Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
80. Hari-Hari Damai


__ADS_3

"Emilia." Dwi menepuk-nepuk lengan Emilia, menariknya dari tidurnya. "Emilia, bangunlah. Sudah pagi."


Kesadaran Emilia masih buram, tapi ia menerima tangan Dwi. Saat akan beranjak, perut Emilia keram. Tak ada apa pun yang bisa ia lihat, meski begitu Emilia bisa merasakan.


Kasurnya pasti kotor lagi.


"Yumi?"


"Samuel mengajaknya berjemur. Ayo, bersihkan dirimu dulu."


Bau darah tercium samar-samar di antara bau minyak bayi di kamarnya. Emilia berjalan terpincang menuju kamar mandi, dituntun untuk masuk ke bak mandi. Setelah itu Dwi pergi, membiarkan Emilia melepaskan pakaiannya yang mungkin juga dirembesi darah nifas.


Emilia jarang merasa sakit saat menstruasi. Perutnya keram biasa saja, dan paling parah hanya sedikit nyeri. Tapi sekarang berbeda. Ia kesulitan duduk.


Meski begitu, sekali lagi Emilia merasa dibayar dengan sesuatu yang sepadan.


"Emilia."


Suara Samuel membuat Emilia menoleh pada kegelapan di arah suara itu berasal. "Sudah selesai?"


Hanya butuh waktu sekejap tangan Samuel terulur padanya, mengusapkan air hangat ke punggung Emilia. "Hm. Mama berkunjung, jadi aku menitipkan Yumi sebentar."


Emilia tersenyum samar. Beranjak dari bak mandi yang kini nampak merah akibat darah.


"Ema."


Nama itu selalu Samuel gunakan padanya jika ingin mengatakan sesuatu yang cukup serius. Emilia membasuh diri, tapi menoleh lagi ke arah ia mendengar Samuel. "Hm?"


"Bukankah tidak apa sekarang melihat lagi? Aku tahu kamu sangat ingin melihat wajah Yumi."


Emilia meraba-raba tangan Samuel. Organ vitalnya sakit, tapi ia rasa Samuel menganggap pembicaraan ini penting. "Apa kondisiku memberatkanmu?"

__ADS_1


"Ayolah, Ema. Bukan itu maksudku." Samuel langsung datang memeluknya. "Aku menyukai Emilia-ku bagaimanapun kamu."


"Aku menyukai kegelapan."


Ia merasa Samuel menggeleng di kepalanya. Tapi Samuel tidak pernah mau membantah perkataannya, hanya menerima, lalu melepaskan Emilia.


Percakapan itu terhenti di sana, karena Emilia segera memakai pakaiannya dan keluar mencari sang anak. Samar-samar ia mendengar suara tangisan kecil gelisah.


"Hei, lihat siapa itu. Ibu, hm. Ada Ibu, Yumi."


Emilia perlu duduk pelan-pelan di kursi khusus yang tidak terlalu menyakitinya. Mengatur posisi sebelum ia menerima bayi kecil yang diletakkan di gendongannya.


"Kamu pergi sebelum Ibu terbangun." Emilia membenamkan bibirnya hati-hati ke leher Yumi, merasakan ketenangan alami dari aroma dan suhu tubuhnya. "Bagaimana? Kamu sudah tidak ingin menangis lagi?"


"Dia menangis semalam?"


"Sangat keras." Emilia terkekeh. Karena itulah ia bahkan tidak sadar Samuel beranjak. Dirinya baru bisa tidur mungkin pukul tiga pagi karena tangisan anak ini. "Sam baru kembali pukul tiga kemarin. Aku tidak bisa menenangkannya sendiri."


"Sudah Mama bilang jangan kembali terlalu larut."


Samuel pasti sedang cemberut. "Maaf, maaf." Dan dia mengusap bekas ketokan mamanya.


"Lagipula bukankah Mama sudah bilang padamu untuk sementara berikan tanggung jawab pada Ryo? Emilia butuh bantuan di sini."


"Ma, Emilia yang menyuruhku pergi. Aku harus membuat dia senang, kan? Dia berkata laki-laki yang tidak pergi melakukan sesuatu di luar rumah itu payah! Bagaimana aku bisa diam dikatai payah?"


Emilia pura-pura tak dengar waktu Mama balik mengomelinya. Ia menfokuskan diri menyusui Yumi, menikmati deburan ombak yang terdengar samar di pagi hari.


"Emilia, Sayang-ku." Mama tahu-tahu berada di sampingnya, mengusap sudut mata Emilia. "Bukankah sudah waktunya memiliki mata baru? Semua akan lebih mudah jika kamu melihat. Benar, kan?"


Tentu saja Emilia juga sangat ingin melihat putrinya. Jauh lebih ingin dari siapa pun. Tapi mata ini hilang di waktu yang, bisa dibilang tak bisa Emilia lupakan.

__ADS_1


Ini bentuk kesetiaannya pada Mahesa. Sebuah kegagalan yang membuatnya harus kehilangan.


Samuel pasti tahu itu. Karenanya dia tak pernah memaksa, meski dia mengulang pertanyaannya dengan nada berharap.


"Tidak perlu, Ma." Emilia berucap yakin. "Aku masih bisa melakukan banyak hal tanpa mata."


Hari-hari ia harus dituntun ke kamar mandi tidak akan lama. Itu hanya karena Emilia baru melahirkan dan Samuel khawatir jika Emilia terjatuh.


Ia sudah sangat terbiasa dalam kegelapan.


Dan ....


"Aku sudah cukup melihat wajah banyak orang." Emilia tersenyum. "Aku lebih suka membayangkan wajah Sam dalam kegelapan. Juga, aku tidak sering kesal karena semuanya gelap jadi kurasa ini lebih baik."


Meski kentara itu pengalihan, Samuel tersenyum kecil. Datang berlutut di samping kursi Emilia, mengecup lengan yang memegang putrinya.


"Ma."


"Apa?"


"Aku mencintai Emilia."


Untuk kedua kali, Emilia mendengar suara kepala Samuel dipukul.


"Berhenti menggombal istrimu menggunakan Mama."


Samuel mendumel, tapi Emilia tergelak. Mengusik Yumi hingga anak itu menangis.


"Lihat, putrimu saja muak padamu."


"Hei, dia menangis karena senang. Anak bayi memang punya hobi menangis. Mama seperti tidak pernah punya anak."

__ADS_1


...*...


__ADS_2