu pria itu datang, bukan untuk makanan, namun untuk melihat.


Masih terasa samar-samar kecurigaan, tapi dia kebingungan dan mulai larut dalam permainan Emilia.


Itu bagus. Apalagi saat dia bilang besok akan keluar.


Kebetulan. Emilia juga harus keluar untuk bebas bertemu Mutia dan Darto yang menunggu perintah selanjutnya.


Begitu Samuel pergi, Emilia melirik makanan di dekat tempat tidur. Diambil piring itu, kembali masuk ke kamar mandi untuk membuangnya.

__ADS_1


Emilia menatap tampilan wajahnya di cermin. Agak tersenyum menyadari bahwa ia sudah sangat pucat dan sakit, yang berarti sekarang Emilia sudah sangat lemah di mata Samuel.


Bagaimanapun dia berbahaya. Dia orang terdekat Emilia di rumah ini, jadi orang pertama yang harus dikelabui adalah dia.


Setelah berhasil, baru Emilia bebas mengarahkan ke mana permainan ini.


*


"Kamu mau membawanya?"


"Aku tidak bisa meninggalkan Ema sendirian. Kamu mengerti."


"Tetap saja tidak masuk akal kamu mengajak orang lusuh begini ke acara penting! Kamu lupa atau pura-pura tidak ingat kamu publik figur? Kamu penyanyi, Sam! Hidupmu disorot habis-habisan dan kamu ingin pamer memelihara kucing kotor seperti dia?!"


Samuel berdecak kesal. "Nina, sudah kubilang berhenti bicara kasar."


"Maka berhenti membuatku ingin bicara kasar!"


Kalau begitu bisakah mereka berhenti berdebat di kamar Emilia?


Kenapa harus selalu di sini padahal ada tempat yang luas untuk mereka berguling-guling?


Aku tidak akan pernah tahu pikiran orang tanpa akal, desah Emilia dalam hatinya.


Pura-pura sibuk melipat baju yang akan ia masukkan ke dalam tas.


Pergi yang Samuel maksud ternyata bukan cuma pergi bekerja beberapa jam. Mereka akan terbang ke Lombok, di mana Samuel akan pentas di pinggiran pantai.


Agak terlalu jauh sebenarnya, namun Emilia jelas tidak bisa berkata jangan.


*

__ADS_1


__ADS_2