
Anak kecil pasti juga tahu itu pertanyaan sederhana. Anehnya, Emilia tak dapat menjawab cepat.
Kenapa?
Benar juga. Kenapa ia jadi pelayan Samuel padahal tidak harus jadi pelayan untuk ia mendapatkan Oto. Emilia bisa jadi apa pun yang ia mau tanpa harus bersusah payah jadi pelayan.
Kenapa aku harus menurunkan harga diri? Emilia menanyakan pada dirinya sendiri.
"Aku tidak akan bertahan lama." Emilia bergumam tanpa dadar. "Mungkin beberapa waktu singkat lagi."
Ya, cukup singkat dan sebentar lagi.
"Terima kasih," ucapnya lagi, seraya tersenyum pada Rowan. "Kamu memberiku ide melakukan apa kedepannya."
Dari kemarin Emilia bertanya-tanya siapa yang harus mati untuk mempersingkat perang ini. Setelah dipikir-pikir, Rowan adalah orangnya.
Maka dengan begitu, ketenangan palsu di rumah ini juga akan runtuh.
...*...
Samuel cukup tenang menunggu di kamarnya sampai merpati pesan dari Ryo datang, menggantikan burumg elang sebelumnya. Kali ini merpati itu hanya dibekali oleh surat kecil di kakinya dalam bentuk bahasa isyarat.
Tiga hari ini Samuel mengurung diri untuk mencari celah dan kemungkinan siapa dibalik serangan kemarin, tapi tidak ia duga bahwa yang ia temukan dan yang Ryo temukan adalah sama.
Shippai.
Gagal.
__ADS_1
Ryo tak dapat menemukan siapa dalang dibalik serangan itu, seperti Samuel yang tidak dapat mengidentifikasi siapa kemungkinan orangnya dan apa motifnya.
Pertanyaan perang terang-terangan. Samuel membakar kertas dari burung merpati itu sebelum terduduk memikirkannya. Sekarang permainan petak umpet.
Di negara ini, tidak banyak orang bisa lepas dari jaringan Samuel. Tidak sulit mengerucutkan tersangka. Namun kenapa Samuel merasa gelisah?
Hah.
"Aku rasa aku terlalu bermain-main." Samuel beranjak, setelah tiga hari akhirnya memutuskan untuk keluar.
Hal pertama yang harus ia lakukan tentu saja memastikan keadaan Ema. Dengan adanya kejadian ini, Samuel mulai merasa teralihkan dari kecurigaannya bahwa Ema dalang dibalik pembunuhan Ahkam.
Mustahil.
"Ema."
Untuk sesaat, Samuel jadi teralihkan pada rasa frustasinya. Ia terhibur pada bagaimana Ema masih saja bersikap dingin padahal tidak melihat Samuel beberapa hari.
"Aku lapar. Temani aku makan."
Ema langsung menutup pintu kamarnya dan berjalan di belakang Samuel.
"Aku melupakan ini." Samuel menoleh. "Kamu tidak kelaparan selama aku bekerja, kan? Tolong jangan katakan sesuatu seperti kamu tidak makan sebab aku tidak menyuruhmu bekerja."
"Aku bekerja."
"Benarkah? Apa yang kamu kerjakan?"
__ADS_1
"Pekerjaan Rowan."
Wajah Samuel langsung keruh mendengarnya. "Rowan?"
"Aku mencuci pakaiannya, membuatkan dia makanan, lalu merawat kebun bunganya." Ema tetap bercerita ketika Samuel mengatup mulut atas ceritanya. "Aku bekerja jadi aku makan."
".... Begitu." Rasanya jauh lebih menyebalkan daripada mendengar organisasinya diserang oleh seseorang. "Maka itu baik."
Samuel punya kebiasaan mengurung diri dalam kamar berhari-hari jika ada pekerjaan mengenai organisasi. Jika ia berkata 'jangan kerjakan pekerjaan Rowan' pada Ema, dia justru hanya akan diam berhari-hari kelaparan.
Mau tak mau ia harus mengalah.
"Apa menyenangkan bekerja dengan Rowan?"
"Menyenangkan?" Ema menatapnya seolah Samuel gila. "Untuk apa urusan menyenangkan diperlukan?"
Aku lupa dia pembantu. Samuel segera tersenyum, sadar bahwa Ema paling benci didekati secara agresif apalagi menanyakan pertanyaan basa-basi yang terkesan posesif.
"Aku hanya berharap kamu nyaman. Juga, soal kejadian di ulang tahun Soraya kemarin, aku belum minta maaf."
Ema mengabaikannya, berjalan lebih cepat hingga mendahului Samuel.
Menggemaskan.
Dasar nona kepala batu.
*
__ADS_1