
"Kamu tidak menyukai Paman, Ema?"
"Tidak."
Bukankah itu jawaban yang agak terlalu cepat padahal orangnya adalah Samuel Ahkam? Gadis-gadis rela mati untuk ketampanan Samuel sementara hadis ini malah tidak mau.
"Kenapa? Kamu memiliki kekasih di desa?"
"Ya."
Rowan mengerjap. Sejujurnya berpikir Ema akan berkata tidak.
Napas Rowan tertarik berat. Mendadak ada sesuatu yang mengganjal di sana padahal Ema hanya berkata ya.
Siapa orang yang dia sukai?
...*...
Seseorang yang dia sukai di desa?
Tidak mungkin. Dia meninggalkan desa tanpa berpikir jadi mana mungkin ada yang seperti itu.
Ya, mana mungkin.
Samuel menarik napas tenang. Bersandar pada kursinya seraya mendengar pembicaraan Rowan dan Ema itu. Ia ditolak oleh gadis desa di depan keponakannya yang juga menyukai gadis itu.
Tapi pada akhirnya Samuel tidak mau diam. Jadi ia beranjak ke balkon, memberi isyarat yang hanya akan dimengerti oleh anak buahnya dari kejauhan agar mereka mengirim burung pengantar pesan.
"Cari tahu pria yang pernah berhubungan dengan Ema. Siapa pun. Jika ada satu foto Ema di ponsel mereka, lenyapkan."
"Riokai."
...*...
__ADS_1
Emilia duduk di kamarnya menatap tanaman mawar pemberian Samuel.
Jika hari ini berakhir maka tinggal enam hari lagi. Enam hari lagi ia harus mencari celah Samuel, membunuh Rowan, lari dari Ahkam. Tidak akan sulit membunuh Rowan. Ada banyak cara. Yang sulit adalah Samuel.
Satu-satunya celah dia hanya informasi mengenai ibunya. Tapi Emilia cukup yakin Mahesa sudah tahu hal itu
Aku mulai gelisah.
Emilia tidak bisa menahan itu. Pikirannya jelas buntu dan tertekan. Jika saja ia di luar, Emilia punya banyak cara dan trik, tapi ia terkurung, tanpa Darto, Mutia juga pihak intel yang biasanya ia andalkan.
"Senior sedang apa?"
Pikiran Emilia hanya spontan mencari pelarian dari memorinya.
"Memikirkan hal menyebalkan."
"Aku bisa membantu Senior jika ingin."
Mahesa tergelak saat itu. "Benarkah? Maka bagus."
Mahesa seorang pebisnis, jadi Emilia hanya spontan berpikir demikian.
"Bukan."
"Lalu apa?"
"Mungkin nasib orang lain?"
"Senior, tolong jangan bermain kata denganku. Senior tahu itu menyebalkan."
Gerutuan Emilia dibalas usapan kecil di puncak kepalanya. "Aku sedang berpikir haruskah kuhancurkan dunia agar dunia jadi lebih baik."
"Lebih baik? Senior ingin jadi pahlawan?"
__ADS_1
"No."
"So what?"
Mahesa menatapnya sejenak, sebelum dia meraih telapak tangan Emilia. Meski jantung Emilia berdebar akibat sentuhan itu, ia tahu Mahesa bukan bermaksud merayunya.
"Aku membayangkan bagaimana jika dunia berada di telapak tangan kecil seperti ini." Mahesa menggerak-gerakkan ujung telunjuknya ke tengah telapak tangan Emilia. "Ema, apa menurutmu aku sudah melakukan yang terbaik?"
"Tentu saja."
"Benarkah? Bagaimana jika aku kecewa?"
"Apa Senior akan membiarkan diri Senior kecewa?"
Itu adalah percakapan mengenai kelelahan Mahesa. Dia pebisnis. Tapi dia bukan lelah mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup mewah.
Alasan dia membutuhkan Emilia adalah untuk kekayaan Nugraha. Alasan dia membutuhkan Samuel adalah untuk organisasi Otot. Alasan dia mengganggu Ahkam adalah untuk kekayaan Ahkam.
Dan alasan dia menginginkan semua itu ... adalah karena dia melakukan sesuatu yang terlalu gila dilakukan orang waras.
"Aku percaya pada Senior. Aku tahu Senior melakukan hal yang benar. Tentu, aku tidak akan bilang Senior melakukan sesuatu yang suci. Tapi pada akhirnya Senior dan aku sama-sama melakukan sesuatu untuk alasan kita."
Emilia terdiam mengingat ucapannya sendiri.
Saat ia berkata percaya pada Mahesa, Emilia juga harus percaya pada dirinya.
"Senior bisa melakukannya. Kegagalan Senior, entah apa pun itu, aku tahu semua hanya proses. Senior selalu bisa."
Aku bisa.
Emilia menarik napas panjang.
Ini hanya proses. Mengamati Samuel, mencari celah, mengganggu Ahkam, semuanya proses.
__ADS_1
Ayo jalani, tidak panik, dan selalu tenang.
*