Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
14. Cucu Kesayangan Ahkam [REVISED]


__ADS_3

Emilia sudah bersiap kalau-kalau ia dicurigai atau terjadi investigasi intens lalu dirinya dijadikan salah satu tersangka.


Tapi ternyata Samuel benar. Esok hari, seolah tidak terjadi apa pun di keluarga itu, mereka semua melupakan Idrus Ahkam.


Istri dari Suryanata Ahkam alias ibunya Idrus sudah lama mati. Karena kebobrokan hidupnya, Idrus juga tidak punya istri apalagi anak.


Tidak ada yang menangisi kematiannya terlalu lama. Menurut Emilia, bahkan kematian pelayan dapur yang ia bunuh itu jauh lebih dipedulikan oleh sejumlah pelayan lain.


Menjelang siang hari, Samuel memanggil Emilia untuk memberinya pekerjaan. Ternyata pekerjaannya adalah mencuci pakaian, namun dengan mesin cuci yang berada di samping dapur.


"Mulai sekarang kamulah yang akan bertanggung jawab mengurusi pakaianku. Gunakan ini untuk mencuci, lalu jemur secara terpisah, lalu setrika di sana. Kamu bisa menyetrika, kan?"


Untungnya bisa, jadi Emilia tidak banyak bicara dan mengerjakan tugasnya.


Ia tahu pria itu mengawasinya. Memang mau tidak mau semua orang akan curiga bahwa Emilia, selaku pendatang baru yang pendiam bisa saja seorang pembunuh.


Tapi itu hanya perasaan sekilas yang muncul di benak mereka.


Argantana Ahkam pasti lebih curiga bahwa pelakunya adalah Samuel atau orang lain. Selama mereka tidak tahu siapa Emilia, tidak akan terpikir bagi mereka Emilia pelakunya.


Diawasi memang menyebalkan, tapi Emilia akan membiarkan itu berlangsung.


Jika Samuel yang begitu perseptif mengawasinya dan tidak menemukan apa pun, maka selanjutnya dia akan ragu mencurigai Emilia.


"Paman Sam!"


Ketika Emilia sibuk menatap cucian yang berputar di dalam mesin cuci, tiba-tiba terdengar suara seruan manja anak gadis.


Seline Ahkam datang memeluk Samuel dari belakang.


"Kamu akan terjatuh jika selalu berlari seperti itu." Samuel membalasnya lembut.

__ADS_1


"Apa yang Paman lakukan di sini?"


"Mengajari Ema mencuci."


Tatapan mata gadis itu jelas tertuju pada Emilia. "Apa dia bahkan tidak bisa mencuci? Bukankah dia pembantu?"


"Seseorang perlu belajar untuk paham, Seline."


"Nina berkata bahwa gadis itu memanfaatkan Paman."


"Nina pasti sedang mabuk. Abaikan saja."


Mata Seline tetap memicing pada Emilia. "Kalau dipikir lagi, aku tidak suka padanya, Paman. Kenapa Paman harus memungut orang seperti dia?"


"Seline."


"Hei, Jelek." Gadis itu berteriak agak keras. "Kamu terlihat sangat kotor. Bagaimana Paman menyuruhmu mencuci kalau mencuci dirimu pun kamu tidak?"


"Tidak mau. Pamanlah yang bersalah membawa benda kotor seperti itu."


Emilia mengabaikan dia. Tapi lagi-lagi, karena merasa dia sangat penting dan berharga, gadis itupun kesal karena diabaikan.


Untuk kedua kali Emilia harus merasakan lemparan mengenai dirinya, meski kali ini cuma buah anggur yang mengenai lengan Emilia.


Jangan menghargai, bisik Emilia dalam dirinya, dan jangan minta seseorang menghargaimu.


*


"Seline." Samuel memegang tangan keponakannya dan berusaha tidak terlalu mengerutkan kening. "Jika benda itu kotor, abaikan saja. Bukan membuang-buang waktu mengurusinya. Kamu ingin menjadi Idrus yang tolol?"


"Tapi dia memalingkan wajah dariku!"

__ADS_1


"Itu karena dia gadis desa yang bodoh dan tidak memahami apa-apa. Mengerti, gadis kecil? Ayo pergi. Aku akan menemanimu makan siang."


"Benarkah?! Yeeeey!!"


Samuel bukannya sengaja menghina Ema atau bermaksud menyiksa dia. Tapi jika ia menegur Seline, maka mungkin akan lebih heboh daripada Surya mengurusi kematian putra tidak bergunanya.


Anak ini adalah cucu kesayangan. Dimanja bahkan sejak dia dalam kandungan.


Kalau dia marah, yang salah adalah orang yang membuatnya marah. Jadi Samuel tidak boleh menegurnya atau ibunya Seline akan ikut-ikutan kesal pada Ema, yang jadi alasan Samuel menegur Seline.


Dibawa saja dia menjauh, berharap bahwa Ema bisa mengerti Samuel bertindak untuk melindunginya.


"Paman, Paman! Boleh aku makan lebih banyak dessert hari ini? Bolehkah?"


Seline bertanya bukan karena dia butuh izin Samuel untuk makan apa. Dia bertanya agar Samuel memberi kesan sangat peduli meski sebenarnya tidak.


"Tentu saja." Samuel tersenyum. Mengusap-usap kepala anak manja itu. "Makanlah tiga jika perut kecilmu bisa menerimanya."


"Yeeeeey! Tapi Paman juga harus ikut makan denganku!"


"Aku tidak suka makanan manis yang gurih, Seline."


"Aaaaa! Paman berkata akan menemaniku makan siang! Harus sampai selesai!"


"Baiklah, baiklah."


Dessert, kah? Setelah dia mencuci, menjemur dan menyetrika, Samuel bisa berkata upahnya adalah dessert, kan?


Hitung-hitung sebagai hiburan karena dia mengalami banyak hal buruk gara-gara Samuel.


*

__ADS_1


__ADS_2