Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
72. Keinginan Emilia


__ADS_3

"Aku butuh sesuatu untuk dipegang."


Dwi menoleh dari ponselnya atas permintaan Emilia. "Boneka?"


Namun gadis itu menggeleng. "Sesuatu yang rumit tapi bisa dipegang dengan mudah."


Cukup lama Dwi terdiam, sampai ia ingat ada kiriman barang dari Mahesa Mahardika beberapa waktu lalu. Isinya kebanyakan keperluan komputer Nine, tapi ada sesuatu yang dititipkan untuk Emilia.


Jangan memberinya kecuali Emilia meminta. Itu yang tertulis.


Maka Dwi beranjak, mengambilkan kotak itu.


"Ini catur khusus." Dwi membantu Emilia memegangnya. "Kotaknya dibuat jelas, jadi selama kamu menghafal urutan, mudah bermain."


"Senior?" tebak Emilia begitu saja.


"Gadis memang menakutkan." Dwi tersenyum kecut. Membiarkan Emilia menyusun sendiri catur itu, karena nampaknya dia hafal urutan kotak dan setiap bidak memiliki tekstur berbeda. "Kamu memerlukannya untuk apa?"


"Aku perlu bertanya terlebih dahulu," jawab Emilia, tanpa berhenti menyusun dengan rabaan tangan. "Apa yang membuatmu mengikutiku?"


"Tentu saja karena bekerja denganmu lebih mudah daripada jadi barista."


"Tapi gadis Samuel mengaku sebagai temanmu."


"Nina?" Tatapan Dwi lebih terfokus pada papan catur Emilia yang setiap kotaknya mulai terisi buah catur. "Aku hanya mengenalnya sekilas. Kamu berpikir aku berkhianat?"


"Harus ada alasan berkhianat, dan uangku lebih banyak daripada gadis itu." Emilia menyelesaikannya tanpa melihat sama sekali. "Aku bertanya karena Senior memperkerjakanmu menyembunyikanku. Aku mau mempekerjakanmu untuk bertindak atas instruksiku."

__ADS_1


Dwi terdiam. Ia beberapa hari penasaran apa yang Emilia pikirkan setelah mendengar berita Samuel. Kenapa tiba-tiba?


"Aku—"


"Aku belum selesai. Dengarkan sampai akhir, tolong." Emilia mengangkat pion pembuka dua langkah. "Aku ingin loyalitas."


Dwi duduk. Karena ini bukan pembicaraan ringan. "Artinya kamu ingin aku mati saat kamu berkata aku harus mati?"


"Ya."


"Apa yang mau kamu lakukan?"


"Membangun kelompok lain diluar Senior."


Pembukaan yang luar biasa. Tahu apa julukan Mahesa? Pemuda terkaya di Asia Tenggara. Tahu apa tujuan Mahesa? Memusuhi semua negara di dunia ini.


"Untuk apa?"


"Lalu?"


Emilia semakin yakin menyelesaikan posisi caturnya. "Aku akan menerima Samuel. Bermain di belakangnya."


"Aku tidak melihat tujuanmu, Emilia. Katakan dengan jelas."


Sebenarnya Dwi sudah tahu, karena Nine memberitahunya, dari Mahesa yang menganalisis kondisi psikologis Emilia.


Gadis ini ... tidak tahu cara dendam pada orang lain.

__ADS_1


"Emilia akan menerima Samuel." Itu yang Nine katakan, mengulang perkataan Mahesa. "Karena Emilia adalah raja."


"Raja?"


"Raja: punya kesombongan, punya keyakinan, punya kepedulian, punya kebengisan. Emilia membunuh Ahkam karena Ahkam menghinanya. Raja tidak bisa dihina. Tapi dia merasa bersalah membunuh Soraya, karena Soraya hanya 'sipil' yang kebetulan terlibat konflik. Dalam media, kurasa Emilia ibarat santapan netizen, dan Soraya adalah haters. Dia menyebalnya, tapi tidak seharusnya dibunuh hanya karena satu dua kata menyebalkan."


Nine memutar kursinya, beranjak seraya melipat tangan.


"Samuel merayu Emilia lewat cara 'diplomatis'. Dia merayu dengan halus, sementara di sisi lain dia mendesak. Ibarat dia berkata, ayo kita berdamai atau kuledakkan nuklir di kerajaanmu. Tentu saja, itu hanya perumpamaan."


"Dan Emilia menerimanya?" tanya Dwi saat itu, karena tak bisa langsung mengerti.


"Emilia memiliki kemampuan, Kawan. Dia memiliki kekayaan, kecerdasan, ketelitian, banyak hal. Dia dibuang oleh Mahesa, lalu Emilia membuang Samuel. Selama berhari-hari dia akan berpikir apa yang harus dia lakukan. Lalu Samuel masuk dengan strategi uniknya. Membuat Emilia berpikir ada sesuatu yang harus dia lakukan daripada dia termenung sendirian selamanya."


Sekarang Dwi melihat apa yang telah dilihat Mahesa dan Nine sebelum itu terjadi.


"Aku ingin membuat organisasi yang mencegah sesuatu sepertiku terjadi." Emilia butuh waktu mengatakannya. "Mencegah orang seperti Argantana berbuat seenaknya, mencegah kemarahan atas perbuatannya, mencegah hal-hal yang sebenarnya tidak perlu terjadi."


Aku ingin semua orang jadi lebih baik. Dia tidak mau mengatakan itu.


Mungkin karena dia merasa dia tidak layak mengatakannya.


Dwi mendengkus. Anehnya, ia menganggap gadis ini tulus menginginkan itu.


"Itu akan membantu Senior, tanpa harus bergabung dengannya."


"Kalau begitu kamu perlu menemui Samuel."

__ADS_1


"Ya. Hubungi dia."


...*...


__ADS_2