
Menurut Emilia, ada satu yang spesial dari Samuel meski itu bukan spesial bagi Emilia.
Dialah yang mengulur-ulur waktu permainan ini.
Mata Samuel, gelagatnya, responsnya, sedikitpun dia tak simpati melainkan antusias. Bagi dia, kematian Soraya adalah pintu terbuka menuju pelaku.
Tentu saja, Emilia tidak sedang berkata bahwa kejamnya dia, bengisnya dia, tidak berhatinya dia. Karena yang membunuh Soraya pada akhirnya Emilia.
"Ema."
Emilia harus membiarkan Samuel memegang tangannya hari ini. Nine repot-repot membuka 'gerbang' untuk Emilia, jadi sekarang ia benar-benar harus serius.
"Tentang hal yang ingin kutanyakan ...."
"Kamu menyukaiku?"
Samuel mengatup mulut.
"Apa menurutmu aku sebodoh itu? Wanita yang tidak pernah bersentuhan dengan pria. Tentu saja aku polos. Begitu?" Emilia menarik tangannya dari Samuel. "Matamu yang mengulitiku sudah cukup menjelaskan."
"Ema." Dan Emilia tahu Samuel akan kembali memegang tangannya. "Ema, tolong."
"...."
"Aku tidak akan melakukan hal bodoh tentang ini. Aku—"
"Aku hidup dalam kepura-puraan." Emilia menarik napas pendek. "Aku membenci pria yang berpura-pura."
Sesaat setelahnya Emilia beranjak, meninggalkan Samuel yang terdiam membisu.
Dia masih belum berterus terang. Artinya dia masih mau mengulur-ulur waktu.
__ADS_1
Tapi Emilia sudah tidak ingin.
...*...
Samuel bisa mendengar suara langkah kaki Ema menjauh. Ia diam, beberapa waktu meresapi keheningan sebelum ia tersenyum. Di bekas tempat duduk Emilia terdapat helaian rambut panjang yang jatuh.
Samuel meraihnya, menyimpan itu baik-baik.
Dia cerdas. Sejak awal, Ema cerdas. Dia tahu Samuel diselimuti kepura-puraan.
"Tapi aku tidak bisa bersikap jujur." Samuel membelai kelopak mawar segar di pot bunga itu. "Aku tidak bisa sampai waktunya tiba, Ema."
Waktu itu jelas ditentukan oleh Ema sendiri.
...*...
Jika muncul pertanyaan siapa sebenarnya Emilia, maka perlu penjelasan siapa sebenarnya Mahesa Mahardika.
Emilia bukan satu-satunya orang yang Mahesa pelihara. Ahkam dan Nugraha bukan satu-satunya 'bank' yang Mahesa rampok. Dia punya berbagai organisasi berisi calon ******* di lapangan bersama senjata buatan dan bom, dia punya cyber terrorist yang jelas bukan hanya Nine, punya sejumlah ahli strategi, punya peta rencana sangat matang mungkin puluhan tahun kemudian.
Dia orang hebat, orang menakutkan, orang yang menciptakan banyak orang dengan caranya sendiri.
Emilia adalah ciptaan Mahesa. Segala sesuatu tentang dirinya dibuat oleh Mahesa.
Pola pikir, sudut pandang, pengetahuan, mungkin juga keyakinan, pola hatinya, apa pun ... Mahesa yang menciptakan.
Jadi Emilia adalah apa yang Mahesa mau dirinya menjadi.
"Kamu sedang apa?"
Termasuk menjadi seorang gadis tanpa hati, mendatangi kakak dari perempuan yang ia bunuh tadi malam.
__ADS_1
Rowan Ahkam menoleh atas kedatangannya. Tak banyak bersuara ketika Emilia duduk.
"Baik-baik saja kamu di sini?" tanya Emilia lagi.
Pemuda itu mengatup mulut cukup lama. "Ini tempat ibuku dan Soraya sering bersama dulu."
"...."
"Jika harus jujur, mereka berdua bukan wanita baik-baik. Kamu tahu, ibuku wanita desa tapi mungkin karena hidupnya itu, dia terobsesi menjadi sempurna dan ... berkuasa. Ibuku selalu bilang padaku, aku harus mematuhi ayahku, menggantikan dia suatu saat dan menjadi orang yang menurut ibuku hebat. Punya banyak uang atau apa pun itu."
Emilia membiarkan dia bicara.
"Di usiaku yang ke sepuluh, kurang lebih, aku tahu ayahku membunuh anak kecil seusia Soraya untuk memenangkan pertarungan bisnis menyebalkan. Aku hanya diam mendengar ceritanya. Yang kulihat, ayahku tidak melakukan apa-apa, hanya memerintah. Selama bukan tanganku yang berlumuran darah, bukan dosaku."
Apa yang coba dia katakan?
"Lalu ibuku mati dan aku melihat Soraya menangis." Rowan menoleh padanya. "Sejujurnya saat itu aku berpikir ... apa aku benar-benar harus hidup seperti ini?"
"Kamu hidup di sini, sampai sekarang," balas Emilia samar.
"Karena pada akhirnya aku diam saja."
Emilia memijat tengkuknya sendiri. Entah kenapa ada perasaan tidak nyaman akibat mata Rowan.
"Ema."
"Hm?"
"Aku menyukaimu."
Apa?
__ADS_1
*