
Aroma kasturi itu .... Emilia tidak akan melupakan tiga hal ini seumur hidupnya.
Nama Mahesa, aroma Mahesa, dan namanya sendiri.
Karena itu Emilia langsung mengulurkan tangan, merasa lebih baik saat tangannya bertemu kulit tangan Mahesa yang ia tahu itu tak mungkin orang lain.
"Senior."
"Matamu terluka." Mahesa membelai perban di wajah Emilia, yang menutupi bagian matanya. "Itu kesalahanku. Marahlah jika ingin."
Emilia menggeleng.
Bahkan jika ia kehilangan anggota tubuhnya, ia tak akan pernah menyalahkan Mahesa, apalagi marah padanya. Itu adalah kesetiaannya.
"Bisakah aku menanyakan sesuatu pada Senior?"
"Tentu saja." Jemari Mahesa menyelip di antara jemarinya, membuat Emilia sedikit terselamatkan dari kegelapan ini. "Apa itu? Matamu?"
"Itu bukan pertanyaan penting. Ada hal yang lebih penting." Emilia bergumam. "Tolong jawab dengan jujur. Apa yang Senior harapkan saat meletakkanku di samping Samuel?"
"Tanyakan lebih spesifik."
"Apa aku melakukan kesalahan?" Emilia menoleh sekalipun tak dapat melihat apa pun selain kegelapan. "Apa aku harusnya melakukan hal lain? Aku tidak merasakan apa-apa dari tindakanku. Aku tidak terhibur meskipun mereka mati."
"...."
"Aku mati rasa."
Sesuatu bergerak di samping kepalanya. Emilia hanya menunggu, lalu tiba-tiba merasakan sesuatu yang lembut diletakkan di sana.
"Apa ini?"
"Boneka kecil. Hadiah untukmu."
"Senior tidak mau menjawabku?"
Mahesa tertawa. Mengarahkan Emilia memeluk boneka setinggi enam puluh senti meter itu, lalu kembali memegang tangannya.
"Aku mengharapkan hal lain, memang," kata Mahesa, pelan.
__ADS_1
"Senior harusnya memberitahuku." Emilia akan melakukan apa pun yang dia katakan. Apa pun itu, bahkan jika Emilia tidak bisa.
"Apa yang aku harapkan, Emilia," Mahesa mengusap-usap cincin Rowan di jemari Emilia, "adalah kamu menghabisi Ahkam tanpa keributan. Kamu melanjutkan apa yang kamu lakukan di awal, sampai seluruhnya habis, atau setidaknya sampai tersisa sedikit dari mereka."
"Aku mengacau." Emilia berusaha bangkit. "Maafkan aku. Aku menyusahkan Senior. Berapa banyak orang kita yang mati? Berapa banyak kerugian? Apa Senior mengalami masalah?"
Mahesa malah tertawa melihatnya panik. "Emilia, tenanglah. Bukan soal berapa banyak kerugian."
"Tapi—"
"Aku mengharapkan hal lain, tapi aku tahu kamu akan melakukan ini."
Jika kedua mata Emilia tak ditutup, sekarang juga ia menangis. Mustahil Emilia tak tahu apa maksudnya.
Itu hanya berarti Mahesa sudah tahu Emilia akan melakukan kesalahan sejak awal. Itu artinya dia memandang Emilia tidak bisa membuat keputusan tepat.
"Aku membiarkannya agar kamu melakukan ini, Emilia."
"Senior seharusnya menegur kesalahanku!"
"Aku ingin melihatmu berbuat salah dan tidak memenuhi harapanku, Emilia." Mahesa mendorongnya untuk berbaring lagi. Terus menekan lengan Emilia agar memeluk bonekanya. "Berhenti mencoba sempurna di mataku. Itu tidak akan berhasil."
"Apa kamu mencoba menyusahkanku lebih lama, Emilia?"
Tangan Emilia bergetar. Ia berusaha keras menjangkau Mahesa, takut dia terlalu marah untuk menyentuh Emilia lagi.
"Dengarkan, Sayangku." Mahesa masih mau memegangnya, syukurlah. "Aku tahu kemampuanmu. Aku tahu dengan jelas kapasitasmu. Kamu memang luar biasa. Tapi, Emilia, aku memutuskan kamu tidak dibutuhkan dalam rencanaku. Jadi bisakah sekarang kamu menerima iu?"
Emilia meremas kuat tangannya.
"Hiduplu lebih bebas, Emilia. Berhenti mencoba memenuhi harapanku. Mengerti?"
"Tapi, Senior—"
"Aku sudah menggunakanmu untuk bertransaksi dengan Samuel. Dia bersedia menyerahkan kendali Oto padaku, tentu saja dia pun akan mengikutiku dalam kontrak kerja sama setara. Asal dia memilikimu."
"...."
"Sekarang, aku hanya ingin kamu berhenti membuat dirimu lelah. Aku bertanggung jawab atasmu, Emilia. Kamu lelah, aku pun lelah."
__ADS_1
Emilia menggigit bibirnya yang bergetar. "Senior tidak perlu memikirkan kebahagiaanku. Aku baik-baik saja."
"Cobalah lihat sesuatu yang lain." Mahesa meletakkan kecupan kecil di keningnya. "Dan ... aku tidak pergi ke mana pun. Kita terhubung lewat Samuel."
"Itu sama saja Senior memaksaku bersamanya demi Senior."
"Kamu menolaknya?"
"Aku tidak menyukai dia."
"Benarkah?"
"Itu benar." Emilia memeluk erat boneka barunya. "Aku akan pergi. Aku tidak mau bersama Ahkam itu."
"Tentu."
"Senior melakukannya lagi! Senior membiarkanku pulang lalu Samuel akan menyusulku, benar kan?!"
Mahesa tergelak. "Aku menjodohkan kalian, tapi tidak sedikitpun memaksa. Pergilah ke mana pun jika kamu ingin."
"Benarkah?"
"Ya. Aku tidak akan memberitahu Samuel. Tapi aku akan memberitahunya bahwa kamu melarangku. Kontrak, ingat?"
Emilia mengangguk. "Tapi Senior belum memberitahuku."
"Apa?"
"Mengapa kematian Argantana tidak membuatku senang?"
"Karena itu bukan balas dendam, Emilia. Kamu tidak menyimpan dendam pada Argantana atau Ahkam. Kamu hanya marah mereka membuatmu terhina. Kamu sudah membalasnya. Tidak lebih dari itu."
Benar juga. Kenapa ia harus puas ketika sejak awal ia tak berharap lebih?
"Aku akan menyuruh Nine pergi bersamamu. Dia orang terbaik yang dapat menjagamu sekarang."
"Terima kasih, Senior."
...*...
__ADS_1