
Samuel sudah yakin bahwa Ema pasti akan bosan dibawa ke tempat seperti ini. Sejujurnya ia pun bosan.
Tidak banyak waktu untuk Samuel memerhatikan Ema, karena ia harus berpura-pura menjadi Samuel Ahkam yang orang lain inginkan. Samuel diundang untuk mengisi acara dengan nyanyian, tapi waktu lebih banyak habis dengan berbincang dan membahas hal tidak penting.
Kadang-kadang Samuel melihat ke arah Ema, entah harus geli atau kasihan melihat dia duduk lemas tak jauh dari panggung, memegangi tas kosong yang Samuel titipkan padanya sebagai penegas dia asisten.
Malam hari Samuel selesai dengan semua acara, dirinya baru ingat bahwa Ema sama sekali belum makan.
Terburu-buru Samuel pergi, mencari roti yang setidaknya bisa dijadikan pengganjal perut.
"Ema."
Gadis itu mendongak, lalu berdiri seolah dia tidak sedang sakit. "Selesai?"
"Ya." Samuel tak tahu kenapa ia tersentil dengan wajah lemah itu. Agak ragu, ia mengulurkan roti ke tangannya. "Makanlah ini. Pengganjal sebelum kamu makan di penginapan."
"Aku tidak lapar."
"Tapi—"
"Jangan khawatirkan aku di depan orang lain. Bukankah itu buruk bagi reputasimu?"
Samuel menelan ludah. Nona berhati batu ini masih saja batu.
"Baiklah. Ayo pergi."
"Temanmu?"
"Mereka tahu mengurus diri mereka sendiri. Akupun sudah lelah dan ingin tidur."
Tanpa menjawab, dia berjalan, dan tidak sedikitpun memedulikan roti yang Samuel pegang.
__ADS_1
*
Dingin juga.
Emilia harus bilang bahwa ini pertama kali dirinya pergi ke pantai. Mereka berjalan di pesisir tanpa banyak bersuara satu sama lain.
Dapat Emilia rasakan bahwa kakinya mulai gemetaran, pertanda tubuhnya sudah sangat lemah dan butuh asupan.
Tidak heran Samuel menatapnya lekat-lekat sekarang.
Angin kencang berbau asin laut berembus menerbangkan rambut Emilia. Ia memeluk dirinya sendiri, berusaha terus berjalan setidaknya sampai di penginapan.
"Aku merasa berbuat salah padamu," ucap Samuel tiba-tiba. "Aku ingin membalas kebaikanmu namun malah membuatmu terlihat ingin pulang ke desa itu lagi."
Ternyata dia pintar juga membaca isi hati orang. Kalau bukan karena Mahesa, Emilia tidak sudi bertahan di sini dengan pria asing ini.
"Ema, kamu membenciku?"
Saat dia terdiam, Emilia hanya berjalan.
*
Iya.
Iya, katanya.
Samuel sebenarnya sudah tahu bahwa Emilia paling tidak memang tidak suka pada Samuel. Namun mendengar langsung dia berkata iya, bahkan sampai menoleh untuk meyakinkan benar-benar bahwa dia serius, itu agak ... mengejutkan.
Tidak berarti Samuel merasa dia harus suka. Hanya saja, Samuel lebih sering menghadapi rasa suka seorang gadis daripada kebencian yang penuh keyakinan begitu.
Menarik.
__ADS_1
Agak lucu dan unik.
Karena dia sakit, Samuel tidak terlalu banyak lagi mengganggunya. Menunjukkan di mana mereka akan menginap, lalu pergi mengambil kursi yang memang sudah ia pesan agar sekitarnya kosong.
Untuk kedua kali mungkin, Samuel melihat Emilia makan. Tangannya agak gemetaran, sebuah reaksi normal dari tubuh manusia yang kelaparan.
Sudah Samuel duga.
Dia tidak memakan makanan yang Samuel berikan.
Tidak mungkin dia bisa terlihat selemah dan sekurus itu cuma karena terlambat makan sehari. Segitu bencinya sampai tidak makan apa pun yang Samuel berikan?
"Kita akan tinggal di sini selama dua hari kedepan. Besok aku tidak ada kegiatan, tapi lusa nanti aku akan hadir di live music klub temanku. Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di penginapan, jadi mau tidak mau aku harus mengajakmu bersama kami."
"Lakukan sesukamu."
Selepas makan, Ema bahkan tidak menatap Samuel. Gadis itu beranjak, lebih memilih bertanya pada petugas penginapan kamar mana tempat dia harus tidur.
Dia meninggalkan Samuel.
Lepas kepergian Ema, Samuel hanya diam. Menatap bekas tempat duduk Ema yang rasanya masih menyisakan aura dingin.
Pikiran Samuel lama-lama dikuasai oleh sosok ibunya.
Kematian idrus dan Seline membuat Ibu gelisah. Padahal Ibu tahu bahwa Samuel tidak akan semudah itu dijatuhkan oleh Argantana.
Ia bertahan sejauh ini. Ia telah berusaha sampai ke titik ini.
Samuel mengembuskan napas pelan. Memutuskan untuk beranjak juga karena melelahkan harus berpura-pura setiap saat.
*
__ADS_1