
"Bagaimana situasi Ahkam?"
Emilia langsung menghampiri ruangan Nine begitu pagi menjelang. Wajahnya masih pucat dan untuk kebutuhan tubuhnya, Emilia harus berjalan sambil memegangi tiang infus.
"Mereka menyebar gambarmu di sosial media. Tapi tidak menyertakan informasi bahwa kamu dalang dibalik kematian beruntun Ahkam."
"Mereka mempertimbangkan identitasku?"
Nine menjentikkan jari seketika. "Yaps."
Kalau begitu Argantana langsung memperkirakan bahwa Emilia berasal dari sebuah keluarga berpengaruh. Juga, karena keberadaan Samuel di belakang Emilia, mengekspose Emilia ke media hanya akan merugikan Ahkam.
Jelas Emilia akan dicap sebagai pembunuh, tapi Ahkam akan kehilangan Samuel dan Oto.
Antara mengatai Emilia dengan organisasi di tangan Samuel, masih lebih mahal organisasi Samuel. Karena itu mereka menahan informasinya sampai keputusan bulat disepakati.
Mereka membuang Samuel, mereka mempublikasikan Emilia.
"Aku perlu menyelesaikannya sebelum namaku terseret lebih jauh." Emilia menarik kursi untuknya. "Apa yang Senior katakan?"
Mahesa pasti sudah pergi ketika Emilia beristirahat.
"Tidak ada. Dia menyerahkan keputusan padamu."
"Bagaimana dengan isu yang melibatkanku kemarin?"
Suara kibor memenuhi ruangan ketika Nine menggerakan jemarinya lincah. "Aku sudah menghapus nyaris seluruhnya. Itu agak sulit karena nama Samuel sempat naik beberapa waktu karena foto itu, jadi aku mengalihkannya pada isu lain."
__ADS_1
"Tarik semua fotoku sebisa mungkin. Terutama yang sedang tidak diawasi banyak orang."
"Sudah kulakukan."
Emilia memicing untuk coba melihat layar. Tahu bahwa mata Emilia tak dapat melihat jelas, Nine menggeser kursinya. Mengambil sebuah tabung berisi kacamata juga sepiring manisan.
"Mahesa menitipkan ini."
Seluruh ruangan langsung terlihat jelas. Emilia mengerjap beberapa kali sebelum kembali fokus.
"Panggil Darto dan Mutia kemari. Ayo berdiskusi mengenai strategi kedepannya."
"Ayey."
Tak buruh waktu bagi Darto dan Mutia datang. Namun, Emilia lupa bahwa Samuel juga ada hingga dia justru lebih dulu sampai.
Emilia mengisyaratkan dia untuk tidak memuntahkan omong kosong dulu.
"Aku akan memancing Ahkam ke tempat ini."
Orang-orangnya Emilia cukup cerdas bahwa ia tak bicara tanpa pertimbangan. Sementara Nine lebih suka mengamati, jadi satu-satunya yang merespons hanya Samuel.
"Argantana tidak akan turun langsung menangkapmu, Emilia. Apa gunanya membocorkan persembunyian pada mereka?"
"Untuk menunjukkan kemampuanku. Aku tidak suka melawan seseorang yang tidak memahamiku. Argantana melihatku sebagai alatmu, dan aku tidak senang dengan hal itu."
Samuel mengangkat alis meski kemudian tersenyum. "Apa yang kamu inginkan dari Ahkam?"
__ADS_1
"Dia mencoba membunuhku."
"Aku tahu itu." Samuel menarik kursinya. "Dua hari pertama, aku tahu ada sesuatu. Apa yang dia lakukan?"
"Itu bukan bagian dari urusanmu," jawab Emilia datar. "Intinya, biarkan dia datang sebagai awalan. Setelah Argantana menerima pesanku, aku akan membunuhnya."
"Oto denganmu?"
Emilia berusaha keras tidak mengembuskan napas kasar. Orang ini hanya akan menyerahkan Oto jika Emilia menerima permintaannya. Dan dia jelas tahu Emilia terpaksa harus menerimanya.
Beranjak dari sana, Emilia bergumam, "Diskusikan dengan Oto."
Cepat-cepat Emilia pergi, karena ia malas harus melihat senyum lebar Samuel.
Tapi Samuel adalah pria menjengkelkan. Begitu Emilia beranjak, dia juga bergegas mengejarnya.
Tubuh Emilia ditarik lembut, terkurung dalam pelukan hangat Samuel. Aroma teh memguar dari tubuhnya. Bukan aroma yang biasa Emilia rasakan dari Samuel.
"Aku menyukaimu." Samuel berbisik di antara rambutnya. "Aku sangat menyukaimu, Emilia."
Pria itu menunduk menatap wajahnya.
"Aku tahu kamu belum menerimaku."
Emilia hanya diam, membiarkan Samuel mengecup bibirnya.
"Akan kubuat kamu menerimaku."
__ADS_1
...*...