Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
79. Yumi Kaluna


__ADS_3

"Sam."


Samuel langsung menggenggam tangan Emilia yang sama berkeringat. "Aku di sini," ucap Samuel yakin. "Aku di sini."


Suasana kamar Samuel tegang. Persalinan Emilia sebentar lagi berlangsung dan Samuel baru benar-benar tahu bagaimana rasanya mau mati menunggu sebuah momen.


Perasaannya campur aduk. Mungkin sama seperti Emilia.


Takut, gugup, senang, frustrasi. Samuel merasakan semuanya dalam satu tempat yang sama, menunggu waktu bayi itu bisa keluar.


"Bisakah aku minta sesuatu?"


"Apa pun. Katakan saja. Apa pun."


Emilia menggenggam tangan Samuel lebih erat lagi. "Bisakah Senior di sini?"


Tentu saja Samuel terkejut. "Mahesa?"


"Aku takut." Emilia baru pertama kali berterus terang meski tahu di ruangan itu ada banyak orang, dari perawat, ibunya Samuel, dan juga Mahesa bersama Rashi. "Aku takut. Sebentar saja. Tolong."


Bibir Samuel bergetar. Sungguh ia berharap bisa mendampingi Emilia selama persalinan karena tentu saja itu anaknya. Tapi Samuel bukan anak kecil emosional yang tidak memahami.


Mahesa bagai ayah bagi Emilia. Anak perempuan selalu mencari ayahnya saat ketakutan.


"Samuel." Mama menarik bahu Samuel lembut. Mengisyaratkannya untuk setuju, karena ini momen hidup dan mati Emilia.


Berusaha tabah, Samuel mengangguk. "Aku menyayangi kalian," bisiknya. "Aku menyayangi kalian. Mengerti?"


Emilia mengangguk. Mengecup tangan Samuel sebelum sentuhan mereka terpisah, digantikan oleh tangan lain yang telah lama tidak memegangnya.


"Senior."


"It's okay." Mahesa menautkan tangan mereka. "You're doing great. It's okay."


Tentu saja selama proses persalinan mereka tak bisa menonton seolah itu konser. Suara kesakitan Emilia mulai terdengar, dan Samuel berdiri gelisah di depan pintu.


Rashi menatap dari sela pintu yang tak sepenuhnya di tutup, tahu betul Mahesa tak ingin di sana.


Momen itu terlalu emosional.


Sementara Emilia tenggelam dalam rasa terkoyak-koyak. Nyaris tak bisa membedakan mana kenyataan, mana khayalan, mana rasa sakit persalinan dan rasa sakit di jiwanya.


Emilia mengingat banyak hal.

__ADS_1


Hari-hari yang ia habiskan di desa, hari-hari yang ia habiskan di kediaman Ahkam, Idrus yang mati, Soraya yang berteriak, Rowan yang tersenyum, bahkan ayah dan ibu yang tak ada dalam ingatannya.


Tapi rasa sakit itu seolah hilang ketika telinga Emilia mendengar suara tangisan, dokter berhenti menyuruhnya mendorong, dan tangan Mahesa lepas dari tangannya.


Dalam kegelapan, Emilia menangis. Serasa setahun menunggu sesuatu yang mungil itu diletakkan di tangannya, bergerak-gerak tanpa bisa ia melihat.


"Aku berharap melihat." Emilia berusaha mendekapnya erat tanpa menyakiti. "Aku berharap melihat."


"Dia cantik." Mahesa mengusap-usap pipi Emilia. "Aku akan pergi. Samuel ingin melihat kalian."


Emilia tak memikirkan apa pun lagi. Tapi ia tak lupa menyisipkan bisikan, "Senior yang memberinya nama."


Belum ada nama untuk anaknya. Emilia melarang Samuel menentukannya. Karena ia mau Mahesa yang memberinya.


Di luar, Mahesa mengisyaratkan Samuel masuk. Datang mendekati Rashi yang telah memegang segelas minuman untuk menenangkannya.


"Kakak seharusnya menolak," ucap Rashi pelan.


Mahesa hanya diam.


...*...


Telunjuk Emilia diselimuti oleh sesuatu yang hangat dan lembut.


Samuel tertawa kecil. "Dia menoleh ke arahmu."


"Bagaimana wajahnya?"


"Bentuk bibirnya milikmu." Samuel mengarahkan telunjuk Emilia ke wajah putri mereka. "Hidungnya milikku. Dagunya juga."


Tak ada yang lucu, tapi Emilia tersenyum. Perasaan terbelah dua kemarin masih tersisa di memorinya, namun itu tak dapat dimengerti bahwa ia tak peduli sama sekali.


Satu-satunya yang Emilia pedulikan hanya sekarang ia berbaring di sisi putrinya.


"Sam."


"Hm?"


Samuel mengembalikan telunjuk Emilia ke dalam genggaman mungil anaknya.


"Terima kasih." Emilia menipiskan bibirnya yang bergetar. "Terima kasih sudah sering bicara omong kosong."


Jelas sama Samuel ingat bahwa idenya memiliki anak dengan Emilia dulu disebut omong kosong. Dan Samuel tertawa lepas sebab mungkin, itu bisa disebut kemenangan terbesarnya dari Emilia.

__ADS_1


"Aku merasa cukup." Emilia bernapas berat.


Ia mau menangis. Bukan karena apa pun, tapi rasa hangat, debaran samar dan suara sangat samar dari anaknya seolah jauh lebih bernilai dari apa pun yang pernah Emilia rasakan.


"Terima kasih."


Samuel menggeleng. Mencium bibir Emilia sekilas sebelum memeluknya. "Aku yang berterima kasih sudah mengalah. Kamu berjuang keras."


"Maaf juga, tidak memberimu kesempatan memberi dia nama."


"Ema-ku, ini putriku. Bahkan kalau Mahesa yang memberi dia nama, ini putriku. Lagipula kalau nama pilihan dia jelek, aku akan menggantinya."


Emilia tersenyum. "Senior pandai memilih nama."


...*...


"Senior belum menentukan?"


Mahesa menghela napas sebelum berkata, "Aku ingin memberinya nama Ema agar kembar denganmu."


"Senior."


"Aku tahu kamu menolak jadi ... Yumi."


"Yumi?"


Mahesa menyerahkan kertas bertuliskan huruf kanji pada Samuel.


"Aku hanya akan memberinya nama panggilan. Buat nama belakang untuknya sesuai keinginan kalian."


Samuel mengangkat alis memandangi kanji di kertas itu. Kalau tidak salah, Yumi ... merujuk pada keindahan.


Mengambil pena di dekat tangan Mahesa, Samuel menuliskan nama lengkap anaknya.


Yumi Kaluna. Dia tidak butuh nama keluarga, sebab dia tahu siapa ayah dan ibunya.


Dan Samuel tak mau menjebak anaknya dalam sistem menjengkelkan itu.


"Emilia? Kamu tidak masalah?"


Emilia mengangguk, tak masalah dengan pilihan Samuel.


...*...

__ADS_1


__ADS_2