Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
42. Satu Minggu Lagi


__ADS_3

Emilia nyaris meremukkan kecoak yang tiba-tiba hinggap di lengannya jika tak sadar struktur tubuh hewan itu terlalu keras. Spontan saja Emilia mengambil kacamata, melihat itu ternyata robot kecil.


"Ya, Emilia."


Kening Emilia langsung berkerut. "Senior?"


"Apa aku terdengar seperti dia?"


"Lalu?"


"Anjing penjagamu, bisa dibilang."


Pihak intelejen, kah? Kenapa mereka mengirim ini? "Ada apa?"


"Seniormu meminta kamu bergerak lebih cepat."


Emilia terdiam. Ia langsung mengerutkan kening dalam-dalam, sebab sejauh ini yang ia lihat dari Samuel benar-benar cuma sikap santai dan tidak peduli. Belum ada celah.


Namun pantang bagi Emilia membantah Mahesa.


"Beri aku seminggu."


"Maka itu baik."


"Lalu?"


"Kami akan bergerak lebih agresif di belakangmu. Jadi tidak menutup kemungkinan kamu tetap mendapat masalah."


"Aku baik-baik saja." Emilia meremukkan robot itu, membuangnya ke kloset segera.


Kematian Rowan. Seminggu lagi, bagaimanapun caranya dia harus mati dan Argantana memanas. Bagaimana cara memancing hal itu terjadi?


...*...


Meski kemarin terjadi keributan besar dan menyeret banyak orang, pagi ini lagi-lagi seperti tidak terjadi sesuatu. Tentu saja, Emilia menemukan banyak tatapan dari pelayan lain.


Sudah terlibat skandal jadi kekasih gelap Samuel, dicurigai sebagai dalang penyebar foto dan sebagainya, Emilia masih tenang-tenang saja.


Ia tahu isi kepala mereka. Dan ia tak peduli.


"Ema."

__ADS_1


Setidakpeduli Samuel terhadap mereka.


"Buatkan aku kopi. Tambahkan manisnya."


Emilia menyajikan kopi untuk Samuel. Tapi ketika ia meletakkan, Samuel dengan sengaja menyentuh tangannya.


"Ema." Samuel bersuara lembut hingga hanya Emilia yang mendengar. "Kamu tidak ingin duduk?"


Lihat. Orang ini, saat organisasinya kacau, saat keluarganya kacau, saat reputasinya sendiri kacau, dia justru lebih peduli merayu daripada melakukan sesuatu.


Aku tidak menyalahkan dia karena pada akhirnya aku dan dia sama, tapi tetap saja dia menyebalkan.


"Aku akan makan nanti." Emilia menarik tangannya samar. "Jika sudah, aku pergi. Pakaian Rowan belum kuambil."


"Ema—"


Emilia sudah berlalu duluan, pergi melakukan pekerjaannya. Ia berniat mengambil pakaian Rowan untuk dicuci. Walau di antaranya Emilia ingat bahwa Rowan adalah ******* permainan.


Bagaimana ia memancing anak itu sebenarnya?


Emilia mengerjakan tugasnya dalam diam. Ketika ia berdiri di dekat jendela menyaksikan pemandangan taman, tak sengaja justru ia melihat Rowan tengah memanah.


Rowan berbalik sewaktu mendengar suara Emilia.


"Ini hobiku."


"Hmm."


Rowan diam, tapi kemudian mendatangi Emilia yang membawa camilan buah dan segelas air dingin. "Terima kasih," ucapnya, meski sadar Emilia biasanya tidak bergerak tanpa perintah. "Apa ada sesuatu yang terjadi?"


Pelan, Emilia menggeleng. Tapi ia sengaja membuat ekspresi seakan 'yah, hal biasa' hingga Rowan mungkin berspekulasi ada.


"Ingin duduk?"


Emilia mengangguk. Mengikuti Rowan duduk di bawah pohon. "Siapa yang mengajarimu memanah?"


Ada rasa terkejut di raut wajah Rowan sebelum dia menjawab tenang, "Ibuku."


"Ibumu?"


"Hm. Dia orang desa juga, sepertimu. Hanya, bedanya ... dia ambisius dan agresif."

__ADS_1


"...."


"Bagaimana pendapatmu?"


"Mengenai?"


"Tuduhan mereka." Rowan tengah mengetesnya. "Aku yakin kamu bersih, tapi jika itu aku, aku akan terluka saat semua orang memperlakukanku demikian."


Jadi dia mau Emilia terluka karena dituduh? Masalahnya Emilia bukan merasa dituduh, karena ia memang pelaku. Jadi bagaimana caranya ia 'terluka'?


"Apa ada hasil yang berubah?"


"Maksudmu?"


"Apa jika aku berkata aku tidak melakukannya, maka mereka berhenti curiga?"


Rowan terdiam.


"Bagiku, jika kesimpulan sudah dibuat, mau itu benar atau tidak, seseorang akan meyakininya. Aku pun begitu. Jadi apa yang salah?"


".... Kudengar kamu tidak sekolah. Tidak mengenyam pendidikan. Mungkin agak kasar bagimu, tapi kepintaran seseorang tercermin dari reaksinya. Jadi—"


"Aku tidak pernah berkata aku orang bodoh dari desa."


Rowan mengerjap kaget. "Aku tidak—"


"Aku memang tidak sekolah dan tidak mengenyam pendidikan." Emilia tersenyum. "Tapi otakku dan otakmu sama."


Nampaknya dia merasa bersalah. "Aku harusnya ingat ibuku pun sama."


"Tidak berpendidikan?"


"Ibuku hanya bersekolah sampai SMA. Sejujurnya dia menikahi ayahku karena kecantikan, bukan karena kepintaran." Rowan agak tertawa kecut. "Tapi, ibuku bukan orang bodoh. Dia belajar dari sekitarannya."


"...."


"Kurasa aku memahami kenapa Paman menyukaimu."


Emilia menoleh. Tidak menyangka Rowan akan mengungkapnya terang-terangan.


*

__ADS_1


__ADS_2