
"Emilia." Samuel mengetuk pintu kamar itu untuk ketiga kali. "Makanlah sebentar, Emilia. Aku membuatkan sesuatu yang manis."
Lagi-lagi tidak ada jawaban.
Samuel bisa saja membuka paksa pintu ini, baik secara halus maupun kasar, tapi ia takut itu justru memicu kemarahan Emilia padanya.
Jika sampai dia menyalahkan Samuel atas kematian orangnya yang terlambat diketahui ... mungkin Emilia akan meninggalkan Samuel.
"Emilia." Samuel tak mau itu terjadi. "Kumohon bicara padaku sebentar. Katakan sesuatu."
Jangan marah. Samuel tidak pernah berniat melukainya atau menyembunyikan sesuatu yang penting darinya.
"Bos."
"Jangan menggangguku dulu."
Ryo tetap datang ke sisinya. "Ada pesan dari Nine yang meminta persiapan penyerbuan Ahkam."
Bibir Samuel saling menekan sebelum ia menghela napas pasrah. "Lakukan. Tapi prioritaskan penjagaan Emilia."
"Riokai."
Ketika Ryo pergi, Samuel lagi-lagi mengetuk pintu kamar Emilia. "Tidakkah kamu membuka pintu untuk berdiskusi strategi denganku, Emilia? Ayo bicara dan makan bersama."
"...."
"Emilia, tolong. Katakan sesuatu."
__ADS_1
Telinga Samuel menangkap suara langkah kaki mendekati pintu. Jelas saja ia langsung gembira ketika pintu terbuka, memunculkan Emilia yang syukurnya baik-baik saja.
"Emilia."
"Tidak bisakah kamu diam sebentar?" Emilia berucap dingin. "Aku tidak akan mati karena tidak makan sehari. Berhenti memperlakukanku seperti hewan."
"Tapi, Emilia—"
"Aku hanya mengatakannya sekali." Pintu terbanting, meninggalkan Samuel termenung sendirian.
...*...
Emilia menyiapkan semua yang ia perlukan hari ini. Sejumlah jarum beracun di tubuhnya, Baju anti peluru yang tipis ditutupi oleh kaus hitam. Tak lupa sarung tangan dan wig untuk menutupi seluruh jejaknya nanti.
Merasa sudah siap, Emilia bergegas keluar. Menemukan Samuel seperti sedang menunggunya di pintu depan markas.
"Emilia."
Emilia berjalan keluar. Lalu berdiri menatap sekumpulan orang-orang berpakaian hitam. Satu-satunya yang membedakan Oto dengan kelompok pelindung Emilia hanyalah lambang kecil di dada mereka.
"Ahkam harus habis malam ini." Emilia membuka suara. Memberi pidato singkat yang memang memetakan tujuan mereka. "Bunuh semua dari mereka, tanpa terkecuali. Tapi Argantana, aku yang akan membunuhnya."
Secara alami Samuel berdiri di sisinya. Meski begitu, dia tetap memberi hak Emilia memegang kendali malam ini.
"Satu seperempat dari kalian, pergi dan bunuh semua Ahkam yang berada di luar mansion."
Mereka bergerak tanpa suara, menyisakan tiga per empat.
__ADS_1
"Satu per empat lagi, pergilah dan pantau. Kurang dari satu jam lagi, bagaimanapun caranya, kacaukan pertahanan depan mereka. Jangan menyentuh pintu gerbang."
Samuel menunduk padanya. "Kita bisa meledakkan rumah itu setelahnya jika mau. Tidak perlu menjaga sesuatu di dalamnya."
"Ada banyak benda berharga di sana selain dokumen."
"Aku mengerti."
Sisa setengah dari mereka.
"Satu per tiga dari kalian, pergilah mengambil posisi siaga. Jangan masuk kecuali aku memberi isyarat."
"Pimpin mereka, Ryo." Tak sulit bagi Samuel tahu bahwa itu untuk pasukan cadangan sekaligus yang akan menyelamatkan mereka kalau-kalau ada situasi darurat.
Emilia mengambil topinya, berbalik menuju mobil. "Ayo pergi."
Sisa dari mereka jelas mengikuti Emilia dan Samuel. Mereka berkendara dengan tenang. Membiarkan pasukan awal mengacaukan garda depan Ahkam terlebih dahulu.
Setiba di lokasi, mereka mendengar suara alarm dan keributan bersama jeritan samar-samar. Emilia turun bersama Samuel, melihat sekitaran yang sepi, menandakan Nine telah menyingkirkan sebisa mungkin orang-orang di sekitar mansion malam ini.
Aku menyukaimu.
Entah kenapa, di saat seperti ini, Emilia malah mendengar suara Rowan di kepalanya.
Ia tak tahu mengapa dan mungkin tak harus ia cari tahu.
Kamu tahu aku akan menghancurkan tempat ini. Emilia mengisyaratkan mereka masuk. Tapi kamu memilih mati dengan konyol.
__ADS_1
Sangat disayangkan, Rowan Ahkam.
*