
Rowan tidak berbohong. Jauh sejak lama, mungkin ia sendiri bahkan menyimpan dendam untuk keluarga ini. Tentu saja, itu bukan karena seberapa banyak orang mati demi kedamaian mereka, atau seberapa parah kemiskinan merata demi kekayaan mereka.
Semua hanya tentang perbedaan idealisme.
"Jaga adikmu."
Mungkin Rowan memang anaknya Argantana. Karena meski sekarang ia menatap wajah pembunuh adiknya, Rowan merasakan kemarahan bercampur dengan rasa cinta.
Cinta yang aneh, mungkin.
"Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu, Ema. Tunggu di sini."
Rowan beranjak. Naik ke kamarnya ketika ia melihat Nina diam-diam memerhatikan mereka dari sudut rumah.
Rowan pura-pura tak tahu, turun setelah mengambil apa yang mau ia berikan.
"Ro."
Ternyata Rangga juga mengawasinya.
"Pikirkan baik-baik." Sepupunya itu menahan kuat lengan Rowan. "Tolong. Ini bukan cara menyelesaikan masalah. Pikirkan lagi."
Rowan tidak pernah bermaksud menyelesaikan masalah. Ia tak punya hati sebaik itu untuk mengurusi sesuatu yang tidak pernah ia sentuh.
Apa pun alasan Ema, ia tak peduli. Apa pun perbuatan ayahnya, Rowan tidak mau peduli.
"Hidupku bukan urusanmu." Rowan menarik tangan. "Aku hanya memberimu pilihan. Jika keputusanku tidak memuaskan, lakukan sesukamu. Tapi jangan ganggu aku."
Rangga cuma mengacak rambutnya frustrasi. Napasnya naik turun menatap punggung Rowan.
__ADS_1
Dasar orang tol*l, geram Rangga tak berdaya.
...*...
Emilia membuka cermin kecil ia sengaja ia bawa. Menatap wajahnya dari pantulan cermin yang nampak pucat, tapi lebih segar dengan warna kemerah-merahan di bibirnya.
Ia menoleh saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Diam sampai Rowan datang, duduk di sampingnya seperti tadi.
"Berikan tanganmu."
Apa yang dia rencanakan?
Meski merasa curiga, Emilia harus memberikan tangannya. Dibuat terkejut oleh sebuah cincin yang tiba-tiba terselip di sana, dihiasi okeh batu berlian kecil cantik.
"Apa?" Emilia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"...."
"Aku akan memberikannya padamu. Bisakah kamu menjaganya?"
Apa ini? Emilia tak dapat mengerti. Ia berusaha keras untuk berpikir skenario apa yang coba Rowan mainkan, tapi tak ada yang terpikirkan.
"Ema."
Rowan memegangi jemarinya. Diam sesaat sebelum dia meraih wajah Emilia mendekat.
Entah kenapa, tubuh Emilia menolak. Padahal skenarionya adalah menerima.
"Tidak apa." Rowan tersenyum lembut. "Aku memilihmu."
__ADS_1
Bibir Emilia bergetar. Jantungnya bergemuruh oleh perasaan asing.
Dia lawan menakutkan. Hanya itu yang Emilia bisa pikirkan sebelum membiarkan bibir mereka bertemu.
Sensasi asing di bibirnya membuat Emilia tegang. Tapi ketika Rowan memeluknya kuat, mencium bibir Emilia penuh keyakinan, Emilia hanya bisa membalas.
Tentu saja semua itu masuk dalam pengawasan Nina. Wanita itu nyaris tercengang mengabadikan momen di mana Rowan menciim seorang gadis seolah tak ada hari esok.
Nina tak tahu, memang tidak ada hari esok.
Karena saat ciuman itu terlepas, Emilia terpaku. Menatap darah segar di hidung Rowan, sebelum ia menunduk pada darah yang lebih pekat mengalir dari sudut bibirnya.
"Ibuku pernah berkata," Rowan berbisik, "bahwa racun adalah permainan wanita."
Bau darah menguar di antara mereka.
"Pria tidak bermain racun. Karena racun adalah senjata bagi penakut. Ego pria tidak menyukainya. Saat aku teringat, aku tahu apa yang paling layak melawanmu."
Rowan meletakkan keningnya pada kening Emilia.
"Matilah bersamaku, Ema."
Dari kejauhan, Nina membeku. Terbelalak namun tersadar bahwa ia harus segera memberitahu semua orang.
"Sam." Nina berlari. "Sam! Samuel!"
Nina tidak tahu bahwa semua itu masih berada dalam perhitungan Emilia.
...*...
__ADS_1