Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
36. Kekuatan Emilia


__ADS_3

Orang-orang mengenalnya sebagai Code 09. Pada dasarnya termasuk salah satu jantung dari intelejen Mahesa yang mengawasi Emilia. Beberapa waktu ini, ia kesulitan harus mengawasi Emilia yang berada dalam pengawasan Ahkam, dia sekitar Samuel dan tanpa bantuan ponsel.


Karena itu Nine langsung beranjak dari playstationnya begitu melihat kompter menampilkan sosok Emilia masuk bersama Samuel dalam mobil.


“Apa yang kamu pikirkan, Emilia?” Nine bergumam seraya tangannya lincah bergerak mengawasi, mengikuti, dan membajak seluruh perangkat yang bisa menghubungkannya dengan mereka.


Meski tidak pernah saling bersentuhan, Nine adalah salah satu orang yang mengawasi Emilia dari belakang layar. Ia tahu betul perempuan itu.


“Emilia meninggalkan kediaman Ahkam. Segera ikuti dia.”


Butuh beberapa saat sebelum Nine bisa memasang headphone, mendengar suara dari mobil Samuel.


“Aku akan memintamu melakukan banyak pekerjaan besok. Jadi bisakah sekarang kamu bebas melakukan apa pun?”


“Hm.”


“Ayolah, Ema. Aku membawamu agar kamu tersenyum.”


“Hm.”


Nine fokus mendengar suara ketukan demi ketukan aneh yang terus terjadi.


Butuh waktu untuk dirinya bisa mengerti.


Ini ....


“Kamu ingin aku menyerang perusahaan Argantana?” Nine menghela napas. Sejenak menggeser kursinya untuk mengambil lolipop. “Emilia, harusnya sesekali belajarlah untuk lebih halus.”


Tapi jelas dia tidak dapat mendengar. Emilia sekarang juga tidak bisa memastikan Nine mendengarnya atau tidak. Karena bagi dia, yang jelas keinginannya terwujud jika pesannya tersampaikan.


“Kalau begitu—“ Nine mulai tersenyum mengutak-atik komputer raksasanya, “—akan kubuat lebih kasar perbuatanmu.”


Sepertinya Emilia memang akan lebih terhibur dengan cara brutal.


...*...

__ADS_1


Ponsel Samuel bergetar ketika akan memutar mobilnya ke destinasi kali ini. Nama Nina melayang-layang di layar, dan Samuel terpaksa harus menjawab meski tahu apa yang akan dia katakan.


Lewat handsfree di telinga, Samuel mendengar suara Nina.


"Kudengar kamu pergi bersama pelayanmu."


"Ya."


"Kamu menolak bermain film besar, menolak muncul ke publik, menolak ini dan itu sementara semuanya pekerjaanmu tapi pergi bersama pelayanmu?!"


"Aku hanya bosan, Nina. Urusan pekerjaan berbeda."


"Lalu bagaimana kamu membedakan pekerjaan dan pembantumu sekarang, hah?! Kamu ingin dipecat agensi jika terus melakukan ini?!"


"Biarkan mereka." Samuel memutus sambungan begitu saja,


Berpaling pada Ema yang sejak tadi hanya diam memandang ke luar jendela.


"Ayo, Ema."


Sejujurnya Samuel juga tidak sering pergi kecuali sedang manggung atau hadir di pesta temannya. Jadi tidak banyak tempat ia bisa mengajak Ema pergi. Samuel agak khawatir dia merasa bosan karena Samuel mengajaknya ke taman bunga.


"Jika tempatnya membosankan, jangan ragu berterus terang, Ema."


Walau mungkin menyuruh seorang Ema tidak jujur adalah hal sia-sia.


Dia sudah terlalu jujur selama ini, kan?


Gadis itu hanya menatap Samuel sekilas, kemudian berlalu yang berarti dia baik-baik saja. Tempat ini memang sengaja Samuel sewa untuk mereka berdua, sebab Ema selalu terlihat risi oleh banyaknya orang.


"Kamu menghabiskan uangmu untuk pembantu yang tidak tahu berterima kasih?!" Adalah apa yang akan Nina katakan jika dia tahu.


"Ema, pergilah berkeliling. Aku akan membeli beberapa makanan untuk kita."


Tanpa menjawab, Samuel tahu dia juga akan pergi. Samuel pun berlalu, tapi sebelum ia mengambil makanan yang memang ia minta, Samuel masuk ke sebuah ruangan di mana Ryo menunggu.

__ADS_1


"Bagaimana?"


"Kami butuh waktu lebih lama mencari." Ryo membuka laptop untuk Samuel bisa melihat informasinya. "Tim Alpha berkata orang yang meretas sistem kita adalah orang baru."


"Orang baru meretas sistem Oto, mencuri berbagai data, lalu repot-repot membunuh, dan meninggalkan jejak."


"Ya, Bos."


Kalau begitu, maksud Alfa yang merupakan cyber security Samuel, orang yang melakukan ini 'baru' muncul dipermukaan alias dia tidak mengenalinya. Tapi meretas sistem Oto, tidak terlacak oleh orang terbaik Samuel dan berhari-hari mempermainkan mereka, dia bukan orang biasa.


Juga jelas bukan Ema yang diam saja di belakang Samuel sejak awal.


Komputer yang dipakai melakukan ini bukan komputer rumahan. Dia butuh dana miliaran hanya untuk melengkapi perangkat komputernya. Maka berarti dia bukan benar-benar orang baru.


"Aku tidak bisa mengurangi kecurigaanku pada Mahesa." Samuel menyatukan kedua tangan di bawah dagunya. Memandangi lambang Shi di layar sebagai jejak pencuri itu. "Tapi buat apa juga dia menggangguku?"


"Bagimana dengan tawaran beberapa waktu lali, Bos? Mahardika menginginkan kontrol Oto di tangannya."


"Ya, tapi bajingan itu tahu cara bermain. Dia tidak bodoh."


Mahesa itu pencuri paling andal yang Samuel pernah lihat. Bajingan secara total dari ujung kaki ke ujung kepala. Tapi Mahesa selalu 'menghargai' penolakan.


Dia tidak akan meneror Samuel cuma karena Samuel enggan bergabung dengannya. Setidaknya, itu analisis psikologisnya.


"Bagaimana jika kami bermain sedikit lebih kasar?"


"Maksudmu langsung meretas pusat dan mendapatkan informasi yang Mahesa simpan?"


"Ya, Bos."


"Aku tidak berpikir ini Mahesa." Samuel bergumam. "Tapi aku yakin dia memang tahu sesuatu. Percuma mengganggu mereka. Itu hanya akan membuat Oto memusuhi kelompok merepotkan."


Sayangnya harus Samuel akui. Kalau kekuatan di kantong Mahesa jauh lebih besar dari kekuatan di tangan Samuel.


*

__ADS_1


__ADS_2