
"Emilia, aku membuat—"
Ucapan Samuel terpotong oleh isyarat ibunya. Wanita itu mengangkat tangan, berbisik, "Ssshhh," dengan Emilia di pelukan. "Dia tertidur," ucap Mama nyaris tanpa suara.
Samuel langsung menganggukkan kepala, paham. Segera ia meletakkan steak yang ia buat, berganti membawakan Emilia selimut.
"Bagaimana bisa?" Samuel bertanya samar. Sedikit terkejut, terus terang, Emilia yang sensitif bisa tertidur dalam posisi duduk di pelukan seseorang.
"Kamu tahu kenapa wanita yang merawat anak?" Mama balas bertanya. "Karena sensitifitas kita berbeda."
"Ayolah, Ma."
Mama tertawa tanpa suara. "Dia lelah. Secara mental dan fisik."
"Bisa kupindahkan?"
"Ya."
Maka Samuel bergegas mengambil tubuh Emilia, sangat hati-hati memindahkannya. Gadis ini sangat tajam, karena itu ritme napas seseorang bisa membangunkannya.
Anehnya Emilia tertidur nyenyak sampai tak sadar Samuel meletakkannya di sofa dalam.
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Kamu ingin tahu yang kami bicarakan atau maksud pembicaraan?"
Samuel menatap ibunya. Kalau harus jujur, hal pertama yang membuatnya bangga jadi Samuel bukan diri sendiri tapi wanita ini.
"Katakan, Ma."
Mama mengusap perban yang juga melilit kening Emilia. "Mama mengerti kenapa Mahesa menolak dia. Dia membunuh Ahkam tanpa ragu, tapi dampak setelahnya cukup parah. Terutama Rowan, dan mungkin juga Soraya. Dia gelisah mendengar Mama berbicara. Takut didekati, defensif saat membicarakan dirinya. Mahesa benar. Ahkam sudah cukup bagi anak ini."
"Dia tidak menyadari siasat Mama?"
__ADS_1
"Tidak, mungkin? Hanya terlihat ketakutan di sana."
Samuel duduk. Meraih tangan Emilia meski ia setengah mati benci setiap kali memegang, ada cincin Rowan di sana. "Aku seharusnya mencegah pembunuhan Soraya."
"Kamu menyadarinya?"
"Hanya sekilas. Aku tahu Rowan akan jadi sasaran, tapi setidaknya terlintas pikiran Soraya berada di zona merah."
Mama bergantj mengusap kepala Samuel. "Lalu? Kamu tidak bertindak?"
"Aku tidak berpikir itu waktunya. Juga, aku tidak peduli."
"Dia baik-baik saja." Mama menepuk-nepuk bahunya. "Hanya butuh waktu menenangkan diri."
"Mama menyukainya?"
Samuel tersenyum sewaktu ibunya mengangguk. Itu sudah cukup.
*
Samuel mengaduk-aduk susu hangat untuk Emilia. Diam mendengar Nina bicara.
"Itu benar? Sam?"
Rashi selalu suka melakukan ini. Melindungi seseorang justru dibalik punggung orang yang paling berisiko melukainya.
Mungkin dia tahu Samuel cepat atau lambat akan menganggap Nina, saksi mata perbuatan Emilia, adalah ancaman. Dan Samuel memang menganggapnya.
Tindakan paling tepat adalah membuat Nina seolah-olah tertimpa musibah maut, sedangkan Samuel mengambil Nina untuk mengulitinya hidup-hidup.
Samuel sudah bilang. Ia tak peduli pada siapa pun dan apa pun. Dan Rashi tahu itu.
"Tidak bisakah kamu jujur? Kamu membenciku, Sam?"
__ADS_1
"Aku tidak menyukaimu. Hanya itu." Samuel menatap roti panggangnya yang hampir matang. "Aku menyukai Emilia. Itu bedanya."
"Aku bersamamu sejak lama."
"Suryanata bersamaku lebih lama daripada ibuku. Aku membunuhnya dan tertawa melihat dia mati. Begitu juga Argantana." Samuel menghela napas. "Berhenti menyuruh seseorang menyukaimu, Nina. Kalau dia menyukaimu, dia menyukaimu. Itu sederhana, kan?"
"Emilia tidak menyukaimu," balas Nina dengan suara tangisnya. "Gadis itu menolakmu. Kamu mengejarnya. Apa yang berbeda?"
"Tidak ada, pada proses. Karena itu aku tidak pernah menyuruhmu berhenti, kan? Kamu menggangguku, marah-marah hal tidak penting padaku, memperhatikanku walaupun aku tidak peduli padamu. Aku diam, karena aku menghargaimu."
"...."
"Hasilnya berbeda," tegas Samuel. "Karena Emilia menerimaku, aku menolakmu."
Nina hanya menangis.
"Aku akan bertanya walau jawabanmu mungkin sudah tertebak. Kamu mau melanjutkan perihal Emilia?"
Terdengar suara helaan napas tak percaya. "Untuk apa aku mempertaruhkan nyawa untuk Ahkam? Aku muak melihat mereka, oke? Aku berurusan dengan mereka karenamu."
"Ya, aku akan berterima kasih untuk itu." Samuel harus menghormatinya. "Tenanglah, Nina. Ahkam dan kamu berbeda. Aku tetap menghormati nyawa seseorang. Itu hanya ancaman agar kamu mengerti."
"Ya." Nina berusaha menghentikan tangisannya. Lebih terdengar seperti dia menangis kesal dan sedih. "Aku bertemu Rangga, omong-omong. Dia juga memintaku tidak menyebut Emilia lagi."
"Karena sekarang sudah berbeda."
"Kamu tidak akan kembali ke media?"
"Persetan dengan media. Aku akhirnya bebas dari pekerjaan palsu itu." Samuel bersungguh-sungguh mengatakannya. "Akan kututup. Tidak perlu menghubungiku lagi. Aku meletakkan orang menjagamu jika khawatir."
Karena tangan Samuel penuh, ia berencana meninggalkan ponsel itu dan Nina menutupnya sendiri. Tapi saat Samuel berjalan pergi, Nina mengatakan sesuatu.
"Aku senang," gumam gadis itu. "Setidaknya kamu sekarang terlihat hidup. Dan cerewet."
__ADS_1
Samuel mendengkus. Tetap berjalan, menuju sofa di mana Emilia tertidur semalam.
*