
"Aku tahu dia marah." Samuel terus berjalan memutari ruangannya sendiri. "Aku seharusnya membunuh Rangga untuk dia. Tapi Mahesa sialan itu menghentikanku. Sekarang Emilia marah. Aku harus membujuknya dengan apa? Dia tidak peduli pada apa pun kecuali Ahkam!"
Napas Samuel berembus berat. Meski begitu, dengan cepat kewarasan menghampirinya juga.
Pria itu menarik kursi, duduk tenang, mengusap wajahnya sambil terus mengatur napas.
"Aku berbuat konyol. Lupakan saja."
Keduanya masih diam.
"Apa yang salah?" tanya Samuel lagi.
Kali ini, jelas untuk mereka berdua.
Sebenarnya tak biasa bagi mereka, seorang Samuel Ahkam bertanya mengenai perasaan wanita. Tapi karena Samuel bukanlah atasan yang bisa diajak bercanda, mereka berdua tahu harus menjawab ringkas.
"Mungkin Anda terlalu agresif." Riu menjawab.
"Aku berusaha merayunya secara halus."
"Bos dan Nona Muda memiliki persamaan watak." Ryo menambahkan. "Perasaan menggebu-gebu dari seseorang mengganggu Anda. Mungkin Nona juga sama."
Samuel terdiam. Ia jelas langsung mengingat Nina, mengingat Soraya, Seline, dan semua gadis yang menyimpan rasa pada Samuel terlepas dari siapa mereka.
Memang benar. Samuel benci ketika gadis bertindak agresif padanya.
"Gadis-gadis suka saat pria menunjukkan cinta yang berlebihan, itu yang kudengar."
Ryo dan Riu sejujurnya berpikir bahwa Samuel sangat konyol. Tapi mereka tidak bisa mencegah saat kini dia dikuasai perasaannya pada Emilia.
__ADS_1
"Itu berlaku saat gadis itu menyukai Anda, Bos."
Samuel mengacak rambutnya kasar. Sama saja Riu berkata Emilia tidak pernah menyukainya.
"Lalu ...." Samuel menarik napas. "Lalu bagaimana agar dia menyukaiku?"
...*...
"Aku tidak menyangka akan melihatmu lagi."
Emilia tidak dapat melihat pemilik suara itu, tapi ia mengenalnya. Dia Dwi, barista yang waktu itu meracik minuman untuk Emilia.
Waktu itu, Emilia memang menanyakan sebuah tempat terpencil yang Dwi tahu. Walau dia ternyata tidak percaya sampai melihat Emilia turun dari helikopter.
"Aku sudah mendengarnya. Mahesa Mahardika membayarku untuk menjagamu."
Emilia meraba-raba sekitaran sampai tangannya menyentuh Dwi. Kegelapan ini membuat Emilia harus menyentuh untuk 'melihat'.
"Kalau begitu, aku akan melihat tempat tinggal kita." Suara Nine terdengar di belakangnya. "Nikmati waktumu, Emilia."
"Ya."
Suara-suara di sekitaran memberitahu Emilia, mereka berada di dekat tebing. Suara ombak menbentur karang terdengar jelas. Aroma matahari dan angin asin lautan juga tercium.
"Aku tidak percaya wajahmu muncul di berita," kata Dwi lagi. "Sempat muncul berita bahwa kamu membunuh Soraya dan Rowan."
"Kamu percaya?"
Dwi mungkin sedang tersenyum. "Aku tidak akan bertanya."
__ADS_1
Itu lebih baik. Bagi orang-orang di luar sana, mereka yang membunuh lalu ditahan oleh kepolisian hanyalah mereka yang membunuh atas kesenangan.
Emilia tidak. Ia membunuh dengan melibatkan unsur politik, uang dan kekuasaan. Media tidak boleh seenaknya meliput itu, karenanya tidak perlu ada yang tahu siapa pembunuh mereka.
"Ada tempat yang ingin kamu singgahi?"
"Aku ingin membuat makam."
"Makam?"
Emilia mengangguk. "Tempat yang hanya bisa didatangi olehku."
"Jalannya akan rumit. Pegang tanganku erat-erat."
Nampaknya itu berada di tebing-tebing, karena suara onbak terdengar keras. Emilia harus berjalan hati-hati sebab tak dapat melihat apa pun, dan hanya mengandalkan tuntunan Dwi.
Meski lokasinya dekat, butuh waktu lebih dari sepuluh menit untuk tiba karena Emilia.
"Ada tanah kosong di sini. Anak-anak dilarang mendekat karena cerita angker sekitaran. Kurasa cocok jadi tempat menyendiri."
Emilia hati-hati berlutut. Ia tak menyuruh Dwi membantunya untuk menggali tanah yang setengah basah. Digali cukup dalam tanah itu, lalu mengeluarkan potongan foto Rowan yang telah ia minta dari Nine sebelum berangkat.
"Butuh bantuan untuk tanganmu?"
"Tidak. Ini hanya tanah." Emilia menutup makam kecil buatannya itu. "Pergilah dulu. Jemput aku setelah satu atau dua jam lagi."
"Baiklah." Dwi menghela napas. "Tapi jangan beranjak. Tepat di sampingmu tebing tinggi."
"Ya."
__ADS_1
...*...