Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
27. Sikap Tidak Peduli


__ADS_3

"Hei, Ema."


Emilia sebenarnya orang yang sensitif. Jadi ketika seseorang memanggilnya dengan nada seakan memanggil binatang, ia suka berpikir mengakhiri hidup orang itu. Tapi jika semua manusia harus ia bunuh, mungkin setengah manusia di dunia sudah mati.


Jadi Emilia hanya mengabaikan panggilan itu.


"Hei, Ema!"


Dia yang perlu, kenapa Emilia harus berbalik?


"Ema, kamu tuli?!"


Tubuhnya ditarik kasar ke belakang. Tapi Emilia memang sudah tahu, jadi ia sempat menghindar agar tak sampai terdorong terlalu kasar..


"Kamu jadi sangat besar kepala hanya karena Tuan Muda Samuel memanjakanmu!" Seorang wanita yang ia tak tahu siapa namanya, kalau tidak salah bekerja sebagai tukang bersih-bersih, itu menatapnya berang. "Aku sudah memanggilmu tiga kali! Aku tahu kamu dengar! Apa desamu itu terlalu terpencil sampai tidak ada sopan santun di sana?!"


Apa otak orang ini kosong atau berlubang? Ketika seseorang dipanggil dan dia dengar tapi tidak berbalik, bukankah jawabannya cuma satu?


Aku tidak mau bicara denganmu.


"Apa menurutmu ini rumah orang tuamu?! Posisimu di sini hanya sebagai pelayan! Hanya pelayan, mengerti?! Berhenti bertingkah seakan kamu adalah tuan!"


Dagu Emilia terangkat dengan ekspresi dingin. Cacing ini barusan berkata apa? Beraninya dia menyamakan Emilia dengan kecoak rendahan seperti Ahkam.


"Apa-apaan matamu itu?! Kamu ingin melawan?!"


Apa sebenarnya mau dia. Panjang sekali pembukaannya. Dia memanggil untuk marah-marah karena capek?


Emilia memutuskan untuk berpaling. Tapi tangannya ditarik dan nyaris saja sebuah tamparan mendarat di wajahnya.


Tangan kurus itu tertangkap mulus oleh Emilia. Matanya agak melebar, merespons perbuatan wanita ini.


Binatang mempunyai insting membedakan siapa yang lebih kuat dan harus lari dari siapa. Emilia mencengkramnya sekuat mungkin. Beraninya cacing yang bahkan bukan anjing ini melupakan kedudukan.


"Aaaaakkkkhh!"

__ADS_1


"Hei, apa yang kamu lakukan, Ema?!"


Emilia mendorong wanita berisik itu ketika seseorang lagi datang. Ia menoleh, tidak mengenal juga siapa karena mereka tidak penting.


"Dia bermaksud menamparku." Emilia menjawab dengan nada bermartabat. "Apa ada alasan mengapa aku harus menerimanya?"


"Sikapmulah alasannya!" Pria itu membantu si wanita. "Sudahlah. Pergi dan bersihkan taman samping. Ada banyak sampah di sana."


Emilia berbalik pergi. Harusnya dari tadi dia bicara dan bukan mencari masalah.


...*...


Samuel tidak tahu harus bangga atau justru tertawa pada bagaimana Ema bertingkah. Rasanya baru sebentar Samuel duduk di dalam kamar mengerjakan sesuatu yang tidak boleh diketahui orang lain, tahu-tahu Rangga memanggilnya karena Ema disidang oleh Soraya.


Soraya adalah keponakan Samuel yang manis. Tapi jika dia sudah tidak suka sesuatu, maka Soraya bisa bertingkah sangat menyebalkan, mencari-cari alasan agar orang itu mendapat masalah.


"Ada apa?" tanyanya, seolah tak memahami apa-apa.


Entah apa yang dilakukan Ema. Samuel hanya tahu satu hal.


"Paman tidak akan percaya ini. Dia nyaris mematahkan lengan Nia hanya karena dia disuruh membersihkan sampah!"


Hmmm. Samuel melihat Nia yang Soraya maksudkan, sejujurnya baru tahu kalau dia bernama Nia. Siapa, yah? Sepertinya tidak penting.


"Apa yang terjadi, Nia? Benar Ema melukaimu?" Samuel hanya bersikap formal saja.


"Benar, Tuan. Saya mencoba meminta bantuan Ema membersihkan halaman tapi dia tidak mau mendengar lalu tiba-tiba mencengkram tangan saya."


Nia memperlihatkan tangannya yang membiru. Agak membuat Samuel terkejut.


Bekasnya ... pikir Samuel, Ema tidak sekuat itu. Nampaknya bukan kebohongan kalau tangan itu nyaris dipatahkan.


"Apa ada saksi?"


"Ya, Tuan. Saya melihatnya sendiri."

__ADS_1


Samuel menoleh pada Ema yang diam saja. Sikapnya dia sangat menggemaskan. Nyaris seperti dia tak dengar omongan orang karena itu bukan urusan dia dan semua orang sibuk sendiri padahal bagi dia tidak ada apa-apa.


Baru kali ini Samuel bertemu gadis semacam ini.


"Ema, benar pengakuan Nia?"


Ema malah mengangguk penuh keyakinan.


Jelas membuat Soraya berang.


"Dasar orang gila! Kamu menganggukan kepala begitu tenang karena berpikir Paman melindungimu?! Sebaik apa pun Paman padamu, perbuatanmu kali ini sudah melampui batas!"


Benarkah? Samuel mengangkat alis tak paham dengan ucapan Soraya. Tapi ia masih tersenyum daripada repot mengurusi hal tidak penting.


Mungkin yang memahami hal itu hanya Rowan. Pemuda itu bersandar malas menyaksikan semua dari kejauhan. Menyebalkan rasanya harus menghentikan Soraya, jadi Rowan putuskan diam melihat saja.


"Tapi bukankah perempuan itu memang aneh?" Rangga di sebelahnya berbisik diam-diam. "Aku belum pernah melihat pelayan dengan ekspresi seperti itu. Apa dia terlalu yakin Paman sangat baik padanya?"


"Kurasa dia hanya tahu bahwa Paman tidak peduli pada kemarahan Soraya dan nasib tangan pelayan itu." Rowan menghela napas lagi. "Aku lebih tidak mengerti mengapa Soraya masih tidak melihat Paman hanya melihat dia seperti daun terbang."


Rangga mendengkus. "Nasehati Soraya kalau begitu, dasar bodoh."


Mempermalaskan sekali. Jika Soraya bertindak demikian, dia yang memutuskan demikian.


Daripada peduli soal itu, Rowan lebih penasaran bagaimana Samuel akan mengakhirinya.


Dia jelas tidak menganggap ada masakah penting. Tapi Samuel selalu berbohong dan tersenyum. Bagaimana dia menyelesaikan kemarahan Soraya?


"Ema mungkin tidak sengaja melakukannya." Samuel meraih tangan Ema lembut. "Jangan lakukan hal semacam itu, Ema. Bersikap baiklah pada orang lain sebisamu."


Soraya tercengang. "Pa-Paman—"


"Soraya, meributkan hal semacam ini hanya akan mengganggu seisi rumah." Samuel menoleh pada Nia. "Maafkan Ema untukku, Nia. Lain kali dia tidak akan melakukannya."


...*...

__ADS_1


__ADS_2