Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
50. Keluarga Elitis


__ADS_3

Nina mengusap kasar wajahnya. Ia berusaha untuk tidak marah, tidak mempermasalahkan sikap Samuel, tapi sekarang sudah sangat jelas bahwa dia menyukai gadis itu.


Dia, gadis asing entah dari mana, seseorang yang bisa saja seorang pembunuh, jauh lebih menarik dari apa pun di dunia ini.


Apa pun.


Nina beranjak pergi. Menyelipkan sebatang rokok ke sela bibirnya, berusaha menenangkan diri.


"Persetan dengan semuanya." Itu yang Samuel mau, kan? "Aku bersamanya sejak lama dan gadis entah siapa itu lebih menarik. Persetan dengan semua."


Nina membuka ponselnya. Hanya terlintas sekilas tapi segera menghubungi rekannya yang bekerja di media.


Dikirim beberapa foto Ema pada orang itu, lalu menyuruhnya menulis berita bahwa motif pembunuhan kemungkinan adalaha kecemburuan Ema pada Soraya yang menyukai Samuel.


Peduli setan siapa pembunuhnya.


Lagipula Soraya bukan orang baik. Menangisi kematian dia bahkan tidak berguna.


...*...


Emilia hanya spontan memikirkan taman bunga milik Rowan. Ia tahu kemungkinan besar Rowan berada di sana, meski Emilia tidak bermaksud menyapa dia.


Pemuda itu hanya menyadari Emilia terlebih dahulu.


"Bagaimana percakapan kalian?"


Anak yang misterius. Meski dia tahu Emilia membunuh adiknya, dia masih bisa bersikap tenang. Emilia tidak bisa mengerti mengapa Rowan Ahkam bersikap seperti ini.


Emilia hanya menggeleng.

__ADS_1


"Apa Paman sudah memberitahumu?"


"Mengenai?"


"Seseorang mencoba menyerang Ahkam."


Semua orang tanpa diberitahu pasti sudah tahu. Tapi Emilia menggeleng, karena Samuel memang tidak pernah sekalipun berkata sesuatu tentang pembunuhan dalam Ahkam.


"Menurutku," Rowan sempat terdiam sesaat seolah ada keraguan dalam dirinya. "Menurutku itu hukuman Tuhan."


Apa?


"Tentu saja itu perbuatan manusia dan bukan seseorang yang adalah Tuhan. Maksudku, skenario entah apa terjadi dan keluarga ini mendapat hukuman."


Kenapa ... dia mengatakan sesuatu yang justru terkesan membela perbuatan Emilia?


"Ahkam adalah salah satu keluarga elitis yang menyokong pemerintah dari belakang layar. Karena itu sejujurnya kami tidak terlalu disorot."


"Kamu mengerti maksudku?"


Mengerti. "Tidak. Maksudmu keluargamu kaya?"


Maksudnya adalah—


"Ahkam bertanggung jawab—"


—atas seluruh masalah—


"—yang terjadi di negeri ini. Kami memanipulasi peraturan. Memanipulasi opini. Membuat-buat banyak kasus untuk berbagai kepentingan. Ahkam bertanggung jawab atas kemiskinan, kejahatan, apa pun yang membuat negara ini terpuruk sekarang."

__ADS_1


Ya. Karena itulah Mahesa memusuhi Ahkam. Bukan karena Mahesa orang baik lalu Ahkam orang jahat, namun cara Ahkam dan cara Mahesa dalam mengendalikan negara memiliki visi berbeda.


"Daftar musuh kami mungkin bisa jadi buku dengan ratusan halaman. Berjilid-jilid jika disertakan dengan alasan mereka. Dari berbagai kalangan."


Rowan mencabuti rumput sambil terus menceritakan kelam keluarganya.


"Ayahku membunuh banyak orang sejak dulu. Dan aku nanti pun akan membunuh banyak orang yang diperlukan. Kami tidak memedulikan siapa pun selain diri kami. Orang lain menderita, kelaparan, tertindas, merugi, itu bukan urusan kami. Kamilah yang tidak boleh kelaparan, kamilah yang tidak boleh tertindas. Orang lain selain kami, boleh, bahkan harus jika itu mengenyangkan kami."


Itu pun Ema sudah tahu. Dari sepuluh total keluarga yang paling berkuasa di belakang layar negara ini, Ahkam adalah salah satu yang paling banyak menumpuk catatan kejahatan.


Bahkan bisa disebut, Ahkam jauh lebih berkuasa di negara ini dibanding pemerintahan sendiri. Sebab orang-orang yang berada di pemerintahan masuk ke sana atas manipulasi Ahkam. Dan keluarga-keluarga elitis lain.


Untuk membuat sekelompok orang menjadi kaya, Ahkam bisa membuat miskin sekelompok orang lain. Untuk membuat sekelompok orang terlihat baik, Ahkam bisa membuat sekelompok orang lain terlihat buruk.


Tapi itu permainan klasik. Semua elitis memainkannya.


"Kamu tahu, kekayaan kami bukan ini semua." Rowan masih melanjutkan ceritanya. "Kami masih lebih kaya. Tapi harta itu disimpan di tempat lain untuk dinikmati ditempat lain. Kami harus kaya, mungkin ribuan tahun. Hanya itu tujuan kami."


"Jadi maksudmu, adikmu pantas mati?"


Dia tahu Emilia pelakunya. Karena saat Emilia sengaja bertanya demikian, mata Rowan berkilat tajam.


"Di mata orang lain. Mau tidak mau." Rowan mengalihkan pandangan. "Tidak ada satupun dari kami yang suci. Rumah dan makanan kami mungkin rumah dan makanan dari ratusan, atau ribuan orang. Kami merampasnya karena kami mengklaim itu milik kami."


"...."


"Kami pantas mendapatkannya. Dan aku senang keluarga ini hancur."


Anak ini merencakan sesuatu yang Emilia tidak bisa menembak apa.

__ADS_1


...*...


__ADS_2