Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
61. Cut The Bullshit


__ADS_3

Samuel tidak memperkirakan ini.


Ia tahu pasti ada korban dari pihaknya dalam peristiwa baku tembak kemarin, tapi fokus Samuel lebih tertuju pada Emilia, dirinya sendiri, juga Ryo. Samuel tidak memasukkan orang-orang Emilia dalam perhitungannya.


Dan nampaknya Emilia juga terlalu fokus pada orang kiriman Argantana.


"Di mana mayat mereka?" Emilia menjawab setelah lama terdiam. Sekilas nampak tenang saja, tapi Samuel melihat ujung jemari Emilia bergetar.


"Aku memerintahkan mereka membakar tempat itu segera setelah kita pergi." Samuel menelan ludah. "Tidak ada yang tersisa."


Sialan. Emilia tidak akan pernah memaafkannya setelah ini.


Sial. Sial. Sial. Sial.


Mulut Samuel bahkan tak berani mengucapkan permintaan maaf. Meski ia memerintahkan gedung itu dibakar untuk menutupi kejadian, tetap saja artinya ia yang memerintahkan mayat orang kepercayaan Emilia dibakar.


"Emilia—"


"Aku ingin sendiri."


Kali ini, tanpa bisa membantah, Samuel beranjak bersama Ryo.


...*...


Setelah mendalami banyak pembelajaran dari Mahesa, hal pokok yang dia ajarkan salah satunya adalah kematian.


Kematian adalah kepastian. Kematian siapa pun, baik itu Emilia juga Mahesa sendiri. Karena itu Emilia cukup yakin bahwa ia akan memahami bahkan jika seseorang tiba-tiba mati.


Tapi sesuatu dalam dirinya serasa ditusuk mendengar perkataan bawahan Samuel.

__ADS_1


Tidak mungkin. Darto dan Mutia jelas masih ada. Mereka masih menunggu perintah Emilia.


"Aku mungkin terlalu bermain-main." Emilia menghela napas kecil. Merogoh sesuatu dalam tas kecil yang sudah Mahesa persiapkan untuknya.


Dari dalam sana, Emilia mengaktifkan ponsel. Ia hanya perlu menunggu sebentar sampai Nine menghubunginya, karena Emilia tak tahu cara memakai ponsel.


"Kamu memakai alat komunikasi daruratnya?"


"Aku perlu bicara dengan Mutia dan Darto."


Di sisi lain panggilan, Nine mengatup mulut. Beranjak mengambil lolipop sebab mulutnya mendadak butuh manisan.


"Apa yang kamu tunggu? Panggil mereka."


"Well." Nine menghempaskan diri ke kursinya. "Listen up, Emilia. I know it hurts—" [Baiklah. Dengarkan, Emilia. Aku tahu itu sulit—]


"Cut the bullsh*t. I said I need to talk. Now." [Hentikan omong kosongnya. Aku bilang aku perlu bicara. Sekarang.]


"You're talking nonsense." Emilia mencengkram kepalanya yang mendadam berdenyut. "Berhenti bermain-main. Panggil mereka."


"Baiklah." Nine menghela napas. "Kamu memaksaku, jadi akan kukatakan sejujurnya. Kamu menolak kenyataan. Mereka sudah mati, jadi buka matamu dan lihat kenyataan itu."


Emilia mengusap kasar wajahnya. Ia gemetar, tapi berusaha keras untuk bernapas teratur. Tak tahu kenapa, Emilia berjalan mondar-mandir di kamar itu.


Kepalanya pening. Sulit untuk fokus meski ia berusaha keras memahami keadaan.


"Sambungkan aku pada mereka. Biar aku bicara lewat telfon ini."


"Emilia, it's not funny, you do know that. So stop it." [Emilia, itu tidak lucu, kamu tahu. Jadi hentikan.]

__ADS_1


Emilia mendongak. Mengepal kuat-kuat tangannya dan terus berusaha bernapas.


Apa sih yang dia katakan? Emilia hanya ingin bicara dengan Mutia dan Darto. Sudah lama ia tak memberi komando secara langsung. Mereka berdua pasti mengkhawatirkan Emilia.


"Sambungkan aku pada Senior."


"Tidak."


"Aku memerintahkanmu." Emilia menggeram. "Aku harus bicara pada Senior."


"Kamu tahu Mahesa membenci sikap sepertimu ini. Kamu ingin menelpon dia dan berkata kamu ingin bicara dengan orang mati?"


"Itu tidak benar. Aku hanya—"


"Mereka sudah mati, Emilia. Mereka berdua mati. Do I make myself clear? Hm?" [Apa aku sudah membuatnya jelas?]


Emilia kehilangan kendali atas pernapasannya sendiri. Gadis itu mengalami dispnea, berlutut mencengkram dadanya yang sakit.


Segala sesuatu berputar di kepala. Tentang bagaimana ia terlalu fokus pada Samuel dan Argantana Ahkam, sampai-sampai ia lupa bahwa urusannya bukan hanya pada mereka saja.


"Emilia."


Butuh waktu untuk Emilia mengendalikan pernapasannya. Begitu benar-benar tenang dan mampu mengendalikan diri, Emilia mendongak pada langit-langit kamar.


"Emilia?"


"Akan kuhabisi Ahkam."


".... Baiklah. Beri kami dua hari."

__ADS_1


*


__ADS_2