
"Paman Sam."
Tangan Samuel mengelus kepala Soraya. Meski dia anaknya Argantana, Samuel tidak terlalu memedulikan karena dia tidak mengusik Samuel.
Kecuali kenyataan kadang-kadang dia terlalu manja.
"Paman, aku menunggu Paman turun agar bisa makan bersama. Ayo, ayo."
Samuel membiarkan tangannya ditarik. Masuk ke ruang makan di mana Rowan, Seline, dan sejumlah keponakan Samuel sedang makan siang juga.
"Paman Sam!" Saline melambaikan tangan dan Samuel balas tersenyum.
"Apa Paman sudah baik-baik saja?" Rowan bertanya tenang.
Kesannya dia bertanya Samuel sudah istirahat setelah pergi jauh, namun Samuel tahu dia bertanya apa Samuel sudah baik-baik saja setelah diserang oleh ayahnya.
Rowan adalah anak yang cerdas. Dia menyadari hubungan dingin Samuel dan Argantana. Tidak memihak siapa-siapa, tapi selalu mengamati laju dengan cara yang cerdik.
"Ya. Untungnya hanya butuh tidur sejenak." Samuel duduk di sampingnya sementara Nina sudah membaur dengan keponakan perempuan Samuel.
"Paman pergi berhari-hari. Soraya dan Seline menangis mencari Paman." Rangga ikut menyahut.
Samuel hanya mengelus kepala Soraya di dekatnya. Lalu makan dengan tenang sambil berpura-pura tidak terluka sedikitpun.
"Paman. Siapa gadis yang datang bersama Paman? Soraya berkata dia seperti pengemis."
"Ya, dia jelek!" Soraya menyahut kesal. "Dia menabrakku lalu malah dia yang terjatuh! Sudah begitu dia bau! Aku pasti gatal-gatal besok karena menyentuh dia."
"Jangan berlebihan." Rowan menegur.
"Dasar kakak bodoh!"
"Kenapa dia tidur di sebelah kamar Paman?"
"Dia adik sahabatku." Samuel tetap makan dengan tenang. "Orang itu menyuruhku menjaganya. Jadi mulai sekarang dia akan bekerja untukku. Rowan, beritahu Ayahmu dan Kakekmu untuk tidak mengurusinya. Aku yang akan memberi dia makan dan pakaian."
__ADS_1
"Kalau begitu di mana dia, Paman?"
Mungkin sedang menenangkan diri setelah mabuk kendaraan.
Setelah ini Samuel harus memberinya makanan.
*
Emilia sering berpuasa tiga hari dan hanya memakan sebutir apel ditambah air putih, jadi meski lapar, ia tidak terlalu tersiksa.
Beberapa waktu Emilia hanya berbaring di lantai, lalu bangun untuk mandi.
Saat berada di kamar mandi, Emilia menatap asing pemandangan di depannya. Ada kolam berwarna putih berbentuk lingkaran yang tersambung dengan keran.
Emilia melirik sekitar, tidak ada timba.
Butuh waktu sepuluh menit ia paham bagaimana cara mandi di sini. Itu saja sudah membuat lelah.
Emilia memasang bajunya baik-baik, tak lupa selalu menyimpan jarum beracun di beberapa bagian agar tak sampai tanganya kosong dari senjata.
"Ema."
Itu Samuel.
Segera Emilia bangun, pergi membuka pintu. Pikirnya Samuel sendirian, ternyata bersama seorang gadis cantik berpenampilan necis.
"Aku membawa makanan." Samuel mengulurkan sepiring makanan untuknya.
Pemandangan asing bagi Emilia.
Ia diam, menatapnya dengan sorot mata tidak paham.
Aku bukan kucing, pikirnya tiba-tiba. "Aku belum lapar."
"Hei." Gadis di belakang Samuel mengernyit tak senang. "Samuel sudah membawakan makanan untuk kamu. Berterima kasih dan terima saja. Letakkan di dalam jika belum lapar. Bukan menolak."
__ADS_1
"Nina."
"Jika dia jadi pembantumu, dia harus tahu cara bersikap."
Samuel menghela napas. Kembali menatap Emilia. "Ambillah, Ema. Aku tahu kamu lapar."
Aku tahu kamu lapar.
Tidak pernah seumur hidup Emilia merasa diperlakukan seperti hewan.
Tapi segera Emilia ingat bahwa Samuel Ahkam melihatnya sebagai anak miskin menyedihkan.
Emilia mengambil piring itu, meski mungkin nanti tidak akan ia makan. "Apa pekerjaanku?"
"Astaga. Sam, di mana sebenarnya perempuan ini tinggal? Dia bicara padamu seperti dia temanmu saja!"
"Nina, hentikan. Aku membawamu agar membantunya, bukan mengomentari hal tidak berguna."
"Aku harus apa, demi Tuhan?! Bawa dia keluar dan perlihatkan ke semua orang bahwa Samuel Ahkam diperlakukan seperti teman oleh pembantunya. Aku membantumu sesuai kemauanmu!"
Baiklah, tapi bisakah mereka berdebat di tempat lain?
"Aku tidak terbiasa makan sebelum bekerja." Emilia mengulurkan kembali piring itu. "Berikan pekerjaan dulu. Dan biar aku yang mengambil makananku sendiri."
".... Baiklah. Pergi ke dapur dan katakan aku menyuruhmu membersihkan piring."
"Baik."
Emilia melewati mereka. Tahu bahwa gadis yang bersama Samuel itu menatapnya geram, namun Emilia tak peduli.
Dia tidak terpilih.
Dia adakah tombok putih, batu kerikil, pasir dan tanah, yang tidak perlu dilihat karena bahkan kalau mereka bicara, manusia tidak akan tahu apa yang mereka bicarakan.
*
__ADS_1