Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
41. Jika Sandiwara


__ADS_3

Lain kali Emilia harus mengatakan pada Mahesa untuk berhenti menggunakan gambarnya di sosial media sesuka hati. Gara-gara itu ia harus mendengar semua ini.


"Jawablah yang jujur! Siapa yang menyuruhmu?! Apa motifmu melakukan ini?! Apa maumu?!"


Emilia hanya diam.


Membiarkan sejumlah orang suruhan Argantana masuk ke kamarnya mengecek apakah ada sesuatu yang tersembunyi seperti tuduhan Nina.


Mata Emilia bertemu pandang dengan Samuel dan Rowan. Mereka berdua diam juga. Karena rasanya memang cuma mereka yang punya otak.


Apa Nina pikir bisa dengan santai menyelundupkan sesuatu dalam rumah ini, terutama diawasi oleh Samuel Ahkam langsung?


Dasar tol*l.


"Apa ada sesuatu?" Argantana juga terpaksa harus turun tangan meski mungkin dia hadir semata karena Emilia adalah orangnya Samuel. "Ada bukti?"


"Tidak ada, Pak." Orang suruhannya menjawab yakin. "Tidak ada sesuatu yang tersembunyi. Ponsel, laptop, alat komunikasi, tidak ada apa pun."


"Tidak mungkin!" Soraya langsung membantah. "Pa, percaya padaku! Kami mendengar jelas orang itu berkata dia kekasihnya Ema."


Argantana menatap Emilia. "Ema, namamu? Apa tujuanmu datang ke tempat ini?"


Intimidasi.


Dia bertanya penuh kesan dia yakin Emilia pelaku, agar Emilia menunjukkan celah jika benar-benar ada yang ia lakukan. Tapi karena tidak ada, Emilia biasa saja.


"Orang di desaku berkata aku gadis menyedihkan tanpa pendidikan." Emilia melirik Samuel. "Jadi Samuel mengajakku bekerja di kota agar tidak dihina."


Itu artinya 'aku orang desa sungguhan. Bagaimana mungkin aku melakukannya?'.

__ADS_1


"Hentikan tuduhan menggelikan ini." Rowan akhirnya turun tangan. "Lakukan background check pada Ema, jika terbukti tidak ada sesuatu, maka berhenti menjadikan dia kambing hitam. Bibi Nina, Soraya, ini terakhir kali kalian berteriak tanpa bukti."


"Tapi kami benar mendengar—"


"Kalian membuat keributan hanya karena tidak menyukai Ema. Itulah yang kami dengar jadi diamlah, Soraya." Rowan menatap Argantana. "Jangan ladeni sesuatu semacam ini lagi, Pa. Kepalaku sakit mendengar ulah para wanita ini."


Argantana menatap Emilia beberapa saat sebelum dia berbalik. "Bubarlah."


...*...


Rowan masuk ke kamarnya diikuti oleh Rangga. Pemuda itu duduk di depan komputer, mulai mengoperasikannya untuk membuka e-mail masuk dari seseorang yang sudah lebih dulu dia minta melakukan background check.


"Aku rasa Nina dan Soraya tidak berbohong." Rowan bergumam. "Aku tahu adikku memang sering membuat masalah bodoh, tapi dia tidak akan bersikeras pada kebohongan, terutama di depan ayahku."


"Tapi kamu membela Ema."


"Karena percuma." Rowan membaca kilat data yang ia dapatkan cuma untuk menemukan kebuntuan. "Ema percaya diri."


"Fantasi terburuknya memang begitu."


"Tapi dia—"


"Gadis desa tulen. Ya, aku juga membaca itu sekarang." Menurut bukti-bukti, Ema sungguhan hidup sendiri, hidup sederhana, hidup sebagai orang desa dan diakui secara langsung oleh warga desa itu sendiri.


Dia adalah buruh cuci. Memang dari awal gadis yang pendiam dan tidak punya teman.


"Kalau dia hanya orang biasa," Rowan memutar kursinya pada Rangga, "bagaimana dia selalu terlihat tenang bahkan ketika dituduh melakukan sesuatu yang besar?"


Rangga mengangkat bahu. "Mungkin dia ... memang tidak melakukannya?"

__ADS_1


"Kuharap begitu." Rowan melirik data di layarnya. "Karena jika sandiwara, sebentar lagi Ahkam hancur."


...*...


"Argantana mulai bergerak." Nine membagikan informasi untuk disampaikan pada Mahesa sebagai pusat komando.


Nine mulai meretas jaringan di kediaman Ahkam untuk mengawasi Emilia. Kini mereka akan bergerak lebih terbuka, jadi Nine pun langsung memasuki sistem mereka dengan risiko jejaknya akan tertinggal.


Suara-suara percakapan dari berbagai ponsel di Ahkam mulai terdengar. Nine mencari suara yang paling diperlukan untuk informasi.


"Argantana mencurigai Emilia." Nine mendengar sembari terus berbagi informasi. "Dia mengirim seseorang secara langsung ke desa. Dia meminta informasi detail mengenai kepribadian, kecenderungan, orang-orang yang pernah berinteraksi, termasuk profil orang tuanya."


Tak butuh waktu lama, sambungan khusus yang menghubungkan Nine pada Mahesa terdengar berbunyi. Nine langsung menyambungkannya.


"Perintah?"


"Ulur waktu sampai Emilia membunuh Rowan."


Nine agak mengangkat alis. Walau tidak terkejut, karena Mahesa pada dasarnya hobi membaca pergerakan orang lain tanpa bertanya langsung.


Jadi ******* akan diletakkan pada Rowan?


"Setelah itu?"


"Samuel mungkin akan membawa Emilia. Jika tidak, siapkan orang untuk membawanya pergi."


".... Copy that." [Dimengerti.]


Sekarang ... apa yang Emilia lakukan?

__ADS_1


...*...


__ADS_2