
Dwi pergi, menyisakan hening untuk Emilia sendiri.
Gadis itu duduk di tanah dekat makam ia mengubur foto Rowan. Meraba-raba cincin di tangannya, lalu mengusap benda itu lembut.
"Aku sekarang memahami perasaanmu," gumam Emilia, pada Rowan yang ia bayangkan mendengarnya. "Kamu memilih mati karena tidak ingin bersama Ahkam."
Mungkin, Rowan sendiri memahami perasaan Emilia, walau mungkin juga tidak.
Sampai sekarang Emilia masih tak tahu harus merasakan apa tiap kali terlintas pikiran, Ahkam sudah musnah.
Kini Emilia sendirian. Sejak ia lahir sampai sekarang, tujuan hidup Emilia hanya satu. Hanya memuaskan keinginan Mahesa, diakui olehnya.
Tapi sekarang Mahesa sudah menjual Emilia pada Samuel. Secara singkat dia tak lagi mengurusi apa pun yang Emilia lakukan, atau sehebat apa pun Emilia bertindak.
Keluarga Nugraha tak mengenalnya, dan Emilia tak mau mengenali mereka. Ahkam juga sudah selesai, sementara Emilia di sini, sendirian.
"Kamu lebih memahami kehidupan daripada aku." Emilia menoleh seakan Rowan duduk di sebelahnya. "Aku mungkin tidak memahami apa-apa."
Apa yang harus Emilia lakukan sekarang? Ia mungkin hidup damai, tapi ia juga hidup tanpa tujuan.
Mahesa mengatur kekayaannya, jadi Emilia tidak perlu bekerja. Ia tak punya seseorang juga.
Emilia sendirian. Selalu.
*
Samuel melirik jam tangannya gugup. Perasaan Samuel sedikit buruk walau bukan dalam artian negatif. Terlebih ketika pintu gerbang terbuka, sebuah van mewah berbelok masuk ke mansion miliknya pribadi.
Langkah Samuel terburu-buru menghampiri mobil itu. Membuka pintunya untuk seorang wanita berpakaian formal.
"Ma."
Wanita itu keluar. Menatap Samuel beberapa lama sebelum akhirnya membuka tangan, memberi pelukan pada Samuel.
__ADS_1
Rasanya sesuatu di dada Samuel porak-poranda. Tapi sekali lagi bukan karena ia merasa negatif.
Ini hanya ... sudah lama.
Sudah sangat lama.
Ibunya harus bersembunyi di negeri orang, berlindung dibalik kekuasaan Mahesa agar Argantana dan Suryanata tidak menemukannya, menggunakannya sebagai alat tekan pada Samuel.
"Mama tidak menyangka kamu melakukan ini." Seo Jinah, sang Mama mengusap rambut Samuel. "Mama sudah bilang cukup jaga dirimu."
Samuel mengubur wajahnya di perpotongan leher Mama. Hanya ingin diam, bernapas di antara aroma seorang ibu.
"Tapi terima kasih." Mama melingkarkan tangan ke punggungnya. "Terima kasih menepati janjimu."
Ya, Samuel selalu berjanji suatu saat ia akan membawa ibunya pulang tanpa harus takut oleh Argantana ataupun Suryanata.
"Kamu baik-baik saja, Sam?"
Samuel menggeleng. Ia berusaha bertahan dalam cengkraman Ahkam meski harus mengandalkan Mahesa. Tidak ada siapa pun yang bisa ia percaya selain ibunya, tapi wanita itu harus jauh dan hanya menghubungi Samuel lewat surat singkat sekali dalam dua atau tiga bulan.
Baru saat itu Samuel menjauh. "Emilia pergi."
"Emilia? Bukan Ema?"
"Mahesa tidak memberitahu Mama?"
Mama menggeleng. "Istrinya yang menjemput Mama."
"Kalau begitu, masuklah. Akan kujelaskan di dalam."
Tidak ada yang tidak Mama ketahui tentang Samuel, kecuali beberapa hal tergelap. Karena itu Samuel berterus terang mengenai identitas Emilia, juga tentang hubungan Emilia dan Mahesa, juga kenyataan Emilia meninggalkannya.
"Kamu mencintai dia?"
__ADS_1
"Tidak." Samuel mencium tangan ibunya dan tersenyum. "Aku ingin mengurung dia sebagai peliharaanku."
Mama tertawa kecil. "Kamu tidak pandai mengekspresikan diri, sejak dulu. Tidak heran dia lari."
"Apa menurut Mama aku tidak bisa memiliki Emilia?"
"Tidak ada wanita yang tidak bisa dimiliki. Kuncinya hanya hatinya."
"Dia memberikannya pada Mahesa." Samuel mendesah lesu. "Lalu tertolak dan masih menyukai Mahesa."
"Mama juga menyukai Mahesa."
"Ma, c'mon."
"Mahesa memiliki pesona tersendiri. Hal yang belum pernah Mama lihat dari anak mana pun." Mama membelai kepalanya seolah tengah menghibur Samuel. "Sejauh ini, ada dua jenis gadis yang menyukai dia."
"Yang ingin kaya dan yang ingin tenar?"
"Gadis yang memiliki loyalitas dan gadis yang tidak memandang apa pun kecuali dirinya sendiri." Mama meremas tangannya. Tersenyum tenang hingga mau tak mau Samuel. tenang. "Jika Emilia bukan gadis egois yang memandang Mahesa hanya sebatas manusia kaya, tampan dan bisa dipamerkan, maka dia gadis yang memiliki loyalitas. Dan loyalitas, Samuel, hanya bisa diraih dari pengakuan."
"Aku mengakui perasaanku."
Mama langsung mendengkus. Seolah tak ada harapan hanya dari jawaban Samuel.
"Apa dia tahu Mahesa menginginkan perang dunia terjadi?"
"Kurasa?"
"Lalu apa yang dia tahu tentangmu?"
Tidak ada, pikir Samuel spontan. Terpaku pada ibunya yang tertawa kecil.
"Make her know."
__ADS_1
*