
Emilia terlatih dari kecil untuk menyelesaikan secara tuntas semua pekerjaannya jika ia sudah menyentuh itu, jadi setelah pakaian Samuel dikeringkan dalam mesin cuci, Emilia duduk diam menunggu pakaian itu dijemur sekali lagi.
Tidak banyak yang bisa Emilia lakukan di rumah ini, jadi ia bisa sambil tidur telungkup di meja sampai pakaian Samuel bisa disetrika dan dilipat.
Di tengah tidur ringan itu, tiba-tiba seseorang masuk ke ruangan tersebut.
Emilia memutuskan tidak bergerak awalnya, tidak penting juga siapa, tapi orang itu ternyata menegurnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Itu Rowan Ahkam.
Sambil diam-diam menghela napas, Emilia akhirnya duduk, melihat pemuda itu ternyata membawa keranjang cucian juga.
Kebetulan sekali.
"Mencuci." Emilia sangat tahu bahwa jawaban itu sebenarnya tidak perlu diucapkan karena dia sudah tahu ini tempat mencuci baju.
Rowan menghela napas mendengarnya. "Aku bertanya kenapa kamu tidur di sini. Aku tidak mendengar suara mesin, berarti kamu tidak mencuci."
Kenapa dia banyak tanya sekali?
Emilia menunjuk arah jemuran di mana baju Samuel sedang diterpa cahaya matahari.
"Kamu menunggu jemuran kering? Aku penasaran kamu itu bodoh atau terlalu rajin. Tinggalkan saja dan kembali nanti."
Emilia lebih penasaran kenapa dia sibuk mengurusi urusannya.
Pemuda itu sejenak pergi ke deretan mesin cuci yang kosong. Dia membuka salah satu kotaknya, memasukkan sejumlah pakaian ke sana.
Emilia memerhatikan Rowan memasukkan beberapa hal setelah itu, sama seperti yang Samuel ajarkan, lalu menutup dan mulai mencuci.
Kenapa tuan muda ini tidak menyuruh pelayan saja?
Belum terjawab tanya itu, Rowan datang, menarik kursi tak jauh dari Emilia untuk ikut duduk.
Bukannya tadi dia bilang tinggalkan saja?
"Aku bisa mencuci pakaianmu jika mau." Emilia berharap dia pergi. "Tinggalkan saja. Akan kusetrika juga."
__ADS_1
Rowan baru saja mengeluarkan ponsel dari sakunya dan melirik Emilia sekilas. "Baiklah. Besok datang ke kamarku untuk mengambil cucian. Tapi aku sendiri yang mencuci pakaian dalamku, jadi terima kasih."
Begitu, kah?
Anak ini sebenarnya menarik. Hawa keberadaan dia lebih menyerupai Samuel daripada anak Ahkam yang Emilia lihat sejauh ini.
Emilia bisa berkata dengan yakin bahwa Rowan tidak punya kesombongan yang menyedihkan.
Dia punya aura khas raja yang bijaksana. Emilia jadi penasaran melihat seperti apa sosok Argantana, tapi dari laporan yang Emilia terima, Argantana Ahkam adalah pria angkuh nan serakah.
Yah, mungkin karena Rowan punya ibu orang desa, jadi dia sempat diajari merendah sebelum ibunya mati.
"Wajahmu masih memerah. Kamu sudah mengobatinya?"
Emilia hanya menatap tenang.
Kenapa yah ... orang-orang ini memperlakukannya seperti Emilia ulat yang bisa mati jika diinjak?
Padahal yang ulat itu mereka.
Emilia tidak pernah ditampar seumur hidup, tapi ia sudah membalas itu dengan mengirim pemilik tangannya ke neraka.
Senior melihatku sebagai manusia. Aku sudah bilang baik-baik saja, mereka terus bertanya seakan aku bisa mati. Memuakkan.
"Jangan diam saja." Rowan meletakkan ponselnya. "Aku mendengar kakakmu baru saja meninggal dan kamu sebenarnya bukan pelayan yang dilatih, jadi aku mengerti kamu mungkin tidak paham bagaimana seorang pelayan profesional bersikap. Tapi setidaknya jangan diam saja saat seseorang bicara padamu. Itu akan membuatmu tertindas."
Emilia tersenyum kecil. "Tidak apa."
Karena itu adalah batas.
Ketika mereka melangkahinya, mereka akan tertelan.
Itu adalah kebaikan hati Emilia yang tersisa. Memberi mereka alasan untuk mati di tangannya.
*
Dia tersenyum.
Rowan tidak menyangka bahwa dia bisa tersenyum saking datarnya ekspresi kemarin-kemarin. Tapi kemudian dia kembali seperti biasa, tenang menunggu dalam diam.
__ADS_1
Sebenarnya Rowan tidak punya sesuatu untuk dibicarakan, dan ia ingin diam.
Hanya ... dia membuat kasihan.
"Mainkan ponselmu untuk menghabiskan waktu."
"Tidak punya."
Rowan terkejut bahwa ia terkejut dengan perkataan seseorang.
Apa tadi katanya?
"Kamu tidak punya ponsel?"
Gadis itu menggeleng sangat tidak peduli.
"Apa di desa tidak ada ponsel?"
"Ada. Uangku tidak ada."
Apa yang ....
Rowan mengatupkan mulut, syok sebenarnya.
Sebagai anak yang dari lahir sudah berdiam dalam istana ini, Rowan kadang-kadang harus ganti ponsel dua bulan sekali karena bosan. Dan ternyata ada di belahan bumi ini, manusia di depannya, tidak punya ponsel karena tidak punya uang?
Tentu saja Rowan bukan menghina. Namun ia tak tahu rasanya tidak punya uang untuk membeli sesuatu.
Ia hanya bisa tahu bahwa orang tidak punya orang membuat perusahaan, karena memang harus modal banyak. Kalau cuma handphone, itu kan ....
Sudahlah.
Rowan menghela napas kesal. Tidak terlalu suka bagaimana dirinya jadi terlalu peduli pada hal kecil.
"Paman akan membelikan untukmu kalau kamu ingin. Daripada terus berdiam diri, bukankah tidak ada salahnya kamu punya ponsel?"
"Tidak butuh."
*
__ADS_1