
"Rowan, lihat ini!"
Rowan terpaksa membatalkan tembakan anak panahnya akibat kedatangan Rangga itu. Tak menjelaskan sama sekali, dia langsung menyerahkan ponsel di mana sebuah akun gosip memuat foto Samuel bersama wanita, dari kejauhan, tak lupa caption yang menyertakan wanita itu adalah pembantu.
"Aku sudah curiga. Gadis itu jelas bukan pembantu Paman. Dia kekasihnya."
Mata Rowan lebih tertuju pada banjirnya komentar dengan berbagai nada dan persepsi. "Paman tidak mungkin membuat skandal semacam ini. Dia sedang menarik diri dari media, lagipula."
"Yah, tapi satu negara ini sudah tahu karena fotonya tersebar."
Kening Rowan berkerut. "Aku punya firasat buruk."
"Tentang?"
Rowan tidak menjawab, dan mengembalikan ponsel Rangga. Ia pun masih memikirkan kenapa belakangan rasanya ada sesuatu yang harus ia cari tahu, tapi Rowan mengabaikannya.
Firasat Rowan hanya membutuhkan waktu satu malam untuk menjadi nyata.
Esok hari ia mendapat kabar bahwa perusahaan utama mereka mengalami penurunan saham yang abnormal, dan foto-foto aib nyaris seluruh anggota keluarga menyebar di internet tanpa kendali.
"Aku harus bicara pada Paman."
...*...
"Apa ini perbuatan Paman sendiri?"
Samuel menghela napas dan beranjak dari kursinya. "Apa menurutmu aku tipe orang yang akan melakukannya?"
"Jadi bisa kuartikan Paman sendiri tidak tahu perbuatan siapa ini?"
"Menurutmu ayahmu akan membiarkan aku di sini jika aku ikut campur?"
Rowan menjatuhkan diri di kasur Samuel, tampak sibuk memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Dia anak yang cerdas, jadi mungkin dia menyadari sesuatu di belakang ini. Bukan soal gosipnya. Namun timing gosip itu muncul, Samuel yang terkena dampak, bersamaan dengan saham perusahaan menukik turun, lalu foto-foto perselingkuhan masing-masing anggota keluarga Ahkam yang berpengaruh menyebar di sosial media.
Seseorang coba menghancurkan Ahkam.
"Siapa yang kamu curigai?" Samuel sudah tahu jawabannya, tapi tidak ada yang salah jika ia memastikan secara langsung.
"Pelayan Paman, Ema."
"Dari mana dia mendapatkan kekuatan sebesar itu? Dia hanya gadis desa."
"Paman berkata begitu, tapi pada akhirnya Paman juga mencurigai Ema." Rowan beranjak, pergi membuka jendela kamar Samuel untuk melihat ke arah balkon Ema yang selalu tertutup rapat di siang hari. "Menurut Paman, jika Ema benar-benar dalang dibalik semuanya, apa alasan dia melakukan itu?"
Samuel ... berharap ia tahu.
...*...
"Aku sudah bilang padamu menjauh dari Paman!"
Emilia sedikitpun tidak mengerti mengapa Soraya Ahkam memborbandirnya tiba-tiba pagi ini.
Kepalaku sakit mendengar suaramu.
Emilia hanya menatap datar Soraya yang mengamuk hebat tanpa ia tahu penyebabnya apa. Perasaan Emilia hanya menyuruh untuk mengacaukan perusahaan Ahkam. Kenapa gadis ini mengamuk?
Memangnya dia terkena dampak? Yang mengamuk sekarang harusnya Suryanata dan Argantana.
"Semuanya salahmu! Semuanya terjadi karena kamu!"
Aku tidak menyangkal. Emilia ditarik mundur ketika Soraya juga ditahan oleh beberapa orang agar tak mencakar Emilia.
Ia tak merasa sedang dibully, karena pada dasarnya apa pun yang terjadi pada mereka memang karena Emilia. Dirinya yang melakukannya.
"Ema, kemari."
__ADS_1
Emilia menoleh pada Rowan.
Melihat kakaknya malah seperti membela Emilia, jelas saja Soraya tak senang.
"KAKAK MASIH MEMBANTUNYA KARENA KAKAK TIDAK TERSERET! KAKAK TIDAK TERKENA DAMPAKNYA!"
Rowan menghela napas. "Lalu? Kamu pikir mengamuk pada orang yang sedikitpun tidak tahu bisa memberimu solusi?"
"Tidak tahu?! Dia tahu! Dia hanya berpura-pura! Aku tahu dia berniat buruk!"
Itu hanya tuduhan asal karena kesal, tapi Emilia salut pada bagaimana kebetulan dia benar.
Rowan hanya mengisyaratkan adiknya dibawa ke kamar agar tenang, menarik Emilia pergi.
Ternyata Rowan memanggilnya untuk memperlihatkan ada apa.
"Seseorang menyebarkan fotomu dan Paman di media sosial."
Emilia mengerjap. Fotonya yang tampaknya diambil dari kejauhan dipampang oleh sebuah akun gosip bersama kalimat-kalimat tidak jelas mereka.
Senior punya hobi yang buruk. Emilia langsung bisa menyadari itu perbuatan Mahesa. Jika ada satu saja orang, termasuk Samuel Ahkam yang mau menyebarkan foto Emilia, maka Mahesa akan lebih dulu menghentikannya.
Yang punya hak atas itu hanya Mahesa sebagai penanggung jawab Emilia.
"Juga, beberapa hal memalukan tentang kami, termasuk Soraya." Rowan menggeser layarnya, memperlihatkan gosip bahwa Soraya menyukai pamannya sendiri. "Dia mengira itu kamu yang menyebarkan sendiri. Atau apa pun dugaan karena emosi. Maafkan dia, Ema."
Aku tidak diajari memaafkan, gumam Emilia dalam hati ketika ia mengangguk.
"Kamu baik-baik saja dengan ini?"
Jika Mahesa melakukan sesuatu, maka itu berarti benar. Mutlak.
"Aku tidak bisa melakukan apa pun. Dan aku tidak melakukannya." Emilia hanya perlu mengikuti alur. "Aku tidak menyukai Samuel."
__ADS_1
...*...