Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
44. Malam Kejujuran


__ADS_3

Jam menunjuk ke pukul setengah satu malam ketika Nine beranjak dari sofa tempatnya bermain game, pindah ke depan komputer di mana ia memantau Emilia.


Sejauh ini, Ahkam atau Samuel belum mengambil tindakan pencegahan. Namun sepertinya Samuel sudah menyadari ada kemungkinan dia diawasi, karena nyaris tak ada celah bahkan dari sudut pandang Nine.


"Mari lakukan ini dengan mudah." Nine membuka obrolan dengan akun Soraya, yang terlihat dari kamera komputernya tengah berbaring nyenyak di kasur.


Nine mengirim jumlah kalimat, membuat Soraya terusik oleh runtutan notifikasi. Tentu saja, ia mengirimnya dari akun Nina.


^^^Soraya.^^^


^^^Ada sesuatu yang kudapatkan^^^


^^^tentang gadis desa itu.^^^


^^^Lihat ini.^^^


^^^Ini fotonya dengan pria asing di klub^^^


^^^sewaktu kami di Lombok.^^^


^^^Setelah kutelusuri, barista yang bersama^^^


^^^Ema itu mengirim sejumlah uang ke^^^


^^^rekening atas nama Ema.^^^


Nine mengusap dagunya, memikirkan sebuah cerita asal yang cukup dramatis untuk bocah emosional ini.


Bibi serius?


Kita harus memberitahu Paman!


^^^Setelah apa yang terjadi,^^^


^^^apa menurutmu mereka mendengar kita?^^^


^^^Sam hanya akan berpura-pura tidak tahu!^^^


^^^Rowan juga membela gadis itu.^^^

__ADS_1


Bibi benar.


^^^Lalu, lihat ini.^^^


Nine tertawa kecil mengirimi sejumlah gambar editan yang terlalu mulus untuk disadari mata orang awam. Akan ia hapus setelah ini, jadi tidak akan ada jejak bukti.


^^^Aku menyuruh seseorang^^^


^^^menyelidiki jejak digitalnya.^^^


^^^Ema punya ponsel dan dia^^^


^^^menyimpan ini di ponselnya.^^^


Semua file yang Nine kirimkan adalah file yang memberi kesan Soraya bertindak agresif pada Samuel, yaitu pamannya sendiri. Tak lupa, ia menyertakan foto Seline dan Samuel.


Ini adalah gelombang yang akan membantu Emilia.


...*...


Soraya berusaha mengatur napasnya membaca serentetan pesan dari Nina. Benar pasti gadis itu. Semuanya mulai tak normal sejak dia datang.


Tapi Nina benar. Sejak awal gadis itu selalu berlindung di balik punggung Samuel. Berkoar-koar tak pernah berhasil menjatuhkan dia.


Akan kubalas dia. Soraya beranjak tergesa-gesa, memakai sandal bulu-bulunya dan berlari keluar kamar. Ia tahu tidak akan bisa menjatuhkan Ema dengan gosip, jadi mari buat bukti bahwa dia pelakunya.


Jika Papa melihat langsung, Rowan melihat langsung dan Samuel juga semua orang melihatnya sendiri, maka mereka mau tidak mau percaya.


Soraya menatap sekitaran waspada. Ia harus memastikan tidak ada siapa pun sebagai saksi. CCTV juga tidak diletakkan di depan lorong kamar, jadi tidak ada jejak.


Tok tok tok.


"Ema." Soraya menatap was-was pintu kamar Samuel, khawatir jika dia masih terjaga dan mendengar. Tapi, ia juga terus mengetuk pintu. "Ema, buka pintumu."


Malam ini gadis itu harus diusir.


...*...


Emilia terlalu mengantuk untuk beranjak, tapi suara Soraya membuat kepalanya sakit hingga mau tak mau Emilia harus datang.

__ADS_1


Entah apa lagi dramanya.


"Ada apa?"


"Aku butuh bantuan."


Sejak kapan aku jadi pusat bantuan bagimu? "Untuk?"


"Ikut aku."


Kecuali orang tol*l, tidak mungkin seseorang tidak menyadari anak ini merencanakan sesuatu. Dan karena dia tol*l, dia diam saja membiarkan Emilia mengikutinya.


Dan ketol*lan selanjutnya adalah dia berhenti di tengah tangga, berbalik menatap Emilia.


"Siapa kamu?" Matanya menyiratkan sesuatu.


Meski tol*l, ada alasan dia melakukan ini. "Bukankah sudah—"


"Aku bertanya siapa kamu?! Kamu pikir selamanya bisa menyembunyikan itu, hah?!"


Emilia memejamkan mata. Inderanya menelisik tidak ada kehadiran seseorang selain mereka berdua di sini.


"Kurasa tidak ada pilihan." Emilia menghela napas. "Baiklah. Namaku Emilia."


Ketol*lan selanjutnya, dia terkejut. Dia curiga tapi dia tidak siap jika kecurigaannya benar.


"Ikut aku."


"Apa?! Hei, akulah—"


"Kamu ingin tahu atau terus membuat keributan dan semua orang menganggapmu menyebalkan?"


Ketol*lan selanjutnya, dia ikut.


Emilia membawa dia ke kamarnya. Dan bicara apa adanya. "Namaku Emilia. Emilia Nugraha."


"Omong kosong apa—"


"Your daddy was killing my parents."

__ADS_1


*


__ADS_2