Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
70. Rayuan Samuel


__ADS_3

Nine asyik bermain game di ruangan barunya saat terdengar ketukan pintu. Suara-suara tembakan dari pengeras suara membuat Nine tidak sadar bahwa Dwi masuk, membawakan makanan.


Secara resmi dia dibayar untuk menyembunyikan Emilia dan Nine. Meski sebenarnya tidak ada yang harus terlalu disembunyikan karena mereka berdua bukan buronan, tapi baik Emilia dan Nine lebih suka hidup tanpa diketahui banyak orang.


Itu sebuah keuntungan. Seperti Emilia yang membunuhi Ahkam, dan tidak ada satupun yang mengejarnya karena keberadaan Emilia adalah mitos dalam pencatatan sipil.


"Aku membawa hasil pemeriksaan Emilia."


Nine baru menoleh. "Bawa dia kemari."


"Kurasa kondisinya tidak terlalu baik."


"Karena?"


Dwi menarik kursi untuk duduk tak jauh dari sofa Nine. "Dia banyak merenung di makam buatannya. Dia menyukai Rowan Ahkam?"


Napas Nine langsung terhela panjang. Ia menghentikan permainannya, berpaling pada Dwi. "Tidak ada manusia yang tidak berperasaan. Yang ada hanya mereka yang transparan, mereka yang tudak transparan, dan mereka yang berkamuflase."


Di luar sana, orang-orang dibutakan oleh kedamaian. Tapi Nine, Emilia, dan tentu saja Samuel juga, hidup menggunakan kacamata yang berbeda.


Mereka sejak awal tidak melihat ada kedamaian. Mereka hanya melihat keheningan. Emilia pun sama. Dalam kedamaian, pembunuhan adalah kesalahan, tapi dalam keheningan, pembunuhan adalah sebuah tindakan yang diambil berdasarkan alasan. Dalam kedamaian, hukum berlalu. Dalam keheningan, tidak ada hukum, tidak ada aturan.


Emilia diajari membunuh dan diajari bagaimana dia menerima perbuatannya itu benar, bukan kesalahan.


Meski begitu Emilia baru pertama kali melakukanya secara langsung. Tentu saja dia terguncang.


Bukan soal dia menyukai Rowan atau siapa pun. Ini hanya soal Emilia bercermin dan memikirkan dirinya sendiri.


Karena itulah Mahesa tidak memilih dia, pikir Nine dalam diamnya.


"Menurutmu Ahkam pantas mati?"

__ADS_1


"Melihat catatan kejahatan mereka di mejamu, ya, mereka layak mati." Dwi menjawab apa adanya.


"Menurutmu orang lain juga berpikir sama?"


Dwi mengangkat bahu. "Mungkin?"


"Lalu kenapa mereka tidak membunuhnya? Dari sekian banyak yang berpikir mereka pantas mati, kenapa Emilia yang membunuhnya?"


Nine melompat dari sofa. Mematikan playstation-nya.


"Emilia menanggung beban semua orang yang menginginkan Ahkam mati, disamping beban semua orang itu berpikir tindakan Emilia bengis. Wajar dia menyendiri."


Karena itulah Nine sekarang harus menghiburnya. Dengan sesuatu yang mungkin akan menarik perhatian Emilia.


Dwi pergi untuk membawa Emilia. Tak butuh waktu lama untuk gadis itu datang, masih bersama perban yang menutupi matanya.


"Ada apa?" Gadis itu bertanya tenang. Tampak mulai terbiasa menganalisis lewat telinga dan perasaannya. "Ada sesuatu? Senior?"


"Tembak dia jika mendekat."


Nine tergelak. "Kamu sangat sensitif. Bukan itu. Samuel sudah tahu tempat ini, tapi dia masih di kediamannya."


Melangkah lebih dekat, Emilia hanya berusaha mendekat ke arah suara Nine. "Lalu? Apa yang dia lakukan?"


"Dia memakai logo bunga Higanbana dan kanji Shi untuk meneror Nugraha. Tapi dia tidak membunuh siapa pun. Sudah lima hari dia bergerak. Dia menurunkan harga saham Nugraha, lalu membelinya atas nama orang lain, lalu menaikkan harga saham itu lagi."


"Untuk apa dia melakukannya?"


"Kamu benar-benar tidak tahu?" Dwi bertanya dari belakang Emilia. "Aku sudah melihatnya sejak Samuel membawamu ke pantai. Dia tertarik padamu."


"Aku tidak bodoh. Aku tahu. Lalu? Mengapa dia tertarik?"

__ADS_1


Nine melirik Dwi, dan Dwi menghela napas lelah.


Sekarang mereka sama-sama tahu apa sebenarnya kelemahan Emilia.


Dia payah berhubungan dengan manusia.


Kalau dipikir ulang, Emilia tidak pernah memperlihatkan ketertarikan emosional yang menggebu-gebu pada Mahesa. Dia mencintainya tapi bukan sesuatu yang membuat dia gila.


Makanya dia tak paham perasaan Samuel atau alasan Samuel berusaha menarik perhatiannya.


"Aku tidak tahu." Nine memutuskan menjawab itu. "Tapi Samuel tidak berhenti di sana. Kami membuat identitas palsu untukmu. Mutiara Suryotomo. Samuel membangun panti asuhan untuk anak-anak tanpa identitas atas namamu."


Emilia terdiam sesaat. "Bukankah Senior mengumpulkan anak-anak semacam itu di peternakan?"


"Tidak semua anak lolos ke peternakan. Samuel menampung mereka yang tidak lolos."


".... Begitu." Emilia menoleh ke arah lain. "Jika sudah, aku harus kembali. Tidurku kurang nyenyak semalam."


Nine mengangguk-angguk. "Habiskan buahmu, itu pesan Mahesa."


"Ya."


Ketika Emilia pergi, Nine tersenyum kecil.


Ia tak terpikir ada ide seperti ini. Seorang Samuel Ahkam, orang yang membangun sebuah organisasi di mana organisasi itu bisa dibayar untuk membunuh siapa saja termasuk petinggi negara, membuat strategi unik.


Emilia orang yang bengis. Menghabisi siapa saja jika perlu.


Tapi Emilia juga orang yang terluka. Rayuan Samuel kali ini mungkin tak bisa ditolak oleh Emilia.


*

__ADS_1


__ADS_2