
Emilia memotong-motong sayuran itu lebih tipis tanpa membalas omelan dari Hana. Dipotong lebih tipis lagi kubisnya, lalu berpindah mencuci tumpukan panci yang baru saja dipakai koki.
Apa pun yang Emilia lakukan, mereka rasanya tidak pernah puas.
Mungkin karena mereka butuh pelampiasan dan Ema terlalu diam, jadi mereka marah-marah sambil menyebut namanya.
Tak tahu berapa lama waktu berlalu, Emilia pada akhirnya ditinggal sendirian di dapur untuk mencuci lagi bekas peralatan yang digunakan.
Para pelayan sisanya pergi beristirahat juga menghidangkan makanan untuk para tuan mereka. Katanya, besok akan lebih sibuk sebab besok para pelayat akan berdatangan.
Padahal hanya kematian. Mengapa begitu sibuk mengurusinya?
Emilia tidak paham sama sekali, menyelesaikan pekerjaan lalu naik ke kamar untuk ikut beristirahat.
"Ema."
Walau tidak bisa karena Samuel mencegahnya. "Apa?"
"Wajahmu pucat. Kamu sudah bekerja jadi tidak masalah kan aku menyuruhmu makan?"
"Aku akan makan setelah tidur."
__ADS_1
Emilia bergegas masuk ke kamar untuk mandi dan tidur.
Sebenarnya Emilia memang lapar. Tapi ia tahu mata Samuel memandanginya agak berbeda.
Ternyata dia masih curiga. Jadi Emilia harus memberi kesan lebih menyedihkan lagi. Apa yang bisa dilakukan gadis yang bahkan tidur dalam kondisi perut lapar setelah bekerja?
Dia harus memikirkan itu, jadi menahan lapar bukan sesuatu yang sulit.
*
Ada yang tidak beres.
Mau dipikir bagaimanapun, ini terlalu tiba-tiba. Samuel masih bisa maklum—dan tidak peduli—jika itu Idrus Ahkam, tapi Seline jelas berbeda. Dia adalah cucu kesayangan dari anak kesayangan.
"Sepertinya kamu menikmati pertunjukan di sini."
Kemarin, ketika Idrus Ahkam mati, Argantana Ahkam dan Suryanata alias ayahnya Samuel tetap berada di Singapura untuk bekerja. Tapi kini mereka kembali, repot-repot meluangkan waktu untuk satu kematian setelah mengabaikan dua kematian awalnya.
Perkataan Argantana barusan menyiratkan bahwa dia menganggap Samuel pelakunya.
Memang wajar dipikirkan. Samuel secuilpun tidak peduli pada satu helai rambut siapa pun di rumah ini. Karena itu saking tidak pedulinya, mereka mau hidup atau mati juga bukan urusan Samuel.
__ADS_1
"Kurasa tidak sepuas dirimu." Samuel membalas seakan-akan ia curiga itu perbuatan Argantana. "Aku tahu hobimu memang membunuh seseorang, tapi bukankah itu agak kejam pada saudara kandungmu juga keponakan kandungmu?"
Wajah dia terusik luar biasa.
"Samuel." Argantana mendekat. Wajahnya yang telah bergurat meski tidak merenggut garis rupawan di wajahnya terlihat menakutkan saat menggeram.
Walau tidak menakutkan bagi Samuel.
"Ini peringatan terakhirku. Menyerahlah atau kuhancurkan semua milikmu tanpa tersisa."
"Milikku yang mana?" Samuel tersenyum miring. "Akan kulihat dulu kehancuran darimu, baru datang dan ancam aku lagi. Karena yang kulihat sekarang rasanya cuma ketakutan."
"...." Argantana berlalu, mengakhiri basa-basi itu sampai di sana.
Sepertinya dia agak kebingungan. Dia mencurigai Samuel, namun Argantana bukan pria tolol. Dia pasti juga memikirkan bahwa tidak ada gunanya Samuel diam-diam membunuh anggota keluarga lantaran dendam lama.
Jika mau, Samuel bisa terang-terangan membunuh mereka dalam semalam. Tapi Argantana tidak bisa memikirkan hal lain.
Sama seperti Samuel yang tidak bisa memikirkan perasaan terusiknya atas kecurigaan bahwa ini perbuatan Ema.
Masalahnya, bagaimana bisa? Ema sedang berada di kamar, meringkuk dengan perut kosong setelah habis-habisan disuruh bekerja.
__ADS_1
Baik Argantana maupun Samuel serasa sedang menari di atas tangan seseorang.
*