
"Halo, Emilia."
Suara wanita dewasa. Usianya mungkin sekitar empat puluh tahun lebih, mungkin mendekati lima puluh. Emilia semakin sensitif pada suara sejak matanya hanya melihat kegelapan, jadi secara naluriah ia belajar menganalisis segalanya.
Aroma lavender yang elegan. Suara rendah yang bijaksana. Jangan bilang .... "Anda ibunya Samuel?"
Wanita itu tertawa samar. "Kamu secerdas yang Sam ceritakan."
Emilia berusaha keras tidak menghela napas. Tangannya mendadak dingin. Ia sudah sangat gugup menghadapi Samuel, sekarang harus ibunya?
"Boleh saya menyentuhmu?"
Sebenarnya Emilia mau berkata tidak, tapi entah kenapa ia tak bisa. "Tentu."
Tangan halus itu menyentuhnya. "Tanganmu kasar. Kamu pasti pekerja keras. Bagaimana menurutmu?"
"Anda juga." Emilia bisa merasakan sisi kiri jari tengah wanita ini kapalan. Dia pasti sangat suka menulis dengan pena. "Anda suka menjahit manual?"
Meski tak melihat, Emilia merasakan dia mengangguk. "Kamu juga?"
Tidak banyak yang bisa Emilia lakukan selama hidupnya. Berbeda dari anak yang punya waktu pergi ke sekolah, pergi bermain dan membeli gadget di usia remaja, Emilia hanya bekerja lalu duduk diam di kamarnya.
Ia mahir menggunakan tangan. Termasuk menjahit.
"Duduklah, Emilia."
Emilia membiarkan dirinya dituntun duduk ke kursi asing. Agak meringis karena perih saat ia duduk.
"Samuel menceritakan semuanya tentangmu. Termasuk kamu pergi ke tempat ini karena menolak dia."
__ADS_1
Mulut Emilia kelu. "Anda keberatan?"
"Ya, normalnya. Siapa yang bisa menolak putra saya? Tapi saya juga dengar kamu menolak dia karena Mahesa. Apa boleh buat."
"Anda mengenal Senior?"
"Saya mengenalnya sejak anak itu masih menggemaskan dan terlihat tidak mungkin memiliki segalanya, seperti sekarang." Ibunya Samuel mengusap-usap tangan Emilia tanpa alasan. "Kamu tahu apa yang pertama kali dia katakan?"
"Apa?"
"Dia berkata, 'Bibi, ayo berjudi'."
Emilia tak bisa tidak tertawa. "Senior sering melakukannya. Untuk mengalah lalu menang di akhir."
"Tidak, saat itu. Dia mengalahkan saya sejak awal."
"Apa yang Bibi pertaruhkan?"
Emilia terheyak. "Senior memintanya?"
"Ya. Dia berkata dia akan memenangkan taruhan, dan dia akan merawat Samuel. Sejujurnya saat itu saya putus asa, juga kebingungan. Jadi saya berkata ya, lakukan saja, asal dia menjaga Samuel seperti adiknya sendiri. Jika Mahesa bersama Samuel, maka Surya tidak bisa seenaknya menyentuh Samuel."
"...."
"Anak itu istimewa, Emilia. Saya menganggap Samuel yang terbaik, sebagai ibunya, tapi Mahesa membuat saya mengalah. Saya merasa jika ada satu orang di atas Samuel, maka itu dia."
Jelas Emilia mengangguk. "Senior memang luar biasa."
"Saya berterima kasih pada Mahesa karena membesarkan Samuel, terlepas dari bagaimana anak nakal itu tumbuh sekarang."
__ADS_1
Ada sesuatu yang membuat Emilia tak nyaman ketika ibunya Samuel meremas tangannya.
"Ada sesuatu yang saya minta dari Mahesa tapi tidak bisa dia lakukan. Kamu ingin tahu?" kata dia tiba-tiba.
"Apa?" Tidak wajar rasanya bagi Emilia mendengar Mahesa gagal.
"Saya berharap Mahesa mengajari Sam peduli pada orang lain."
Emilia menelan ludah.
"Anak itu tidak bisa. Mahesa memberitahu saya, bahwa meskipun dia mengarahkan Samuel, anak itu lebih menyukai dirinya yang tidak peduli. Mungkin karena status yang dia miliki. Tidak mudah hidup dalam keluarga yang mengemban tanggung jawab."
"Anda kecewa?" Hanya itu yang bisa Emilia balaskan.
"Sedikit. Tapi saya berharap. Sampai saya melihat dia bersamamu malam ini."
Haruskah Emilia bilang ia harus ke kamar mandi? Keringatnya mulai bercucuran.
"Dia peduli padamu. Itu membuat saya lega."
Aku palpitasi lagi. Emilia merasakan detak jantungnya melonjak. Tekanan darahnya mungkin naik lagi.
"Kamu mirip dengan Sam. Tidak menyukai ada perubahan dalam dirimu atau sekitaranmu, karena takut itu menghancurkan."
Tangan halus itu menyentuh wajah Emilia baik-baik.
"Saya juga wanita kesepian, Emilia. Jadi jangan takut. Saya dan kamu tidak akan jadi wanita kesepian lagi saat bersama, benar?"
Emilia menggeleng. Tapi tangannya meremas tangan ibu Samuel. Mulutnya kering. Napasnya bersekat. Ia merasa harus bertemu Mahesa sekarang juga.
__ADS_1
Rowan.
...*...