
Pagi harinya, Emilia terbangun oleh cahaya matahari menerobos dari jendela kamarnya. Ia bangkit, bermaksud untuk mandi ketika menemukan sebuah kertas terselip di bawah pintu, berikut tulisan bertinta biru.
...Tetaplah di kamar hari ini. Aku dan Nina berkumpul di dekat penginapan jadi tidak ada pekerjaan hari ini. Tapi turunlah sebentar dan makan. Anggap saja balasan dari makanan yang kumakan di rumahmu. ...
Emilia merobek kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah.
Ia keluar untuk mandi, turun mengambil makanan seperti kata Samuel lalu naik dan menghabiskan seluruh waktunya untuk istirahat.
Kekosongan itu memberi Emilia ruang meski hanya sedikit. Ketika ia diam menatap jemarinya yang kasar, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, disusul kemunculan Darto yang memakai setelan baju pantai.
"Nona."
Sepertinya dia berkamuflase dengan baik.
"Apa Senior meninggalkan pesan untukku?"
"Beliau hanya bilang Nona melakukannya dengan baik."
Padahal Emilia tahu ia agak sedikit mencolok, tapi sepertinya Mahesa tidak menyuruhnya untuk terlalu menahan diri atau bersabar.
Mood Emilia jadi lebih baik sekarang.
"Beritahu Senior bahwa aku akan memberikan Oto padanya secepat mungkin. Dan," Emilia menopang dagu dan tersenyum kecil, "bunuh dua orang yang berpengaruh, dibawah tiga orang yang paling berkuasa atas Ahkam. Aku tidak peduli siapa. Buat jejak samar bahwa itu perbuatan Oto."
"Baik, Nona."
"Sisanya diamlah sampai aku memberi isyarat baru."
"Baik, Nona." Darto sejenak menatapnya. "Jaga diri Nona."
"Aku selalu melakukannya."
Setelah Darto pergi, Emilia berbaring menyamping.
Sebenarnya ia belum bisa menemukan celah untuk masuk pada dunia Samuel. Belum ada informasi yang cukup untuk Emilia datang bernegosiasi atau setidaknya cukup penting untuk Mahesa bisa menukarnya dengan Oto.
__ADS_1
Ibunya Samuel?
Tidak. Kalau Mahesa mau mengambil Oto beserta Samuel-nya, maka dia tidak boleh menyentuh ibunya Samuel.
Ancaman adalah perusak dalam hubungan. Jika Mahesa menjadikan ibunya Samuel sebagai sandera, daripada mendapatkan Samuel, mungkin dia malah membesarkan musuh untuk melawannya di masa depan.
Harus bujukan halus.
Aneh. Padahal Mahesa sendiri tahu Emilia paling tidak tahu cara bertindak halus. Cepat atau lambat kedok perempuan desa pasti akan basi memancing simpati Samuel. Lagipula pria itu dipenuhi kepura-puraan.
Emilia beranjak dari kasur begitu malam tiba. Niatnya ingin duduk di jendela menikmati angin laut yang dingin, tapi justru tak sengaja menemukan Samuel berada di depan penginapan, tengah tertawa bersama sejumlah orang.
Orang lain yang melihat pasti berpikir dia bahagia di sana. Sementara lewat kacamata minusnya, Emilia cuma bisa berpikir betapa tidak peduli Samuel pada semua tawa itu.
Di suatu tempat, rasanya mereka berdua mirip.
Untuk melindungi dirinya, dia harus hidup di tempat yang tidak dia sukai.
Seperti Emilia yang harus selalu berbohong pada dunia agar tidak ada satupun yang curiga dirinya siapa.
Tanpa sadar Emilia justru melihat dia terlalu lama. Entah sejak kapan Samuel juga sudah mendongak, menatapnya dari kejauhan dengan sebuah senyum di bibirnya.
Tidak mau tahu arti senyum itu, Emilia kembali ke tempat tidur saja.
Besok mungkin akan melelahkan.
*
"Aku tahu itu."
Samuel menoleh pada gumaman Nina yang tiba-tiba.
"Aku tahu dia menarik perhatianmu. Omong kosong membantu teman yang meninggal dan setannya. Berpura-pura baik atau apa pun tindakanmu, itu menjijikan."
Fokus Samuel lebih kepada 'menarik perhatianmu'.
__ADS_1
Apa maksud dia Ema?
"Aku tidak bisa percaya. Kamu melakukan hal menjijikan seperti itu dengan pikiranmu, Sam?"
"Berhenti membuat asumsi aneh, Nina. Aku dan Ema—"
"Aku bersamamu sejak lama sebagai teman, apa pernah sekali kamu membawakan makanan untukku?"
"Kita membahas bahasan lama lagi?"
Nina menyukai Samuel. Itu adalah cerita lama yang bahasannya sudah berhenti pada satu kesimpulan, tidak bisa karena Samuel tidak suka padanya.
Sepertinya dia sendiri juga bilang bahwa segalanya tidak harus ditentukan dengan hubungan, dan itu tidak terlalu penting mereka ini apa asal Samuel tetap menemaninya.
Bukankah tidak ada masalah lagi?
Setidaknya bagi Samuel, sudah tidak ada masalah.
Ia beranjak meninggalkan Nina daripada masalah jadi semakin panjang, masuk ke penginapan untuk kembali ke kamarnya saja.
Tapi saat melewati kamar Ema, Samuel berhenti. Sejenak berdiri di depan pintu, bertanya-tanya apa dia sekarang sudah tidur.
"Aku tahu dia menarik perhatianmu."
Menarik, kah?
Kalau dipikir-pikir, memang agak benar. Dia berbeda dari orang-orang yang pernah Samuel temui. Matanya tegas menatap, tidak peduli pada apa pun yang Samuel miliki.
"Kamu membenciku?"
"Ya."
Samuel menutup mulutnya dan tersenyum samar.
Lucu juga.
__ADS_1
*