Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
67. Begging Her Attention


__ADS_3

Samuel duduk termenung selama Mahesa berada di ruangan Emilia. Perasaan Samuel sedikit buruk, karena dari awal hingga sekarang, Emilia masih belum merubah sikapnya sama sekali.


Hanya Mahesa. Atau mungkin juga Rowan.


Tidak pernah Samuel.


"Patah hati karena wanita?"


Samuel mendengkus atas pertanyaan Nine yang tiba-tiba muncul itu. Paling tidak ia berharap dalam hati kalau orang ini tidak jadi satu dari segelintir orang yang Emilia beri sikap baik.


"Bagaimana?" tanya Samuel, tak mau mendengar ejekan.


Mata Emilia terluka parah. Sulit untuk mengakuinya tapi mata kanan Emilia buta. Karena itu Samuel langsung meminta Nine untuk mencari mata pengganti yang bisa sesuai untuk Emilia.


Sayangnya, Mahesa punya banyak hal tapi belum punya koleksi mata manusia.


"Ayolah, Sam. Kamu mau membeli mata manusia dan berharap itu hadir dalam semalam?" Nine mengeluarkan batangan rokok dari sakunya. "Daripada itu, aku ingin bertanya sesuatu."


"Apa wajahku terlihat mau ditanya sesuatu?"


"Mungkin?" Nine mengangkat bahu. "Okay, whatevs. Tell me, bro. You can get any girls out there, so why you begging for her attention?" [Baiklah, terserah. Katakan padaku. Kamu bisa mendapatkan gadis manapun di luar sana, lalu kenapa kamu memohon perhatiannya?]


Samuel mendengkus. "You've never been in love, right?" [Kamu tidak pernah jatuh cinta, kan?]


"Is that a question?" balas Nine datar. [Itu pertanyaanmu?]


Samuel beranjak. Menepuk-nepuk debu dari celananya sebelum ia berjalan pergi. "Doesn't metter, anyway." [Tidak penting.]


Ia menjawab tanpa berbalik.

__ADS_1


"Karena yang penting adalah aku menginginkan Emilia."


...*...


"Harusnya dia menjawab pertanyaanku."


Emilia menoleh pada kegelapan di mana ia tahu Nine duduk. Mereka kini berada di helikopter, melintasi langit malam menuju tempat baru di waktu Samuel sedang sibuk mengurusi buntut panjang dari kematian keluarga Ahkam.


Tentu saja, Emilia tak berpamitan. Ia hanya pergi berdua dengan Nine.


"Apa maksudmu?"


"Aku bertanya pada Samuel mengapa dia terobsesi padamu."


"Memang ada apa jika dia menjawab pertanyaanmu?"


Emilia mendengkus atas candaan konyol itu. Memeluk boneka pemberian Mahesa sambil berharap mereka segera tiba.


Mereka tidak akan pindah ke desa yang sama. Emilia sudah meminta Mahesa untuk membawanya ke pulau lain, agar Samuel tidak menemukannya.


Walau kemungkinan dia akan menemukan Emilia cepat atau lambat, paling tidak dia akan kesulitan, dan kalau bisa muak.


"Kalau begitu aku bertanya padamu, Emilia. Kenapa kamu menolak Samuel Ahkam?"


"Kenapa aku harus menerima dia?"


"Kamu menolak Samuel karena Mahesa, benar?"


Emilia ingin tertawa tapi menghela napas. "Kenapa kamu harus menanyakan sesuatu yang terlalu jelas?"

__ADS_1


"Aku tidak bilang kamu menolak Samuel karena menyukai Mahesa. Yang aku katakan, kamu menolak Samuel ... karena dia sesuatu yang membuatmu sadar bahwa Mahesa menolakmu."


"Tidak ada bedanya."


"Tapi aku merasa kamu menaruh perhatian pada Samuel."


Emilia berdecak. "Berhenti bercanda, Nine. Aku ingin beristirahat."


"Baiklah."


Sulit untuk melihat, tapi Emilia yakin Nine sedang menertawakannya.


...*...


"Aku bertanya-tanya kenapa sebenarnya aku menyukai gadis itu." Samuel mendumel seraya memandangi layar ponselnya, di mana tampilan lokasi Emilia menunjukkan dia berada di luar pulau.


Ya, apa kalian pikir Samuel itu bodoh? Tentu saja ia tahu Emilia berencana meninggalkannya sejak lama.


Jadi ketika Mahesa selesai mengambil alih semua dokumen yang dibutuhkan, media telah disogok, dan tentu saja kematian Ahkam terkubur bersama jasad mereka, Samuel tahu itulah waktunya Emilia pergi.


Makanya Samuel memasang pelacak ke boneka Emilia.


Omong-omong, boneka itu pemberian Samuel. Ia yang meminta Mahesa tidak mengatakannya.


"Aku tidak tahu apa yang dia benci dariku." Samuel melempar ponselnya ke atas meja. "Apa yang kurang dariku? Aku berbuat salah? Aku merendah dan melakukan apa yang tidak kusukai agar dia memberi perhatian tapi lihat? Dia pergi. Begitu saja."


Ryo dan Riu hanya diam melihat atasan mereka mondar-mandir.


...*...

__ADS_1


__ADS_2