
Empat tahun kemudian.
"Mommy, can I ask you something?"
Emilia berhenti memotong-motong buah di atas talenan dan berpaling ke arah suara putrinya terdengar. "Sure," gumam Emilia. "But Indonesian please."
Sebagai bentuk pendidikan dasar bagi anaknya, Emilia memang menetapkan peraturan bahasa. Satu minggu untuk bahasa Indonesia, satu minggu untuk bahasa Inggris. Ini adalah minggu Indonesia, tapi Yumi masih sering salah karena bingung.
Itu wajar, makanya Emilia terus melatih dia.
"Okay."
"Hm?"
"Baik," koreksi anak itu. "Lalu, bolehkah aku bertanya?"
"Silakan." Emilia mengisyaratkan dia mendekat. Meraba-raba udara sampai dirasa tubuh kecil gadis berkepang itu datang, bertumpu di pahanya. "Ada apa?"
"Apa Ayah mencintai Ibu?"
"Pertanyaan yang mengejutkan." Emilia mengusap-usap kepala anaknya. "Bisakah Ibu bertanya mengapa Yumi bertanya?"
"Karena ... Uncle said—ups, I mean, Paman Nine berkata bahwa cinta adalah delusi."
Apa sebenarnya yang dia bicarakan dengan Nine sampai pada pembicaraan semacam itu?
Emilia mengisyaratkan Yumi duduk di pangkuannya terlebih dahulu. "Bisa Ibu melanjutkan memotong ini?"
"Ya, Ibu."
Emilia kembali memotong-motong buah tanpa melihatnya. "Pernyataan Nine tidak salah. Cinta adalah delusi. Delusi bertentangan dengan akal. Dan cinta bisa selaras, bisa tidak selaras."
"Jadi, Ibu mencintai Ayah atau tidak? Ayah mencintai Ibu atau tidak? Apa itu tidak nyata?" tanya anak itu penuh rasa ingin tahu sangat dalam.
__ADS_1
"Jika Yumi bertanya, mungkin tidak?"
"Seriously? So why you married him?" Lagi-lagi dia keceplosan.
"Karena keputusan."
"Ibu, aku tidak mengerti."
"Karena Ibu memutuskan menghabiskan seluruh waktu Ibu bersama Ayah." Emilia menepikan pisau setelah selesai, memasukkan potongan buah ke dalam mangkuk besar. "Cinta itu sesaat, Yumi. Cinta itu egois dan pemilih. Sesuatu seperti, Yumi menyukai slime berwarna merah muda, lalu seminggu kemudian Yumi membeli slime berwarna hijau."
"Is that the same thing?"
"Of course it is." Emilia malah ikut keceplosan. "Ibu tidak menyukai kebiasaan Ayah diam. Kamu tahu? Ayah selalu berkata 'beristirahat, Emilia, aku tidak ingin kamu terluka'. Seakan-akan Ibu bisa mati tersedak air saja."
Yumi tertawa.
"Dia hanya menyuruh Ibu istirahat. Padahal Ibu juga bosan. Lalu kamu tahu apa yang dia katakan saat Ibu mengeluh? Dia berkata, ayo punya anak lagi agar kamu bisa merawatnya. Jika orang lain dengar, dia akan dituntut atas tindak pelecehan terhadap wanita."
"Karena Ibu memilih," jawab Emilia seraya memeluknya. "Ibu memilih menerimanya. Seperti Ibu memilih memiliki kamu dan adikmu."
Tanpa Emilia lihat, Samuel berdiri di pintu luar menggendong adik Yumi yang berusia dua tahun.
Pria itu mengirim isyarat agar Yumi diam, pelan-pelan mendekat pada Emilia.
Tapi telinga Emilia terlalu tajam. Langkah Samuel tak terdengar, tapi suara tawa tertahan Yumi jelas terdengar.
"Kalian kembali?" tanyanya langsung. Yakin itu Samuel.
"Jagoan ini merindukanmu." Samuel langsung memindahkan putranya ke pelukan Emilia setelah Yumi turun. "Dia sedikit ragu turun ke laut tanpamu."
Emilia menepuk-nepuk kepala putranya. Samuel memberinya nama Gama. Sangat suka mencari ayahnya jika Samuel tidak ada, tapi rewel mencari ibunya jika diajak pergi oleh ayahnya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Samuel saat Yumi pergi dengan inisiatif mengambilkan baju ganti untuk Gama.
__ADS_1
"Dia sedang belajar tentang cinta."
"Darimu? Harusnya dia belajar dariku."
"Nyatanya dia bertanya padaku." Emilia balas mengejek, meski ia langsung tertawa Samuel mengacak rambutnya. "Tolong bantu Yumi makan. Biar kutidurkan Gama di kamar."
"Okay." Samuel mengisyaratkan asisten rumah tangga menuntun Emilia karena jarak ke kamar cukup sulit.
Yumi tergopoh-gopoh datang membawakan baju untuk Gama. "Here you go, Brother."
"Terima kasih, Sayang. Pergilah dulu bersama Ayah. Ibu akan menemani Gama beristirahat."
Samuel berkacak pinggang menatap putrinya yang tak melupakan setoples slime. "Apa itu, Sweetheart?"
"Can you play slime with me?"
"Jika kamu meminta dengan bemar."
Yumi cemberut. "Itu sangat sulit mengganti-ganti bahasa. I enjoy my english. Can I just use it because Mommy can't hear us."
"But I can hear you. Do you wanna play or nah?"
"Okay." Yumi merentangkan tangan, minta digendong. Begitu di udara, Yumi langsung mencium pipinya. "Bisakah aku bertanya sesuatu?"
"Apa Ayah mencintai Ibu?"
"Yap, karena Paman Nine berkata cinta adalah delusi."
"Mungkin saja." Samuel menjawab selaras dengan Emilia. "Karena yang nyata adalah Ayah dan Ibu memiliki kamu, Gama, dan calon adik kalian nanti."
Untuk apa memusingkan sebuah kata atau mungkin sesuatu yang tidak terlihat? Samuel lebih suka menatap kenyataan di mana Emilia berada, tersenyum bersama Yumi dan Gama.
...*...
__ADS_1