
Ia berharap malam cepat berlalu agar mereka pun bisa cepat pulang, tapi ketika doanya terkabul, Samuel justru mendapati Ema berdiri memegangi lolipop lebar yang biasanya dijual untuk anak-anak.
Matanya terlihat polos saat dia menatap benda itu.
"Ema, dari mana kamu mendapatkan itu?"
Ema melirik dingin. Lalu menunjuk ke arah meja bar. "Pria itu memberikannya."
Dan dia menerimanya?
Bukankah biasanya dia akan bersikap dingin dan berkata tidak butuh atau sejenisnya?
Samuel juga tak tahu dirinya kenapa tapi ia kesal hingga tak membalas lagi.
Mereka kembali ke penginapan tanpa banyak bicara, masuk ke kamar masing-masing seolah tak terjadi sesuatu.
Samuel berbaring menatap langit-langit kamar sehabis mandi. Pikirannya justru kembali terlempar pada Ema, dan permen lolipop yang dia terima tiba-tiba itu.
Kenapa, yah? Itu menyebalkan. Sangat menyebalkan.
Memikirkan sekarang Ema memakan lolipop pemberian entah siapa pria itu membuat Samuel tidak bisa memejam dengan tenang.
"Aku tahu dia menarik perhatianmu."
Ya, dia menarik perhatian Samuel. Membuatnya selalu mencari alasan memikirkan dia dan mencurigainya.
__ADS_1
*
Rowan Ahkam hanya diam ketika rumah begitu bising oleh keributan kematian lagi.
Dua orang pamannya terbunuh lagi. Jika Idrus mati karena narkoba, lalu Seline jatuh ke jurang, maka kali ini kedua pamannya mengalami kecelakaan maut di tempat yang berbeda.
Kini sudah tidak bisa ditahan lagi. Mereka semua menyadari bahwa ada seseorang yang ingin membunuh satu per satu keluarga Ahkam, hingga kini semua orang diperintahkan untuk berada di rumah.
"Apa itu Paman Sam?" Rangga diam-diam berbisik padanya ketika semua orang sibuk meratapi musibah ini.
"Aku ragu." Rowan membalas samar. "Jika Paman Sam mau, dia bisa membunuhi kita di depan mata satu per satu. Bukan meneror lalu membiarkan dirinya jadi pusat kecurigaan."
Rowan ... mencurigai seseorang.
Seseorang yang keesokan harinya datang bersama Samuel, menyeret koper pria itu.
Tapi kalau kecurigaan Rowan memang benar, kenapa dan siapa gadis itu?
*
Emilia hanya bersikap tenang ketika esok paginya ia turun dari kamar, mendapati suasana meja makan diliputi kesuraman.
Matanya melihat Argantana duduk di kursi dekat Suryanata, lalu melihat ibunya Seline tidak turun dari kamar karena masih sibuk meratapi kematian putrinya.
Suasana menjadi sangat tenang. Bahkan suara sendok nyaris tidak terdengar. Emilia merasakan sebuah kedamaian melihat mereka diliputi oleh perasaan tak menentu, tak dapat mengetahui siapa penyerang dari kasus pembunuhan berantai ini.
__ADS_1
Aku tidak membalas atas kematian Ayah dan Ibu. Emilia berlalu ke dapur. Aku membalas atas gangguanmu padaku.
"Ema."
Gadis itu berbalik dari kegiatannya mencuci bekas peralatan dapur. Tak berekspresi ketika Rowan mendatanginya.
"Aku ingat menyuruhmu mengambil pakaianku. Kamu sudah mencucinya?"
Sejenak Emilia bingung, meski sejurus kemudian ia ingat.
Benar juga. Waktu itu Rowan menyuruhnya.
"Akan kukerjakan setelah ini."
Ada yang tidak beres rasanya karena Rowan berdiri di sana menunggu. Setelah selesai, dia mendekat untuk menyerahkan sesuatu.
"Ini kunci kamarku." Dia memegang tangan Emilia langsung. Padahal masih basah dan sengaja tak ia lap. "Ambil pakaian kotor di keranjang dan cuci itu. Jangan lupa pisahkan pakaian putih, hitam, dan berwarna."
".... Baiklah."
Emilia berlalu, sementara Rowan menatap tangannya yang basah bekas tangan gadis itu.
Kasar, pikir Rowan. Tangannya sangat kasar untuk ukuran tangan wanita.
Apa Rowan terlalu paranoid hingga mencurigainya?
__ADS_1
*