Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
45. I'm Unreachable


__ADS_3

Soraya terheyak mendengar aksen Emilia yang fasih. Napasnya mulai memburu, sungguhan tak siap dengan semua informasi ini. "You killed her?"


"Them," koreksi Emilia.


Sesaat sebelum Soraya berlari, Emilia menariknya, menutup mulutnya rapat-rapat.


"Ada sesuatu yang harus kutanyakan padamu, sejak awal, Soraya." Emilia mencabut jarum beracun dari lengannya tanpa melepaskan bekapan mulut Soraya. "Aku ingin tahu kenapa sebenarnya aku harus peduli padamu?"


Gadis itu menggigil.


"Ayahmu membunuh orang tuaku. Mereka mati dan aku terisolir dari dunia. No one knows about me. No one. Besides, I'm unreachable. Ema, Emilia, siapa pun yang kusebutkan, mereka tidak tahu siapa aku. Itu hidup yang ayahmu berikan padaku."


"...."


"Aku tidak datang balas dendam. Aku bukan anak kecil bodoh yang larut dalan emosi tidak penting. To be honest, I don't give a **** about anything. I don't know about my parents, I don't even like them. Marah atas kematian mereka bukan urusanku. Tapi seseorang memintaku untuk Samuel. Mereka ingin bekerja sama dengan Samuel. Hanya itu."


Soraya mulai menangis dan Emilia sudah bilang, ia tak peduli pada apa pun.


"Tapi di hari pertama aku datang, kamu memusuhiku tanpa alasan. Bagiku, alasanmu tidak masuk akal. Aku orang desa dan kamu Soraya Ahkam. Aku bersama Samuel, kamu menyukai Samuel."


"...."


"Di hari pertama yang sama ayahmu mengirim ular ke tempat tidurku hanya untuk memastikan reaksi Samuel. Aku tidak penting. Hanya barang. Hanya benda. Hanya sesuatu yang tidak terlihat."


"...."


"Sejujurnya aku mengerti hal itu. Aku pun memperlakukan kalian demikian. Jadi, ini bukan balas dendam. Ini sesuatu tentang aksi dan reaksi. Kamu mengerti teori fisika? Aku khawatir otak tol*lmu tidak akan mengerti."

__ADS_1


"...."


"Aku melihatmu dan keluargamu bahagia ketika aku terkurung dalam persembunyian. Aku menyukai kurunganku. Tapi aku berpikir ... apa selama ini aku menghinakan diriku karena ayahmu?"


Emilia menghela napas. Menusukkan jarum halus ke telapak tangan Soraya sebelum melepaskannya.


"Aku hanya tidak mengerti apa perbuatanku pada kalian sampai aku harus terus menerima itu. Apa uang? Kekuasaan? Jika benar, maka itu masuk akal."


Emilia berjongkok di depan mayat gadis itu.


"Uang dan kekuasaan kadang sangat mahal, Soraya. Karena itulah aku tidak menyukainya."


...*...


"Apa Mahesa masih terbangun?"


Panggilan darurat Nine dijawab oleh istrinya Mahesa, Rashi. "Tidak. Dia baru saja terlelap. Ada apa, Nine?"


"Ya. Dan tidurlah juga."


Nine mendengkus, mengirim video pada Mahesa yang akan dia buka nantinya.


Ia menyesap cokelat manis panasnya seraya melihat Emilia duduk di dekat mayat Soraya.


Dia banyak bicara, adalah apa yang Nine pikirkan.


Beberapa saat Nine tersadar handphone Soraya di lantai bisa ia jadikan alat berkomunikasi.

__ADS_1


Maka segera, ponsel yang sejak awal telah ia sadap itu Nine hubungkan dengan komputernya.


"Itu pembunuhan yang emosional, Emilia."


Gadis itu menatap ponsel yang kini hanya diisi oleh logo Shi dan bunga higanbana sebagai simbol untuk operasi mereka ini. "Aku hanya muak pada mereka."


"Merasa bersalah?"


"Apa rasa bersalah bisa mengurangi arogansi mereka?"


"Na." Nine mendorong kursinya untuk menambahkan air pada gelas cokelat, sembari terus berbicara. "Besides, Ahkam memang harus musnah untuk kemenangan perang kita. Kamu membunuhnya sekarang atau nanti tidak benar-benar akan merubah apa pun."


"Kamu yang memprovokasinya?"


"Hanya bermain trik kecil. Sesuatu yang disebut strategi."


"Maka itu baik." Emilia beranjak. "Aku perlu memindahkan dia."


"Akan kubuat alasan kematian dari sini. Cukup kembalikan dia ke kamarnya. Akan kupantau."


Nine menyandarkan kepala pada kursinya saat menyaksikan Emilia mulai membawa tubuh Soraya.


Sekilas, Nine tersenyum.


Dia gadis yang lemah. Mungkin karena itulah Mahesa hanya menggunakan dia sebagai umpan untuk Samuel.


Kesepian, sendirian, tidak memiliki apa pun kecuali hatinya sendiri.

__ADS_1


Mungkin jauh di hatinya, dia merasa tidak melakukan apa yang benar-benar dia mau.


*


__ADS_2