Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
22. Nona Desa Bernama Ema [REVISED]


__ADS_3

Esoknya Emilia keluar dari kamar karena gedoran pintu. Bahkan baru terbuka pintu di tangannya, sudah melayang sebuah gaun ke wajah Emilia.


"Aku tidak akan memberitahumu dua kali jadi dengarkan. Pakai itu dan jangan permalukan Sam sama sekali karena jika kariernya hancur, maka hidupmu pun tidak cukup mengganti itu. Paham?!"


Brak!


Mata Emilia dingin menatap gaun yang telah jatuh ke lantai nyaris bersamaan dengan pintu ditutup.


Hidup Emilia tidak lebih berharga dari karier palsu Samuel, katanya?


Gadis yang sombong.


Emilia mau coba mengerti bahwa dia putus asa akan perasaannya pada Samuel. Tapi sepertinya Emilia tidak perlu terlalu bersabar. Kalau itu yang dia mau, Emilia tidak keberatan memberikannya.


Tidak pernah sekalipun Emilia berkata bahwa ia akan hidup menyedihkan.


Emilia memakai pakaian yang diberikan. Tidak memakai kacamatanya agar bisa lebih sensitif mendengar suara di sekitaran.


Lepas bercermin sekilas, Emilia keluar dari kamar itu, agak bersamaan dengan Samuel yang keluar dari kamarnya.


"Ema." Dia tersenyum.


Tapi Emilia mengabaikannya. Menunggu dia berjalan karena lebih baik mereka segera pergi.


"Bagaimana kondisimu?"


Dia malah berhenti untuk bertanya.


"Bukan urusanmu." Emilia lebih suka menatap ke bawah.


"Ema, aku hanya—" Dia berhenti sendiri. Tiba-tiba diam sebelum akhirnya tersenyum lagi. "Aku pasti mengganggumu. Baiklah. Maaf."

__ADS_1


Orang tidak jelas.


Karena dia tidak banyak bicara lagi, Emilia pun bisa tenang mengikuti Samuel.


Di mobil lagi-lagi Emilia harus mendengarkan ocehan mereka. Bukankah Samuel itu penyanyi? Kenapa rasanya kehidupan dia lebih mirip artis yang bekerja dengan berakting?


Klub malam yang mereka datangi lokasinya tidak terlalu jauh. Emilia sempat mendongak untuk melihat papan bercahaya di atas pintu, tapi tidak dapat membacanya karena buram.


Mereka langsung berjalan masuk dan bergabung dengan semakin banyak orang.


Emilia merasakan kepalanya berdenyut-denyut sakit. Tanpa kacamata, telinganya sangat sensitif. Karena ia merasakan pergerakan, apa pun itu dengan telinga sebagai pengganti mata.


Suara musiknya mengacaukan jantung Ema.


"Hei, pergilah ke sana dan tunggu aku." Nina mengarahkan tempat untuknya.


Emilia terlalu sakit kepala untuk berpikir. Ia lebih suka menepi daripada ikut-ikutan kelompok itu, pergi ke sebuah meja dekat tempat rak minuman bersusun dibalik konter.


"Butuh sesuatu, Nona?"


Emilia mengerjap. Matanya berkunang-kunang lantaran telinganya dimasuki suara tanpa henti. "Apa saja yang membuat kepalaku tidak sakit."


Dia tertawa. Lalu pergi dan sepertinya membuat sesuatu.


Suara seseorang bicara dengan mic tapi berteriak terdengar. Mengatakan bahwa Samuel ditunggu-tunggu telah datang, disusul teriakan didominasi oleh wanita.


Tempat menjengkelkan ini.


"Dwi, dia orangku." Tiba-tiba suara Nina terdengar, mencegah pria tadi menyerahkan minuman yang hampir Emilia minum. "Beri dia sesuatu yang rendah alkohol saja. Dia orang desa."


Pria itu mengangkat bahu. "Orang desa datang ke klub, menarik. Siapa namamu, Cantik?"

__ADS_1


"Ema."


"Ema. Orang desa bernama Ema. Baiklah. Akan kubuatkan sesuatu yang manis." Dia pergi lagi meracik minuman.


"Sementara diamlah di sini. Dan jangan minum alkohol!"


Jadi yang ada di rak itu alkohol? Mahesa tidak pernah memberitahunya sesuatu tentang klub malam, jadi Emilia pikir tempat ini mirip restoran.


"Soda untuk Nona Desa Bernama Ema." Dwi itu datang, menyerahkan minuman begitu saja. "Cobalah dan puji aku."


Emilia menyesapnya. Agak berjengit oleh rasa menusuk-nusuk di lidah. Dirinya tak pernah minum soda, jadi jelas saja Emilia terkejut.


Barista itu mengajaknya bicara setiap kali tidak ada pelanggan. Dia sibuk bertanya banyak hal sampai Emilia terganggu, namun menjawabnya untuk menghabiskan waktu.


*


Udara ... sedikit panas.


Samuel menatap dingin dari sisi panggung sosok Ema dan berista berbicara. Meskipun dia bukannya sedang tertawa atau dirayu, Samuel merasa dia sedikit lebih ramah daripada saat bersama Samuel.


Bukankah dia bahkan terang-terangan membenci Samuel?


"Sam? Ada apa?"


"Siapa yang bersama Ema?"


"Hah? Barista temanku, Dwi." Nina memicing. "Sam, kamu ... jangan bilang kamu memikirkan pembantumu saat kamu berada di panggung seperti ini?"


"Aku hanya khawatir karena Ema baru pertama kali datang ke tempat semacam ini." Sejujurnya Samuel juga tidak tahu ia kenapa, jadi dirinya berkilah. "Ayo selesaikan ini. Kepalaku mulai sakit."


Daripada Nina terus mengoceh dan mengganggunya, Samuel segera bergerak.

__ADS_1


*


__ADS_2