Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
28. Mereka Tenggelam


__ADS_3

Menjijikan.


Dia membuat wajah 'aku melakukan hal benar kan, Ema?' setelah menarik Emilia pergi. Padahal itu bukan masalah besar.


Rowan Ahkam hanya bersandar menyaksikan dari jauh bersama Rangga Ahkam, lalu jangankan nyonya rumah, kepala pelayan saja tidak muncul untuk menyelesaikan masalah.


Itu sudah cukup membuktikan bahwa mereka semua tahu Soraya cuma membuat masalah. Tidak ada gunanya diladeni. Tapi orang ini muncul seakan dia habis menyelamatkan dunia.


Pria yang menjijikan.


"Ema, kamu terluka?"


Emilia menepis tangan Samuel agar berhenti menyentuhnya. "Aku baik-baik saja. Jika tidak ada pekerjaan lagi, aku akan ke kamar."


"Wajahmu pucat, Ema. Kamu sudah makan?"


"Aku bukan anak kecil yang butuh diingatkan makan." Emilia masuk ke kamarnya, mengabaikan Samuel di depan pintu yang segera ia kunci.


Gadis itu duduk di atas tempat tidur, mengacak rambutnya yang agak lepek akibat keringat.


Aku tidak cocok jadi pelayan, pikir Emilia lelah.


Kalau tahu orang-orang di Ahkam itu tol*l dan banyak drama, Emilia lebih baik menyamar sebagai dokter dari desa atau sesuatu semacam itu. Paling tidak mereka jadi berhenti menekankan kasta seolah-olah mereka paling tinggi.


Kesombongan adalah keharusan bagi seorang raja. Itu yang Mahesa katakan.


Kenapa para kecoak itu merasa diri mereka raja padahal cuma tahu membuat masalah menjengkelkan soal tangan mau dipatahkan dan sejenisnya?


Tapi sepertinya ia tak perlu terlalu memikirkan itu. Sekarang ... sudah waktunya memainkan permainan inti.


...*...


Rowan Ahkam duduk di tempat tidurnya bersama Rangga yang sibuk bermain nintendo. Insiden tadi selesai karena Samuel membawa Ema pergi, meski Soraya sempat mencak-mencak akan sikap pamannya itu.

__ADS_1


Yang menarik bagi Rowan, Samuel memperlakukan gadis itu sangat spesial.


Apa alasannya?


"Jika kecantikan menundukkan Paman, sejak awal dia dan Nina berhubungan." Rowan bergumam kecil. "Walaupun aku harus mengakui Ema punya pesona unik."


Mungkin karena dia orang desa? Maksud Rowan, wajahnya minim make up, pakaiannya juga sederhana.


Tidak, bukan itu juga, nampaknya.


Ema punya mata tegas yang penuh keyakinan. Bukan jenis mata penuh keraguan, ketakutan atau apa pun itu karena berada di tempat asing.


Di satu sisi, Rowan merasa dia menatap rendah orang lain, namun bukan seperti dia sangat sombong dan bermulut besar. Seperti ... seperti dia tidak menganggap Ahkam ini besar hingga dia bersikap setara.


"Kamu banyak memikirkan gadis itu," balas Rangga. Melihat Rowan sekarang berbaring gelisah di kasur. "Apa karena Paman?"


Tentu saja.


Siapa Ema sebenarnya?


...*...


Samuel menopang dagu dengan mata lurus pada kertas coretan di mejanya. Ini sudah seminggu berlalu setelah kematian terakhir. Tidak ada apa pun yang terjadi setelah itu. Pencarian Argantana mungkin tetap berlanjut, dan dia masih sibuk menyelidiki Samuel.


Perhatian Argantana juga tidak lagi tertuju pada Ema. Nampaknya dia juga pernah curiga bahwa Ema melakukan sesuatu. Tapi sekarang jalan buntu.


Sejak awal apa tujuannya? Kenapa harus membunuhi satu per satu Ahkam? Nampaknya punya kekuatan yang cukup besar, lantas kenapa dia membunuhi orang tidak berguna seperti Seline dan Idrus?


Kenapa tidak mengincar Rowan yang anaknya Argantana atau bahkan Argantana sendiri?


"Mahesa Mahardika." Perhatian Samuel entah kenapa tertuju pada orang itu.


Dia memang bisa disebut 'rekan' Samuel. Orang yang punya jasa menemaninya tumbuh sampai Oto berkembang seperti sekarang.

__ADS_1


Tapi Mahesa sejak awal tidak punya motif melakukannya, jadi kalau dia punya campur tangan, maka setidaknya dia akan menyuruh orang yang punya urusan dengan Ahkam.


Pertanyaannya, siapa?


Lelah dengan pertanyaan itu, Samuel memutuskan keluar dari kamar. Mampir ke kamar Ema untuk mengajaknya keluar.


"Ema."


Tak butuh wakti lama, pintu terbuka. "Apa?"


Tidak ramah sekali. Samuel mendengkus geli karenanya. "Masih ada waktu sebelum makan malam. Aku lapar jadi buatkan aku makanan."


Gadis itu melakukannya tanpa suara, berkutat di dapur sementara Samuel duduk menatap punggungnya.


Ia sering merasa bahwa Ema memiliki rahasia sangat besar, tapi apa yang bisa ia pikirkan dari gadis desa tanpa latar belakang penting?


"Ema."


Dia tidak berbalik.


"Aku tahu ini pertanyaan yang sensitif, tapi apa yang terjadi pada orang tuamu?"


Ada jeda dari pergerakannya sebelum kembali fokus berkutat di dapur. "Mati."


"Aku sudah mendengarnya. Maksudku, mereka sakit?"


Samuel tahu ia bertanya hal sensitif dan menyebalkan, tapi Ema adalah tipe yang jika tidak diterobos, selamanya dia akan mengurung diri.


Ternyata Ema diam. Pikir Samuel, dia merasa sedih karena orang tuanya yang ia ungkit-ungkit.


Baru saja Samuel akan berkata 'maaf', Ema meletakkan makanan di depannya seraya bergumam, "Mereka tenggelam di laut."


*

__ADS_1


__ADS_2