
Samuel tidak tahu, tapi ia segera mengeluarkan bahan-bahan yang diperlukan.
Jelas Samuel tidak lapar tengah malam begini. Samuel hanya menduga bahwa Argantana akan melukai Ema yang Samuel bawa.
Reaksi tadi, jelas-jelas ada pergerakan aneh di kasur Emilia. Terkanannya lumayan kuat, dan getarannya tidak sama seperti dia menjatuhkan diri ke kasur.
Kenapa Ema terlihat baik-baik saja?
"Ini saus instan untuk macaroninya." Sambil berpikir ke arah yang sepenuhnya berbeda, Samuel menunjukkan hal-hal baru pada gadis polos ini. "Ini hanya tinggal dipanaskan lalu disiram ke atas macaroni."
Ema memegang sebutir macaroni di tangannya. "Ini keras."
Haruskah Samuel tertawa?
"Itu memang harus dimasak dulu."
"Hanya itu?"
"Ya. Mudah membuatnya, kan?"
Ema tidak merespons lagi. Mulai mengambil wajan untuk dipanaskan di atas kompor bersama air, lalu memasukkan macaroni itu ke dalamnya.
Karena memang dia perlu mandiri, Samuel biarkan saja dia melakukannya sendiri.
Ema juga cukup cerdas untuk paham, mengambil teflon lain untuk memanaskan saus, lalu mulai bergerak-gerak sibuk di sana.
"Ema, aku akan membelikan beberapa baju untukmu. Kamu tidak keberatan, kan?"
Dia terlihat lusuh seperti pengemis bukan karena dia sangat kotor dan jorok, namun karena suasana di sekitar mereka. Mau tidak mau, dia memang harus memakai baju yang lebih bagus agar setidaknya tidak dihina sebagai pengemis.
"Aku bukan pengemis." Dia mengatakannya lagi. "Beri aku pekerjaan dan upah."
Mentalnya menarik.
"Baiklah, Ema." Samuel tersenyum kecil. "Bersihkan mobilku pagi nanti. Upahnya adalah baju."
__ADS_1
Dia diam, dan Samuel mulai terbiasa.
*
Emilia tidak suka rasa makaroni itu. Ia rasanya mau muntah sambil terus memakannya agar Samuel tidak banyak bicara.
Mungkin sekitar satu jam habis untuk makan dan bicara sesekali, akhirnya dia mengajak Emilia naik lagi.
Jelas sikapnya agak waspada karena di depan pintu dia masih berkata, "Beritahu aku jika kamarmu tidak nyaman."
Emilia bergeser seolah mempersilakan dia masuk, padahal agar dia melihat sendiri bahwa tidak ada apa-apa. "Aku tidak nyaman karena luas tapi bagus."
Sekilas, dia tersenyum. "Aku tidak bisa membiarkanmu terlalu jauh dariku."
"Aku tahu."
"Kamu sangat dingin. Padahal kalimat tadi ambigu."
"Memang apa maksudnya?"
"Posisiku di rumah ini tidak terlalu baik. Beberapa saudaraku membenciku. Maaf tidak memberitahumu. Aku hanya—"
"Aku tidak peduli." Emilia tidak merasa harus dengar. "Aku datang untuk bekerja. Urusan pribadimu adalah urusanmu."
"Bahkan kalau itu berbahaya bagimu?"
"Sejak awal aku sudah dalam bahaya."
Meski maksud Emilia adalah sejak lahir, yang Samuel tangkap pasti sejak Emilia menolong dia.
Tidak apa, karena mau diartikan bagaimanapun, intinya adalah sama.
Emilia tidak peduli.
*
__ADS_1
Pagi harinya Emilia bangun agak siang. Ia bergegas untuk mandi, lalu turun untuk mengerjakan pekerjaannya yang kemarin Samuel berikan.
Bersihkan mobil.
Berharap ia bisa bekerja dalam damai, ternyata Emilia terlalu berharap.
Karena justru saat ia keluar, ia malah bertemu anggota keluarga Ahkam yang juga sedang mengurusi mobil.
Ekspresi wajahnya ... sepertinya dia peminum berat.
Mungkin juga mengonsumsi beberapa narkoba. Tidak mengejutkan memang seorang dari keluarga sekaya jni berbuat seenaknya dan hidup seolah tak peduli kapan mati.
Yang jadi masalah adalah ....
"Aku tidak mengenal wajahmu." Pria yang mungkin berusia tiga puluhan itu mengamati Emilia dengan mata penuh menyelidik. "Kamu putri pembantu?"
".... Samuel." Satu kata itu harusnya cukup memberitahukan. Samuel yang membawanya.
"Apa?"
Emilia tidak mau bicara padanya.
Dilihat dari bagaimana Emilia tidak tahu siapa dia, berarti dia tidak penting.
Maka Emilia berbalik begitu saja. Terpaksa harus menjauh daripada ia terlibat.
Namun saat Emilia berjalan, tiba-tiba ia merasa sesuatu mendekat. Nyaris saja Emilia berbalik, merespons instingnya.
Bahaya.
Meski begitu Emilia berhasil menahan diri. Diam menerima sebuah lemparan mengenai kepala belakangnya.
Untuk sesaat, Emilia tertegun.
Orang ini baru saja memukulnya?
__ADS_1
*