Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
13. Pengabaian [REVISED]


__ADS_3

"Sam."


Emilia langsung terusik begitu mendengar suara yang muncul dari pintu kamarnya. Tanpa harus membuka mata, bisa ia tebak gadis teman Samuel itu masuk menghampiri Samuel.


Ada rasa tak senang dalam diri Emilia saat berpikir orang asing seenaknya masuk ke teritorinya, namun segera Emilia sadar bahwa ia tidak berada dalam posisi bersikap sekehendak hati.


Pada akhirnya Emilia diam. Berharap Samuel pergi saja karena menyebalkan mendengar orang bicara di dekatnya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?"


"Tidak ada."


Pria ini bodoh, yah?


Kalau tidak ada, kenapa juga dia harus duduk di sana?


Terdengar suara pintu ditutup rapat dan Emilia benar-benar kesal mendengar suara orang duduk di samping Samuel, yang berarti mereka mau bicara di tempat Emilia.


Suruh ia tidur di gudang asal tidak harus mendengar omongan tidak penting.


"Hei, aku akan bertanya ini sekali. Kamu tahu sesuatu?"


Nadanya ....


Dia seperti menyiratkan sesuatu bahwa Samuel bisa jadi adalah tersangka.


Hmmm, begitu rupanya. Gadis ini tahu paling tidak sedikit tentang Samuel Ahkam.


Pantas saja dia bebas bertingkah.


"Entahlah."


Samuel bicara seakan-akan dia tahu sesuatu. Atau lebih seperti, ingin Nina berpikir ada sesuatu.


"Apa Argantana menyakitimu lagi? Apa dia menyuruh orang datang padamu lagi?"

__ADS_1


Bukankah dia bilang dia hanya akan bertanya sekali?


"Jangan khawatirkan aku, Nina. Lagipula Idrus bukan orang penting di keluarga ini. Besok pagi mereka semua akan lupa padanya."


"Aku juga tahu hal itu, Sam. Tapi tetap saja. Bagaimana kalau ...."


"Hentikan, Nina. Ema sedang syok. Bukankah sudah kubilang kakaknya baru saja meninggal?"


Kata Mahesa, orang yang mahir berbohong sampai-sampai kebohongannya terdengar sangat nyata dan emosional adalah orang genius.


Padahal dia sendiri mencurigai Emilia.


"Ya, terserah." Nina menghela napas kesal. "Daripada itu, kenapa pembantumu masih tidur sementara kamu, tuannya, malah duduk menemani dia?"


"Seseorang butuh beradaptasi, Nina. Ema menjadi pembantu bukan karena dia adalah pembantu sejak lahir. Aku membawanya dan harus menjadikannya pembantu, karena hanya itu yang bisa kulakukan."


"Siapa sebenarnya temanmu itu? Aku mengenalmu sejak dulu. Aku tidak tahu siapa teman yang cukup akrab bagimu sampai-sampai kematiannya begitu penting."


"...."


Itu bukan keheningan karena tak bisa menjawab.


Emilia memutuskan untuk pura-pura baru terbangun, terbatuk lemah meski sebenarnya ia cuma demam karena penyesuaian suasana.


"Sudah bangun, Tuan Putri?" Gadis itu menatapnya tajam. "Haruskah kuambilkan air panas untuk mencuci muka? Atau perlu aku buatkan nasi goreng super pedas sebagai sarapan?"


Emilia benci Samuel.


Karena dia pasti tahu Nina akan mengganggu Emilia, namun dia tetap bicara di sana jadi Emilia harus sakit telinga.


Tapi Emilia belum menganggap Nina sebagai musuh. Jadi ia bangkit begitu saja, masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih.


Harap-harap begitu keluar mereka berdua sudah pergi, ternyata yang pergi cuma Samuel.


"Aku dengar Idrus menamparmu kemarin karena sikapmu." Gadis itu menatapnya penuh kebencian. "Jika kamu tidak ingin ditampar oleh orang yang lebih gila lagi, perbaiki sikapmu dan ketahui tempatmu! Samuel mungkin bersikap baik, tapi itu bukan karena dia peduli! Mengerti?!"

__ADS_1


Tidak.


Bukankah dia yang harusnya mengerti tempat dia di mana?


"Jika aku melihat matamu menatapku seperti itu lagi, akan kugantikan Idrus menamparmu berulang kali! Dasar pengemis!"


Emilia menatap kepergian gadis itu dalam keheningan.


Mata dia yang penuh kebencian mengingatkan Emilia pada seseorang.


"Karena itulah kamu kesepian! Lakukan saja itu terus! Abaikan orang-orang dan bersikap seakan dunia milikmu saja! Dasar perawan tidak laku!"


Sulit mengerti kenapa mereka semua melakukan itu.


Dulu, ada masa-masa di mana Emilia juga naif dan bertanya-tanya alasan apa sebenarnya yang dimiliki orang seperti mereka.


Lalu Mahesa berkata, "Mereka ingin kamu merespons."


"Mereka membenciku karena mereka ingin aku peduli pada mereka?"


"Emil, dengarkan aku. Saat manusia mendapatkan pengabaian, mereka memberontak oleh rasa frustrasi kekalahan. Keanggunan sejati adalah ketika kamu membiarkan mereka menari untuk kamu tanpa kamu minta, lalu kamu mengabaikan mereka karena memang kamu tidak meminta. Bukankah normalnya memang mereka harus terluka?"


Seiring wakti baru Emilia memahami apa maknanya secara mendalam.


Orang-orang ini ... merasa diri mereka cukup tinggi untuk dipedulikan, jadi ketika Emilia abai, mereka merasa direndahkan.


Tapi bagi Emilia itu adalah kewajaran.


Sebab ... memang mereka tidak bernilai.


"Aku bukan pengemis," balas Emilia ketika kamarnya telah kosong dari seseorang.


Gadis itu kasihan sekali karena mau diperhatikan. Makanya Emilia bermurah hati. Walau jika kedua kali dia mengatakan hal sama, Emilia akan melihatnya.


Hanya ada dua orang yang Emilia lihat dalam hidupnya.

__ADS_1


Mahesa ... dan musuhnya.


*


__ADS_2