
Dasar orang gila.
Nina pucat pasi saat menyerahkan ponselnya sebagai barang bukti bahwa Ema membunuh Rowan. Seluruh Ahkam guncang. Terlebih Nina melihat jelas Samuel malah berlari untuk membawa Ema, alih-alih menyerahkannya.
Ia tak peduli pada Ahkam, namun bagaimana bisa Samuel melakukan ini hanya untuk pembantunya?
"Rashi, bagaimana proses introgasimu tadi? Dia tidak menunjukkan gelagat aneh?"
Tim investigasi yang menyertakan Rashi masih diam di kediaman Ahkam. Mereka membantu proses penyelidikan sekaligus menjadi saksi.
Rashi datang, membawa beberapa lembar dokumen yang baru saja dicetak.
"Kami mencatat ada kecenderungan apatis dalam diri tersangka. Tapi dari bukti penggeledahan, tidak ditemukan barang-barang aneh selain buku catatan kosong."
"Bagaimana dengan sidik jari?"
"Sidik jarinya tidak terdaftar dalam catatan sipil mana pun. Identitas yang dia miliki dipalsukan, termasuk sidik jari. Bisa dikatakan, tersangka Ema punya persiapan."
Tentu saja, Rashi hanya memberi kalimat yang diperlukan. Dia memberi bukti yang memberatkan Emilia, tapi tidak dengan petunjuknya.
Tidak ada petunjuk.
Karena tidak pernah ada yang tahu siapa Emilia kecuali Mahesa.
...*...
"Ema—tidak. Emilia." Samuel mengusap-usap jari manis Emilia, tempat di mana cincin Rowan tersemat. Jelas terlihat dia mau melepaskannya, tapi Samuel terus menahan diri. "Hidup bersamaku."
__ADS_1
Pria ini dipenuhi omong kosong. Emilia menarik tangannya, bermaksud untuk beranjak pergi ketika Samuel tiba-tiba memeluknya.
"Lepas."
"Maafkan aku, berbohong banyak hal padamu." Samuel berbisik di bahunya. "Aku sudah mencurigaimu sejak awal tapi berpura-pura. Aku pun tahu kamu beberapa kali memancingku mencurigaimu, tapi aku bersikap tidak tahu. Jangan marah padaku, Emilia."
"Marah padamu? Untuk apa?"
"Emilia—"
"Aku tidak peduli padamu." Emilia menepis Samuel, beranjak keluar meski beberapa bagian tubuhnya sakit.
Di luar ternyata ada Mutia dan Darto menunggu.
"Di mana Senior?"
"Mari saya antar, Nona."
Sementara itu, Mutia mengarahkan Emilia ke ruangan di mana Mahesa berada. Sejenak Emilia terkejut menemukan itu adalah ruangan aneh dipenuhi perangkat komputer, sejumlah layar dengan penampakan di berbagai sudut, poster-poster aneh, dan pengaturan lampu neon berwarna.
Mata Emilia langsung berat menatapnya.
"Emilia, kamu sudah baik-baik saja?"
"Ya, Senior." Emilia mengambil kursi persis di sisi Mahesa. "Apa semua ini?"
"Layar yang mengawasimu." Mahesa bergeser, lalu kursi seseorang yang wajahnya buram di mata Emilia mendekat. "Ini kepala tim cyber-mu. Yah, hanya butuh dia mengawasimu, terus terang."
__ADS_1
"Halo, Emilia."
Emilia mengerutkan kening, pening. "Aku tidak melihat wajahmu tapi salam kenal."
Lewat mata rabunnya, Emilia melihat pria itu mau mencium tangannya. Tapi sebuah tangan langsung menepis, berganti menjadi Samuel yang menjabatnya.
"Aku akan minta ganti rugi atas seranganmu beberapa waktu lalu. Ternyata Number."
Number adalah pasukan utama Mahesa yang terdiri dari kepala pertahanan, kepala ofensif, dan lain sebagainya. Tapi Nine tergelak.
"Aku bukan Number. Mungkin hanya sisa?"
"Nine adalah bagian dari calon pasukan inteligen-ku. Dia bukan Number." Mahesa menjelaskannya pada Emilia. "Sebut saja dia penjagamu, Emilia. Dia bekerja untukmu, bukan aku."
"Itu mudah dimengerti. Terima kasih, Senior."
"Serangan kemarin, Emilia yang memerintahkannya?" tanya Samuel.
Emilia membuang muka. Sementara Mahesa tergelak sebagai jawaban bahwa itu memang keinginan Emilia.
"Kalau begitu, aku menawarkan kerja sama." Samuel tiba-tiba berucap. Masih dengan tangan menahan kursi Emilia, seakan dia siap menariknya jika Mahesa atau Nine mendekat. "Oto akan bergabung dengan Emilia."
Orang ini ....
Dia membaca betul rasa hormat Emilia pada Mahesa, dan tahu keinginan Mahesa adalah Oto. Jika di sini Emilia menolak, maka itu sama saja ia menolak perintah Mahesa di depan wajah Mahesa.
Brengs*k.
__ADS_1
"Bagaimana, Emilia?" Samuel tersenyum tanpa dosa.
*