Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
16. Kematian Tanpa Tanda [REVISED]


__ADS_3

Ponsel adalah sesuatu yang bisa dilacak. Justru karena Emilia tidak menyentuh apa pun yang orang-orang ini sentuh selama bertahun-tahun, tidak ada satupun orang bisa melacaknya.


Jika Emilia berkata pada Rowan bahwa namanya adalah Emilia, maka Rowan akan berkata 'siapa Emilia?'.


Emilia tidak suka mengumpulkan kelemahan. Mengapa ia harus memberi informasi pada orang lain tentang dirinya?


Jadi tidak, Emilia sedikitpun tidak butuh ponsel.


Menyedihkan. Mereka bermain dalam permainan yang menyedihkan.


Kenapa Emilia butuh sesuatu seperti itu? Apa pun yang Emilia mau, bahkan menghancurkan keluarga ini, Emilia cuma tinggal berbicara pada bayangannya.


Bayangan itulah yang akan bergerak mencari informasi atau mencekik leher Rowan saat dia terlelap dalam mimpi.


Dia memedulikan hal tidak berguna.


Emilia beranjak dari sana setelah muak. Pergi mengecek pakaian Samuel yang memang cuma butuh dijemur sebentar. Disetrika seluruh pakaian itu, melipatnya dengan rapi, lalu menyusunnya dalam keranjang untuk dibawa naik.


Sampai Emilia pergi, Rowan Ahkam masih di sana, menatapnya dengan sorot bertanya-tanya.


*

__ADS_1


Emilia agak terkejut mendapati Samuel berada di kamarnya setelah Emilia meletakkan keranjang pakaian Samuel di depan pintu kamar pria itu. Pantas saja waktu diketuk tidak ada jawaban.


Ternyata dia duduk di sofa kamar Emilia.


Sempat Emilia curiga dia menggeledah sesuatu, namun melihat tidak adanya pergeseran karpet dari garis kramik, juga posisi kusut kasur yang masih seperti terakhir kali Emilia tinggalkan, setidaknya bisa diartikan dia tidak menyentuh bagian di sana.


Tidak ada rahasia di sana, tapi jika dia menyentuhnya, jelas dia menganggap Emilia mencurigakan.


"Maaf, masuk ke kamarmu begitu saja." Samuel repot-repot memberi pembukaan. "Aku membawakan beberapa pakaian baru, upah yang kujanjikan di awal. Juga, ini bayaran mencuci bajuku."


Emilia menerima sepiring kue cokelat bertoping stroberi itu. Lalu pada tas berukuran besar yang ia duga merupakan pakaian barunya.


Daripada panjang, ia mengangguk berterima kasih, menunggu Samuel beranjak.


Ketika sudah yakin betul dia pergi, Emilia masuk ke kamar mandi. Membuang kue itu ke closet begitu saja.


Semua makanan yang berasal dari tangan Samuel lalu diberikan untuknya tidak akan pernah Emilia telan bahkan jika ia harus menelan rumput.


Jangan terlalu berusaha keras. Emilia senang kalau mereka berbondong-bondong datang seperti serangga.


Di tengah malam Emilia duduk di tepi jendela, diam sampai seekor burung merpati hitam datang dan hinggap di lengannya.

__ADS_1


Emilia mengelus burung kecil itu. Mengikatkan sesuatu di pergelangannya, lalu melepaskan dia kembali.


Sepertinya untuk beberapa waktu kedepan, Emilia bisa tidur nyenyak.


*


"Tidak mungkin. Tidak mungkin. Tidak mungkin." Wanita itu memegangi wajahnya sendiri, menggeleng-geleng histeris sebelum sebuah lolongan pilu terdengar. "TIDAK MUNGKIN PUTRIKU MATI! CARI DIA! CEPAT CARI DIA!"


Yolanda Ahkam meraung-raung tak dapat menerima berita pihak kepolisian bahwa kecelakaan maut telah terjadi dan mobil yang dikendarai oleh Seline jatuh ke jurang.


Kondisi medan yang curam menyulitkan mereka untuk menginvestigasi hingga dengan berat hati menyatakan Seline Ahkam telah tiada.


Berbeda dari saat kematian Idrus Ahkam dan pelayan kemarin, kini seluruh wajah Ahkam dirambati oleh keterkejutan dan rasa tidak percaya.


Hanya Samuel yang terlihat tidak peduli, dan Rowan yang tidak merasa harus histeris.


Ketika mereka sibuk meraung-raung dan meributkan hal itu, Emilia berkutat di dapur.


Membantu pekerjaan para pelayan yang tiba-tiba harus sibuk mempersiapkan acara penghormatan terakhir untuk kematian Seline.


"Ema! Sudah kubilang potong kubisnya tipis-tipis saja! Melakukan hal seperti ini saja sulit bagimu, hah?! Kami sedang sibuk sekarang!"

__ADS_1


*


__ADS_2