
Samuel itu sebenarnya paling tidak suka kalah. Karena itu ia tak peduli Emilia mau menolaknya di awal. Asal Samuel mendapatkannya di akhir, cara apa pun akan ia tempuh.
Termasuk membuat dia marah.
"Melihat dari bagaimana kalian menjaga identitas Emilia selama ini, kurasa belum saatnya dia dipublikasikan. Itu berarti butuh pertahanan ekstra. Terutama setelah Ahkam memburu Emilia."
Melihat Emilia tidak mencegahnya, dugaan Samuel tepat. Emilia tidak bisa berkata tidak pada Mahesa.
"Oto akan menjaga Emilia. Bergabung dengan tim khusus kalian. Bagaimana menurutmu?"
Baik Mahesa dan Nine sama-sama tahu apa niatan Samuel, makanya mereka tersenyum samar. Tapi Mahesa bukanlah mainan. Karena itu, pria itu hanya berkata, "Aku hanya menjaga Emilia."
Artinya, keputusan berada di tangan Emilia.
Sementara dia tahu Emilia memutuskan segala hal menurut Mahesa.
Emilia mengacak rambutnya. Terlihat pucat tapi bercampur kesal. "Senior selalu melakukannya."
"Melakukan apa, Manisku?"
"Aku butuh bicara. Samuel, pergilah."
"Emilia—"
"Apa mengerti perkataan seseorang adalah hal sulit bagimu? Pergilah. Aku butuh bicara."
Samuel berdecak samar. Beranjak sebelum Emilia terlihat kesal. Ia setidaknya berharap Nine juga beranjak, namum tidak. Hanya Samuel yang diminta keluar.
Tadinya Samuel kesal luar biasa. Meski sesaat kemudian ponselnya bergetar, tiba-tiba menampilkan pemandangan Emilia dan Mahesa dalam ruangan.
Nine.
...*...
"Senior selalu melakukannya." Emilia menepis tangan Mahesa spontan. "Senior selalu memaksaku mengambil posisi sulit. Itu menyebalkan. Aku tidak menyukai Samuel Ahkam atau siapa pun dia itu."
"Emilia, dengarkan aku."
__ADS_1
"Tidak, Senior yang mendengarku."
Emilia tak tahu mengapa tubuhnya gemetar. Tapi ketika Mahesa memeluknya, Emilia tak dapat menahan air mata.
"Senior selalu memaksakan keinginan Senior dengan cara ini. Agar aku tidak menolak. Agar aku menuruti Senior. Tapi Senior tidak mau menurutiku."
Mahesa terkekeh kecil. "Lalu katakan yang kamu inginkan."
"Senior seharusnya tahu!"
Pria itu mendorong lembut bahu Emilia. Mencari wajahnya yang berusaha bersembunyi sebab menangis ketika Emilia nyaris tak pernah melakukan itu.
Di depan siapa pun.
"Emilia, listen up." Mahesa mengusap bawah mata Emilia yang basah. "Berhenti mengejarku."
"Senior—"
"Aku tidak akan pernah berbalik padamu, Emilia. Aku tidak bisa dan kamu tahu alasannya mengapa."
Posisi Emilia hanya sebatas ini. Hanya sebatas gadis yang dianggap tidak pernah lahir tapi memiliki darah salah satu konglomerat terkaya di negara ini.
Hanya itu.
"Aku menjodohkanmu dengan Samuel, aku mengakuinya." Mahesa tersenyum. "Tapi aku tidak memaksamu menerimanya. Mengerti?"
"Senior tahu aku akan melakukannya untuk Senior, karena itu Senior mengajukannya."
"Ya, aku tahu itu. Memang. Tapi bukankah aku tidak pernah marah pada penolakan siapa pun terhadapku? Aku tidak akan marah."
Karena itulah justru semakin sulit menolaknya.
"Tenangkan dirimu. Pergilah beristirahat. Nine akan mengurus bagian yang tersisa."
...*...
Kenapa adalah apa yang Samuel pertanyakan dari keputusan Mahesa. Meski jelas ia senang karena Mahesa nampak benar-benar tidak menginginkan Emilia, tapi itu perlu dipertanyakan kenapa.
__ADS_1
Samuel belum tahu secara utuh apa saja kemampuan Emilia. Yang jelas, dia mampu menghancurkan Ahkam, tanpa rasa takut, dan seorang keturunan Nugraha.
"Apa yang kurang dari Emilia?" Karena itu, Samuel bertanya pada Mahesa.
Reaksi Mahesa awalnya tawa kecil. Tapi kemudian dia mengajak Samuel berjalan menuju lantai atas.
"Apa yang kamu lihat dari Emilia setelah tinggal bersamanya?" tanya dia sebagai awalan.
"Gadis yang keras kepala." Samuel mudah menjawabnya. "Tidak kenal takut, dan mungkin kesepian."
"Aku membesarkan Emilia karena Erwin Nugraha." Mahesa melompat naik ke palang, duduk memandangi langit yang mendung di atas mereka. "Erwin Nugraha menyerahkan anaknya pada Narendra, lalu aku 'membeli' anak itu karena Narendra tidak membutuhkan Nugraha. Bisa dibilang aku memang berharap dia menjadi sesuatu yang spesial."
Pantas saja Emilia menangis. Dia memahami betul sisi kejam Mahesa ini, tapi dia berusaha terus menerimanya.
"Tapi Emilia hanya barang rusak, bagiku."
"Dia sehebat itu dan masih rusak bagimu?"
"Samuel Ahkam, berhenti pura-pura tidak mengerti. Saat anak buahmu mempertanyakan tindakannya padahal mendengar perintah dengan jelas, itu adalah tanda bahwa dia tidak akan bertindak sempurna."
Keraguan Emilia, jangan-jangan saat .... "Emilia merasa bersalah membunuh Soraya?"
"Ya, dan itu rasa manusiawi."
"Kurasa tidak terlalu berpengaruh." Karena kenyataannya Emilia masih bertindak atas keinginan Mahesa.
"Tapi itu menandakan dia menganggap perbuatannya salah dan memperdebatkan itu di jiwanya." Mahesa menoleh. "Aku tidak membutuhkan orang peragu saat menghancurkan dunia, Sam. Emilia tidak memenuhi standarku. Jadi aku menjualnya padamu."
Harga diri Emilia pasti terluka mendengar itu. Tapi jika Samuel berkata tidak, maka ia akan kehilangan Emilia.
"Emilia tidak berguna, jadi aku memutuskan membebaskan dia. Dia sudah hidup terpuruk sangat lama."
"Lalu Ahkam?"
Mahesa terdiam sejenak memandangi langit yang berkilat. "Aku berjanji pada Erwin mengenai itu."
*
__ADS_1