Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
46. Tidak Ada Yang Spesial


__ADS_3

Samuel tidak menyangka akan diberi kejutan semacam ini. Soraya bunuh diri. Menenggak racun setelah membaca serentetan kalimat menyakitkan dari sosial media yang menggosipkan dirinya menyukai Samuel.


Ketika sejumlah keluarga menangis menyalahkan mereka yang tidak bertindak cepat, Samuel melirik Rowan yang terdiam kosong memandangi adiknya.


Anak itu tidak bisa menyembunyikan duka dari wajahnya.


Karena situasi telah sangat serius, Samuel harus ikut dalam diskusi bersama Argantana dan Suryanata.


"Aku hanya akan mengatakan beberapa hal." Samuel memasang postur di depan dua orang yang merupakan musuhnya. "Hal paling utama, Oto tidak membunuh dengan racun."


Argantana dan Suryanata diam.


"Juga, aku tidak tahu bagaimana dengan kalian tapi membunuh Soraya tidak memberiku keuntungan. Kita bersama tahu."


"Menurutmu saya tidak tahu?" Suryanata membalasnya tenang.


"Entahlah. Tapi sepertinya Anda—maksudku, Ayah mencoba memanfaatkan kematian Soraya sebagai tekanan." Samuel tersenyum datar. "Oto milikku. Sekalipun kalian yang mati, tidak akan kuserahkan."


Tentu saja Samuel tidak melewatkan kekosongan pada ekspresi Argantana. Dia tidak mengira putrinya jadi korban. Dia tak peduli pada Seline, Idrus, atau orang-orang setelah mereka.


Argantana berpikir karena Rowan aman, maka otomatis Soraya aman.


Sejujurnya pikir Samuel juga begitu. Ia sempat menduga orang yang melakukannya menetapkan Argantana, berikut anak-anaknya adalah santapan terakhir.


"Berikan informasi tentang pelayanmu."

__ADS_1


"Kalian berdua masing-masing mengirim seseorang mencari latar belakangnya, aku begitu, Rowan pun begitu. Apa ada sesuatu yang berbeda dari dokumenku dan kalian?"


Samuel beranjak. Memutari meja itu, mengambil map yang sengaja diletakkan di sana saking seringnya dibuka.


Map itu Samuel letakkan di antara tangan Argantana dan Suryanata.


"Semua orang yang berada di daftar ini punya alasan sangat-sangat masuk akal, emosional dan tentu saja dapat dimengerti jika mereka membunuhi keluarga kalian. Kurasa sebelum melihat sesuatu seperti 'siapa pelakunya', lihat dulu siapa yang kalian 'ciptakan sebagai pelakunya'."


"Lalu kamu menyuruh saya merasa bersalah?"


Samuel tergelak. "Anda pasti bercanda, Ayah. Aku bisa membunuhmu sekarang tanpa rasa bersalah dan aku tidak akan marah jika kamu membunuhku sekarang, tanpa rasa bersalah. Begitulah kita."


Argantana menggebrak meja, meski tak keras.


Dia beranjak, menatap mata Samuel penuh emosi yang bergejolak. "Jika aku menemukan satu saja hubunganmu dengan semua ini, akan kucari ibumu. Berlindung di balik punggung Mahesa menurutmu berguna? Bayaranku lebih mahal."


Dia benar.


Mahesa Mahardika bisa dibilang gila uang—karena menjadi ******* berkedok patriot membutuhkan sangat banyak dana. Tapi Argantana adalah manusia kolot yang sudah hidup terlalu lama.


Uang ... bukan segalanya bagi Mahesa.


*


Samuel tidak peduli bagaimana Argantana menganggap ia punya campur tangan. Daripada itu, Samuel barusan melihat ekspresi Ema agak murung. Mungkin dia menganggap kali ini pun dia dijadikan sasaran.

__ADS_1


"Ema."


Gadis itu duduk di dekat jendelanya yang nyaris tak terbuka, melihat segaris sinar matahari mengenai tanah dalam pot bunga mawar pemberian Samuel.


Jelas saja Samuel senang karena Ema tetap menyimpan benda itu.


"Ema." Samuel mendekat ke sisinya. "Kamu baik-baik saja?"


Gadis itu melirik. "Kenapa aku tidak baik-baik saja?"


"Ema, dengar. Kali ini kamu tidak akan disalahkan atau dijadikan kambing hitam lagi. Kami sudah membuktikan kamu tidak melakukan apa-apa. Oke? Tolong jangan khawatir."


"Aku tidak khawatir."


"Aku menganggapnya begitu karena semua orang mencurigaimu."


"Kenapa?"


Samuel terdiam sesaat. Sebelum kemudian ia ikut duduk, memegang tangan Ema lembut. "Itu karenaku. Maafkan aku."


"Karenamu?" Ema hanya diam menatap tangan mereka. "Apa aku mengalami semuanya karenamu?"


"Ema—"


"Aku tidak mengerti mengapa. Apa ada sesuatu yang spesial darimu?"

__ADS_1


".... Tidak ada." Samuel menipiskan bibir. "Tidak ada yang spesial dariku."


*


__ADS_2