Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
29. Taman Bunga


__ADS_3

Jika ditanya apakah Emilia bersedih atau tidak, maka jawabannya tidak.


Apa yang harus ia rasakan pada orang yang tidak pernah sekalipun ia lihat, fotonya tak pernah ia pandang, keberadaannya tak pernah ia rasakan?


Tidak ada.


Bagi Emilia, Erwin Nugraha dan istrinya hanya mitos. Walau ada masa di mana Emilia berharap mereka masih hidup, pada akhirnya mereka orang asing.


"Mereka tenggelam di laut." Emilia justru lebih peduli pads reaksi Samuel.


Apa dia langsung berpikir tentang Erwin Nugraha yang mati berkat Argantana? Tapi mata Samuel justru tertuju lurus padanya.


"Apa keduanya?"


Apa itu? Bukankah seharusnya dia curiga?


"Ya."


"Maafkan aku, Ema." Samuel tiba-tiba menyentuh lengannya. "Aku bersyukur membawamu bersamaku. Untuk sekarang maafkan aku karena beberapa orang di sekitarmu bersikap menyebalkan, tapi lama-kelamaan mereka akan terbiasa."


Hah?


Emilia merasakan gejolak tak nyaman yang mengancam. Ia menatap tajam mata Samuel untuk tahu apa lagi niatnya mengatakan hal konyol itu.


Tapi melihat dia seolah yakin dia mengatakan hal benar, Emilia langsung menarik tangannya jijik.


"Jika sudah selesai, aku akan naik."


"Kamu tidak makan?"


"Aku lebih suka makan sendiri dan mengambil makananku sendiri." Ia harus menekankan itu agar dia berhenti memberi sesuatu hanya untuk Emilia buang.

__ADS_1


Bergegas Emilia naik, ingin masuk ke kamar tidurnya agar bisa berdiam damai jika lagi-lagi ia tak diganggu orang. Setelah Samuel, sekarang Rowan.


"Bisakah aku minta bantuanmu?"


Aku tidak suka membantu orang lain. Emilia menghela napas samar, mengikuti Rowan untuk membantunya.


Ternyata bantuan yang dia minta adalah memangkas bunga-bunga di taman belakang dekat tempat dia memanah. Emilia mau bertanya kenapa dia tka menyuruh pelayan, tapi daripada repot, ia memutuskan diam.


"Kamu bisa memangkasnya dengan rapi, kan?"


Haruskah ia bilang tidak?


Emilia melirik bunga-bunga di taman itu. Pada akhirnya mengangguk, karena kalau harus jujur, Emilia suka bunga.


...*...


Rowan memang sengaja mengajak Ema menemaninya meski biasa mengerjakan ini sendiri.


Tidak ia sangka Ema cukup mahir.


Gesturnya aneh. Rowan diam-diam memerhatikan dia dari belakang. Mungkin aneh mengatakannya, tapi dia ... terlihat terlalu elegan untuk seorang gadis desa biasa.


Dari samping Rowan melihat, ia teringat pada sosok ibunya yang merawat bunga-bunga itu sambil sesekali menciumnya.


Apa karena itu Paman menaruh perhatian pada Ema?


"Kamu menyukai bunga?" Rowan iseng bertanya.


Dan diluar dugaan, Ema menjawab, "Lumayan."


Rowan menoleh. "Ibuku berkata tanah di desa bagus untuk tanaman. Ibuku juga berasal dari desa."

__ADS_1


Lebih mengejutkan, Ema menoleh padanya juga. "Bunga apa yang Ibumu suka?"


".... Bunga anggrek."


"Itu bunga yabg sederhana tapi menawan."


Rowan mau tak mau tersenyum. "Ibuku wanita yang cantik. Sangat cantik. Karena itu aku selalu berpikir anggrek memang melambangkan diri Ibu."


...*...


Ternyata dia bisa tersenyum juga.


Emilia tidak tahu siapa ibunya Rowan karena wanita itu meninggal sudah cukup lama. Meski terlihat cuek dan tidak pedulian, nampaknya anak ini peduli pada ibunya sampai sekarang.


Perasaan yang tidak dapat Emilia pahami.


Ibu. Sosok yang baginya hanya mitos.


"Seperti apa ibumu, Ema?"


Itu bukan pertanyaan normal dari seorang tuan muda pada pembantu.


"Hanya wanita biasa." Emilia berusaha mencari seseorang yang cocok untuk ia deskripsikan sebagai ibu. Terlintas di benaknya sosok Harsa, maka ia pun menjelaskan sesuai karakter Harsa. "Dia agak menyebalkan dan suka berteriak. Tapi sebenarnya dia hanya suka diperhatikan."


".... Ibumu penyuka bunga?"


Aku bahkan tidak tahu seperti apa wajahnya, jadi bagaimana aku tahu dia penyuka bunga atau bukan? Ayahmu membunuhnya, lagipula.


"Mungkin saja." Emilia menatap kelopak mawar di hadapannya yang nampak akan mekar. "Orang desa tidak punya waktu memikirkan soal bunga."


*

__ADS_1


__ADS_2