Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
24. Dia Mendekatiku [REVISED]


__ADS_3

"Ema, apa itu?"


Emilia hanya melewati Samuel sambil membawa keranjang cucian Rowan. "Rowan menyuruhku mencucinya."


Pikir Emilia, dia akan langsung masuk kamar dan tenggelam dalam dunianya, tapi ternyata Samuel mengikutinya turun. Semua orang telah selasai makan hingga hanya pelayan yang melihat Samuel mengikuti Emilia ke tempat mencuci baju.


Entah mau apa lagi dia, karena Emilia lebih sibuk memasukkan satu per satu pakaian Rowan ke mesin cuci.


"Ema." Samuel tiba-tiba memanggilnya. "Aku ingin makan makanan manis. Bisakah kamu membuatnya?"


"Katakan makanan manis apa." Emilia tidak suka perkataan yang tidak spesifik.


"Hmmmm, entahlah. Aku juga sedikit bingung. Apa makanan manis kesukaanmu?"


Emilia melirik tajam. Apa maksud pertanyaan tersirat itu? Tapi Samuel tersenyum seakan tidak habis melakukan apa-apa.


"Tidak ada." Emilia memutuskan berlalu. Ia sebenarnya lebih suka menunggu tapi karena ada Samuel, lebih baik Emilia menghitung kapan cucian itu selesai lalu kembali.


Ternyata Samuel masih mengikutinya. Membuat Emilia mau tak mau dongkol meski tidak memperlihatkan terlalu jelas.


"Aku jadi ingat." Samuel berlalu di belakangnya, lalu datang bersama setoples cokelat dan marshmallow. "Ayo buat cokelat dingin saja."


Apa ini? Kenapa rasanya dia bertingkah diluar tingkahnya yang biasa?


Perasaanku saja?


Emilia berusaha terus abai. Tapi ketika ia menuangkan cokelat ke dalam gelas dan berniat menyeduh dengan air panas, Samuel memegang tangannya.

__ADS_1


Langsung begitu saja, lembut menarik tangan Emilia meletakkan gelas air panas.


"Jangan hanya satu. Aku mengajakmu minum juga."


Dia mendekatiku. Emilia merasa sesuatu merayap di punggungnya. Nyaris saja ia memukul wajah Samuel karena merasa terancam, walau masih cukup sadar untuk menahan diri.


Menjijikan.


"Aku tidak mau." Emilia menarik tangannya dari Samuel, memasukkan air panas kembali ke gelasnya, lalu mendorong itu pada Samuel. "Jika bisa kamu lakukan sendiri, ya lakukan saja sendiri."


Emilia pergi, tak memedulikan bahkan kalau Samuel marah setelah itu.


*


Samuel tidak tahu kenapa tapi sepertinya ia memang rada tidak waras akhir-akhir ini.


Tadinya ia mau bilang sudah minum—sejujurnya, Samuel tidak suka manis—lalu berpura-pura berkata ia membuatkan untuk Ema. Sayangnya modus Samuel tidak bisa dilakukan karena begitu ia ke ruang cucian, Ema sudah telungkup di meja, tampak tertidur pulas menunggu cucian Rowan selesai diputar.


Pelan Samuel mendekat. Meletakkan minuman itu di dekat lengan Ema sebelum beranjak pergi. Mungkin dia lelah, jadi lebih baik tidak mengganggunya.


Tapi ketika Samuel pergi, Emilia bangun. Menatap ke arah orang itu menghilang dan yakin dia benar-benar menjauh.


Diambil cokelat yang ia tahu sebenarnya milik Samuel, Emilia lantas membuangnya ke luar jendela.


Emilia suka manis.


Ia tak suka diberi oleh Samuel.

__ADS_1


Bergegas ia menyelesaikan pakaian Rowan, lalu beranjak naik ingin mengembalikannya. Sialnya ia bertemu Soraya.


"Kenapa pakaian kakakku ada padamu?"


Emilia benar-benar tidak suka bicara pada anak gadis yang hobi berteriak tak jelas. "Rowan menyuruhku."


Soraya tercengang. "Pembantu sepertimu memanggil langsung nama kakakku seperti teman?!"


Lihat, kan.


Daripada panjang, Emilia lebih baik berlalu. Meninggalkan gadis bodoh itu meski dia berteriak-teriak mengatakan Emilia akan dipecat dan langsung ditendang jika dia mengadukan pada Samuel.


"Pakaianmu."


Rowan lebih memilih mengintip ke arah suara adiknya sempat terdengar. "Aku lebih kagum pada bagaimana kamu begitu keras kepala."


Tak mau peduli pada omongannya, Emilia meletakkan pakaian itu ke dekat pintu, lalu berlalu pergi karena ingin istirahat.


Mata Rowan terkunci menatap punggungnya. Melipat tangan dan bersandar pada pintu.


Rowan pun belum pernah melihat seseorang duduk dalam gelar pembantu tapi bersikap sangat dingin pada majikannya. Dia bahkan tidak memaksakan diri berpura-pura ramah padahal cuma pembantu yang bisa dipecat kapan saja.


"Apa justru karena itu Paman tertarik?" Rowan mengangkat bahu, meraih pakaian yang dicuci oleh Emilia dan melihat hasilnya.


Apa pembunuh terbias melipat baju dengan rapi?


Rowan bingung harus berhenti mencurigainya atau tidak.

__ADS_1


*


__ADS_2