Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
57. Setelah Ini Selesai


__ADS_3

"Tuan, kami menemukan mereka."


Argantana langsung tersentak dari kursinya. Selama dua hari pria itu belum memejamkan mata sebentar saja hanya untuk menunggu pemberitahuan tersebut.


"Bawa mereka ke hadapanku segera."


"Baik."


Tapi lawan mereka Samuel. Anak itu memiliki sesuatu yang akan mati hanya demi menjaganya. Dan Samuel bukan orang bodoh.


"Bisa saja ini jebakan," kata asistennya. "Pria itu mungkin berencana memancing Anda."


"Tidak masalah. Prioritaskan mengikuti jejak mereka."


"Baik, Tuan."


...*...


"Mereka memakan umpan, Emilia."


"Itu baik." Emilia menggerakan buah caturnya tenang. "Butuh berapa waktu mereka datang?"


"Masih sembilan puluh menit lagi."


Tempat itu tidak sepenuh kemarin, terutama oleh perangkat komputer Nine. Semua barang-barang berharga dipindahkan ke tempat lain. "Pergilah."


Nine beranjak sesuai perintahnya. Tapi sewaktu melewati meja, dia mengangkat bidak catur biru, mengambil bidak catur bening milik Emilia.


"Skak."


Samuel yang seharusnya menggerakan itu cuma mendelik kesal. Tentu saja Emilia tahu dia sengaja menahan-nahan untuk langkah itu. Dia tak mau mengambil langkah skak untuk Emilia.

__ADS_1


"Aku tidak suka menggunakan langkah skak." Emilia membalas dengan mengambil buah catur biru. "Senior berkata satu-satunya skak adalah skakmat."


"Aku lebih suka mengambil semua kesempatan, skak atau skakmat." Nine mengangkat bahu. "Sampai jumpa."


"Ya."


Pria itu pergi, membuat Samuel punya ruang untuk langsung berkata, "Emilia, haruskah dia yang jadi penjagamu? Aku memiliki orang yang lebih baik menjagamu."


"Berhenti bicara omong kosong." Emilia mendengkus. "Aku tidak percaya ada orang yang lebih baik dari anak asuhan Senior di dunia ini."


"Kalau begitu aku?"


Aku lupa dia juga anak asuhan Senior. "Lalu kenapa kamu menolak mematuhi Senior?"


Jelas Emilia mengalihkan pembicaraan, tapi itu pun bukan pertanyaan asal. Sejak awal Emilia penasaran mengapa orang ini menolak mematuhi Mahesa, padahal mayoritas dari organisasinya adalah pemberian Mahesa.


Tentu saja tidak secara cuma-cuma dia diberi. Hanya, kenapa dia menolak membayarnya dengan loyalitas?


Emilia tidak mau menjawab. Anggap saja ia tak tahu banyak mengenai Mahesa.


"Mahesa adalah bajingan, tapi dia memiliki ... entahlah, mungkin jiwa kepahlawanan? Aku tidak."


Emilia menatap pria di depannya lamat-lamat. Barusan, dia mengakui itu sendiri?


"Mahesa ingin menghancurkan dunia—itu yang dia katakan. Tapi pada dasarnya dia mencoba membuat dunia menjadi lebih baik. Meruntuhkan kekuasaan yang sewenang-wenang. Menjadikan dirinya sebagai raja tunggal, tapi tidak akan pernah membiarkan seseorang mati dalam tangisan penderitaan. Bukan begitu?"


Jadi intinya dia tidak peduli orang lain menderita sementara Mahesa diam-diam peduli.


Rasanya Senior mendadak jadi baik karena ucapan itu.


"Kamu tahu kenapa Mahesa tidak memaksaku?"

__ADS_1


"Senior memang bukan pemaksa."


"Seseorang bergerak atas keinginannya, Emilia. Seperti kamu yang mengikutiku karena Ahkam." Samuel menyentuh tangannya tanpa izin. "Dia tidak bisa memiliki Oto jika aku, dasar dari Oto, tidak menginginkan dia. Karena itu dia menggunakanmu."


"Lalu, kamu akan ikut dalam perang kedepannya hanya karena aku?"


"Ya."


Emilia tersentak. Entah karena itu omongan konyol dan bodoh, atau karena Samuel mengucapkannya tanpa keraguan sama sekali.


Dia tahu betul situasi dunia. Mahesa Mahardika sekarang benar-benar mengumpulkan pasukan dari berbagai sisi untuk kudeta. Tapi dia mau melibatkan diri hanya karena menginginkan Emilia?


"Aku tidak pernah menginginkan apa pun dalam hidupku." Samuel menarik tangan Emilia ke bibirnya. Mengecup lembut permukaan punggung tangan itu. "Aku mendapatkan apa yang aku inginkan dengan mudah. Dan itu kesombongan. Itu kesadaran diri."


"...."


"Aku menemukan keinginanku darimu, Emilia. Karena itu, aku menginginkanmu. Hanya kamu. Sekalipun aku harus menjual diriku pada Mahesa."


Ini pembicaraan menyebalkan. Entah kenapa Emilia tak nyaman.


Bergegas ia menarik tangannya, berniat untuk memerintahkan Darto dan Mutia bersiap. Mereka perlu mengecek persiapan sebelum orang-orang suruhan Ahkam datang.


"Emilia." Tapi, Samuel mencegahnya. Dia menarik bahu Emilia, bernapas halus di wajahnya. "Aku menjanjikan satu hal padamu."


Mulut Emilia kering.


Samuel tersenyum kecil. "Aku akan mengatakannya nanti. Setelah ini selesai."


Sialan. Emilia tidak menyukai debaran di jantungnya yang asing. Apa itu?


...*...

__ADS_1


__ADS_2