Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
26. Sisi Dingin Samuel


__ADS_3

Emilia sangat tidak menyukai cara Samuel menatapnya belakangan ini. Dia seperti semakin meletakkan matanya pada Emilia dan itu menyebalkan. Padahal seharusnya sudah tak ada alasan untuk curiga, tapi dia terus memerhatikan Emilia dengan cara menyebalkan.


Apa dia tidak lelah memakai topeng setiap saat?


"Kamu beralasan tidak bisa makan denganku karena aku majikan." Samuel menyerahkan bungkusan makanan dari restoran tadi. "Makan ini di kamarmu."


Ada yah orang yang tidak paham mau berapa kalipun diisyaratkan? Emilia diam karena lelah. Hanya mengikuti langkah Samuel yang memang hari ini cuma berjalan kaki menyusuri trotoar.


Kepala Emilia pusing akibat cahaya dan suara bising kendaraan. Ditambah ia tak memakai kacamata, rasanya malah semakin sulit berjalan.


"Ema, ada apa?"


Emilia berusaha keras tidak mengerutkan kening. "Tidak ada."


Tapi Samuel itu cuma terlihat bodoh dan tolol. Pada dasarnya dia pria yang punya pengamatan tajam. Tidak heran dia langsung menyadarinya. "Minus matamu parah sekali."


Cih.


Entah untuk alasan apa, dia berhenti, mengulurkan tangan.


Apa? Dia mau memegang kantong di tangan Emilia?


"Ulurkan tanganmu, Ema." Samuel malah langsung memegang pergelangannya. "Ini bukan desa yang jalannya sudah terpeta di kepalamu. Dengan mata itu, akan sulit jika harus menyipit ke bawah sambil mengikuti langkahku."


Lalu? Dia mau bilang mereka harus bergandengan tangan?


Haruskah kubunuh? Emilia menatap tangannya yang berada dalam selimut telapak tangan Samuel. Seumur hidup belum pernah ia disentuh tanpa izin kecuali oleh Mahesa.


Tapi Emilia masih punya kesabaran. Jadi ia mengikuti langkah Samuel sambil terus berharap mereka segera sampai.


Yang membuat sial semua itu, ketika tiba di kediaman Ahkam, Soraya Ahkam melihatnya dan kembali mencari masalah.


"Paman kenapa memegang tangan pembantu seperti kekasih saja?!"


Samuel akhirnya melepaskan tangan Emilia. "Mata Ema buram, Soraya. Jadi aku hanya membantunya."

__ADS_1


Gadis itu melotot pads Emilia seolah semuanya salah Emilia. "Tidak bisa dipercaya," desisnya. Menarik lengan Samuel untuk masuk bersama. "Aku bisa langsung mengenali Paman walaupun memakai masker! Jika seseorang melihat Paman dan gadis desa itu bersama, bagaimana jika karier Paman hancur?"


"Kamu berlebihan."


Dia memang berlebihan tapi sebaiknya Samuel mendengarkan dia.


Dengan begitu Emilia akan lebih tenang.


Ia sungguh berharap bisa segera beristirahat di kamar, tapi lagi-lagi harus diganggu oleh seorang Ahkam.


"Kamu kembali?" Rowan Ahkam menyapanya seolah Emilia bukanlah pembantu.


Anak ini sejak awal meletakkan ketertarikan aneh pada Emilia. Itu bukan rasa tertarik lawan jenis, tapi juga bukan kecurigaan yang diselimuti penyelidikan.


Emilia tak bisa mendefinisikan apa. Hanya, ia merasa Rowan memikirkan sesuatu tentangnya.


Bahkan ketika Emilia melewati dia begitu saja, Rowan hanya diam. Tidak marah, tidak merasa tersinggung, tidak merasa dipermalukan atau direndahkan.


Dia ... haruskah Emilia habisi juga?


Mari anggap saja dia tidak ada.


Itu lebih mudah.


Emilia masuk ke kamarnya, masuk ke kamar mandi untuk membuang makanan dari Samuel sebelum ia mandi lalu pergi mengistirahatkan diri.


*


"Sam, ada tawaran bermain film dari Respati Sugiono." Nina pagi-pagi datang memberi sebuah kabar pada Samuel dengan wajah antusias. "Aku makan malam bersamanya semalam dan dia berkata pemeran utama untuk filmnya akan bagus dimainkan oleh penyanyi. Aku menawarkanmu dan dia langsung minta bertemu!"


Samuel hanya tersenyum kecil. "Begitukah? Tapi, Nina, bukankah sudah kubilang aku tidak ingin menerima tawaran dulu? Menyanyi, apalagi film."


Wajah Nina langsung terlihat kecewa dan kesal. "Sam, ayolah."


Wanita itu menatap sekitarannya untuk memastikan tidak ada kuping yang cukup dekat sebelum berkata, "Perannya mengharuskan ada pendalaman karakter sebelum pembuatan film dilakukan. Respati berkata dia akan memintamu tinggal di Kalimantan dua atau tiga minggu. Ini kesempatan."

__ADS_1


"Kesempatan?"


"Tentu saja keluar dari kegilaan yang terjadi akhir-akhir ini!" Nina mendekat untuk lebih berhati-hati bicara sebab mereka berada di kediaman Ahkam sekarang, yang berarti akan berbahaya jika omongan itu sampai ke telinga seseorang seperti Argantana. "Sam, aku mengkhawatirkanmu, demi Tuhan. Ayo pergi dari tempat ini sementara. Bagaimana jika Argan—maksudku, orang gila itu mengincarmu?"


Heh, jadi Nina mengira itu perbuatan Argantana?


Samuel agak terkekeh. Meskipun Nina langsung memukulnya keras, Samuel lebih memilih merangkai senyum.


Naif sekali. Ah, bukan, kah? Memang sejak awal dia tidak mengerti apa-apa.


Samuel tidak bisa menyalahkannya juga.


"Itu ide bagus." Mata Samuel bersinggungan dengan Emilia yang baru saja masuk, mengangkat sejumlah perabotan berat. Itu adalah bayaran dari pakaian yang Samuel belikan. "Tapi aku tidak mau. Katakan pada Respati aku tidak tertarik berakting."


Sayangnya mata Nina menangkap arah pandang Samuel tadi.


"Aku pasti gila," gumamnya kemudian. Dia menatap Samuel seolah-olah ada sesuatu yang sangat sulit dia pahami di sana. "Kamu memilih tetap di sini karena pembantumu?! Aku sudah bilang padamu berhenti berpura-pura baik karena itu menjijikan!"


Berpura-pura baik, Samuel? Padahal ia hanya bertingkah biasa.


Samuel memang hidup dengan topeng sejak ia masih kecil. Jadi kalau Nina menyebut kepura-puraan itu menjijikan, berarti sejak kecil Samuel sudah menjijikan.


"Ayolah, Nina. Tenang dan jangan terlalu memikirkan hal sepele."


"Kematian mereka sepele bagimu?"


Loh? Memangnya ada arti?


Samuel tersenyum demikian sebelum beranjak menuju dapur untuk sarapan. Di belakangnya, Nina mengepal tangan, menatap nanar punggung Samuel.


Sekian tahun bersamanya, Nina jelas tahu betul satu hal yang pasti bagi seorang Samuel Ahkam.


Bahwa kecoa jauh lebih berarti daripada manusia di sekitarnya.


*

__ADS_1


__ADS_2