
Dicuci tangannya seperti biasa, mandi dengan bersih karena sepertinya ia agak berkeringat, lalu keluar ke tempat tidurnya.
Bibir Emilia kembali mengulas senyum. Bukan pada mayat namun pada sosok Mahesa di kepalanya.
"Aku tidak pernah melupakan ajaran Senior padaku. Dari yang terkecil sampai yang terbesar."
Hanya hening yang menjawabnya.
"Aku tidak ingin balas dendam pada Ahkam. Itu tidak penting. Ayah Ibu tidak akan hidup jika Ahkam mati. Jadi untuk apa?"
Emilia mengelus-elus lengannya yang masih terasa agak kaku oleh racun ular kemarin.
"Karena itu terima kasih sudah memberi alasan."
Argantana Ahkam.
Sebagai manusia, Emilia tidak membencinya.
Namun sebagai sesama raja, Emilia tidak bisa membiarkan dirinya dijajah tanpa perlawanan.
"Akan kuruntuhkan tempatmu." Emilia membuang mayat itu dari jendela setelah yakin pengawas telah pergi. "Akan kuratakam dengan darah semua usahamu."
Emilia menopang dagu sambil memandangi tampilan langit gelap di atas sana.
"Karena aku dan kamu sama. Kamu tidak menghargaiku, aku tidak menghargaimu. Kamu merampas milikku, aku akan menginjakmu. Pemenangnya hanya yang bertahan paling akhir. Bukan begitu?"
Senyum Emilia hanya dibalas oleh keheningan.
*
Keesokan harinya, Emilia bangun ketika pintu kamarnya diketuk berulang-ulang.
Emilia merasa sedikit kelelahan. Punggungnya sakit karena ia tidur di lantai dingin.
Ada perasaan tak nyaman dalam dirinya. Membuat Emilia agak oleng saat berjalan mendekati pintu yang sudah ia tahu pasti Samuel.
"Ema."
__ADS_1
Emilia pusing. "Ada apa?"
"Ke mana kamu semalam?"
"Kamu menyuruhku berdiam diri di kamar jadi kurasa aku pergi ke kamar mandi selain di kamar ini." Emilia memiringkan wajah. "Ada apa?"
Wajah itu mengamatinya serius. Sangat dalam dan penuh kalkulasi sementara Emilia hanya memiringkan wajah heran, lalu berpaling tak peduli.
Ia kembali ke bantalnya di dekat tempat tidur, masuk ke dalam selimut karena dingin.
"Kenapa tidur di lantai, Ema?"
"Ranjangmu terlalu luas dan bergerak-gerak. Kepalaku pusing." Emilia menggigil oleh dingin di punggungnya. "Abaikan saja. Kalau tidak ada perlu, pergilah. Aku harus tidur."
Samuel malah berjongkok. Mengulurkan tangan ke wajahnya.
Kelopak mata Emilia hanya terpejam. Merasakan telapak tangan dingin Samuel di sana.
"Kamu demam. Apa perlu kupanggil dokter?"
"Ini hanya demam."
Emilia diam saja. Tidak merasa harus menjawab.
Ia merasa sebentar lagi akan tidur ketika suara Samuel tiba-tiba terdengar.
"Orang yang memukulmu kemarin mati."
Ya, Emilia tahu.
Matanya menyaksikan sendiri, makanya ia tak merasa harus terkejut.
Sayang sekali Emilia bukan penyuka serangga. Jadi ia tak terlalu merasa kasihan saat seekor ulat menggeliat tercekik.
Justru ia menginjaknya agar dia cepat mati dan berhenti menggeliat.
Daripada peduli, Emilia menyamankan diri dan bersiap tidur nyenyak karena ia lelah.
__ADS_1
*
Samuel merasa sedikit tidak waras.
Pagi-pagi buta pintu kamarnya digedor hanya untuk mendengar pemberitahuan bahwa ada dua orang mati ditemukan di tempat berbeda.
Pertama adalah pelayan dapur, ditemukan tergeletak di halaman depan dekat halaman belakang, lalu kedua Idrus.
Ditemukan tewas karena overdosis obat.
Di malam yang sama.
Reseptor Samuel tidak memberikan sinyal seperti kemarin. Tidak ada getaran mencurigakan di kasur Emilia sepanjang malam. Dan dilihat dari kondisinya sekarang, dia bahkan terlalu lemah untuk membuka mata.
Kenapa Samuel bisa berpikir dia melakukan?
Jelas saja bukan. Samuel menghela napas.
Merutuki dirinya yang entah kenapa merasa gelisah.
Itu pasti hanya kebetulan. Lagipula Idrus memang tidak waras dalam mengonsumsi narkoba. Dia mungkin terlalu tidak waras sampai memakan habis sebungkus narkoba hingga overdosis dan mati.
"Ema, kamu keberatan jika aku menemanimu dulu? Suasana rumah sedang buruk."
Dia bahkan tidak terlalu peduli untuk membalas. Nyaman dalam tidurnya meski kedinginan.
Untuk sesaat saja, Samuel merasa itu lucu.
Dia memang gadis desa yang polos dan tidak akan ditemukan dua kali dalam hidupnya.
Bukan dia pelakunya.
Tidak ada motif tertentu bagi Emilia kecuali soal dia dikerasi kemarin. Namun Emilia yang bahkan tidak melawan saat dipukuli memang bisa apa?
Dia hanya perempuan biasa.
Perempuan desa.
__ADS_1
Untuk sementara Samuel akan mengawasinya. Memastikan dan untuk melindunginya kalau-kalau semua ini propaganda seseorang.
*