Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
71. How Sweet Of You


__ADS_3

Emilia mempelajari segalanya dari Mahesa. Nyaris segalanya. Tentang Tuhan, tentang hidup, tentang diri sendiri, tentang uang, kekuasaan, kekayaan; segalanya.


Mau tak mau Emilia mengingat perkataan Samuel tentang Mahesa adalah bajingan yang berharap dunia menjadi lebih baik.


Mungkin itu benar.


Pernahkah kalian kasihan pada anak kecil berpakaian lusuh? Pernahkah kalian kasihan pada orang tua yang duduk berteduh di teras rumah? Pernah kalian kasihan pada penjahat dengan rambut dan janggut beruban demi makanan? Atau bagaimana wanita tua di tepi jalan menunggu seseorang membeli jualanya yang tidak enak?


Mahesa benci segalanya. Mahesa tidak suka melihatnya.


Dan Emilia paham mengapa.


"Kamu pasti tertawa kalau aku berkata aku benci melihat orang lain menderita." Emilia mengusap-usap cincin pemberian Rowan. "Aku tahu bagaimana dunia berjalan, Rowan. Aku tahu."


Hanya hening yang menjawab Emilia di kamarnya.


"Karena itu banyak orang putus asa berkata menjalani hidup, hidup di dunia, tidak bisa dilakukan dengan kebaikan. Dunia tidak berbuat salah. Orang-orang yang menggila lalu menyalahkan dunia."


Emilia menghela napas. Samar-samar dapat mendengar suara laut dari jendela kamarnya.


Kini, ia memikirkan Samuel.


...*...

__ADS_1


"Dari semua cara kamu memikat Emilia, kamu menjadi orang baik?" tanya Rashi dengan kesan geli.


Samuel mengangkat bahu. Menyesap teh yang disajikan Rashi sambil melihat Mama berjalan menyusuri koleksi buku di tempat ini.


"Boleh aku tahu kenapa?"


"Harus?" balas Samuel. "Jika ada seorang wanita yang membuatku merinding hanya karena dipandang, itu dirimu, Cantik. Jangan pura-pura bodoh."


Jika Mahesa adalah orang kejam yang mau membunuhi semua manusia agar berkuasa, tidak ada yang akan mengikutinya apalagi setia padanya. Penjahat pun tidak suka penjahat, kalian tahu?


Karena itu, meski bajingan, Mahesa Mahardika bukan orang jahat. Samuel hanya memanfaatkan informasi itu. Menganalisis berhari-hari sampai ia menemukan sebuah pikiran tanpa dasar jelas.


"Mahesa pernah menyebutmu satu dari dua orang yang akan menyerahkan jantungmu sebagai jantung Mahesa. Dari ribuan orang, hanya kamu dan Deev."


"Orang gila tidak diberi kesetiaan, Rashi. Dan orang luar tidak memberi kesetiaan pada orang gila. Aku mengenal Mahesa hanya beberapa tahun setelah dia disebut anak genius. Berbisnis di usianya yang kesepuluh, diakui dunia di usianya yang ke dua puluh."


"Kakak memang luar biasa," gumam Rashi tulus.


"Hanya dalam kurun waktu beberapa tahun, lima puluh persen anak jalanan di negara ini terurus oleh Mahesa. Tanpa bantuan pemerintah." Samuel menautkan tangan di atas meja. "Dia membuat organisasi 'calon *******' yang kalau harus kusinggung, para koleksi kesayanganmu."


Rashi tertawa. "Berhenti mengungkit hal sensitif."


"Mereka preman." Samuel mengangguk. "Tapi kejahatan sosial berkurang di tangan mereka."

__ADS_1


"...."


"Menurutmu aku tidak tahu alasan mengapa kamu selalu absen di semua penghargaan publik yang diberikan pada Mahesa karena ... kamu tahu yang luar biasa bukanlah itu?"


"Samuel, jangan membuatku menangis, oke?"


Samuel tertawa kecil. "Emilia memahami Mahesa, sama sepertimu. Maka Emilia melihat hal sama. Dia bukan gadis tanpa hati. Biarpun dia kadang berhati batu."


"Jadi kamu merayunya dengan menjadi lebih baik?"


"Aku tidak berbuat baik. Aku membunuh orang beberapa waktu lalu. Di mata semua orang, aku bukan orang baik." Samuel menggeleng pada dirinya sendiri. "Aku hanya ingin membuktikan pada Emilia bahwa ... aku menyukai apa pun tentang dia."


"How sweet of you." Rashi menepuk punggung tangannya. "Aku percaya Emilia akan melihatmu."


"Itu ramalan?" Samuel sedikit berharap, karena sebenarnya, hal paling menakutkan dari Rashi adalah ... dia selalu mampu melihat segalanya.


"Tidak. Itu doa."


Meski Samuel mau membalasnya, Rashi langsung beranjak pergi. Menghampiri Mama yang kini tersibukkan oleh buku di sana.


Samuel mau tak mau menyerah. Melirik ke luar jendela, pada mendung langit di atas mereka.


"Aku merindukanmu, Ema-ku."

__ADS_1


...*...


__ADS_2