
"Ema."
Emilia menoleh pada Samuel yang kembali membawa dua sandwich di tangannya. Dia menyerahkan satu pada Emilia, lalu berdiri memakan miliknya.
"Udara di sini segar, benar?" Samuel tersenyum. "Aku juga baru pertama kali datang ke tempat semacam ini diluar keperluan pekerjaan."
Aku tidak peduli.
Emilia menatap roti di tangannya. Berpikir apakah harus ia makan atau tidak.
Orang licik ini tahu Emilia tidak mau makan makanan dari tangannya karena ego. Makanya dia makan lebih dulu untuk menunjukkan kesan psikologis bahwa dia tidak memberi makan hewan melainkan mengajak makan bersama.
Dia tidak mungkin meracuniku juga. Kalaupun ia, aku tidak mempan diracuni.
Orang yang berkutat dengan racun akan sangat memalukan jika sampai mempan terhadap racun. Jadi Emilia akhirnya makan, abai pada senyum Samuel yang merekah karena untuk pertama kali, ia makan pemberiannya.
"Ema, bunga apa kesukaanmu?"
"Tidak ada."
Samuel sudah tidak peduli diberi sikap dingin. Karena hati dia juga dingin. "Ibuku menyukai bunga matahari."
Mulut Emilia berkedut mendengar kata ibu. ".... Di mana ibumu?"
"Hm? Sedang berlibur di luar negeri."
Dia pasti berpikir Emilia tidak akan tahu. "...."
"Maaf, Ema, bukan bermaksud menyinggung pembahasan sentimental."
"Hah?"
__ADS_1
Samuel agak layu saat tersenyum kali ini. "Kamu tahu, aku sudah lama menjanjikan ini, tapi belum kutepati. Kurasa kamu sedikit banyak juga terganggu dengan posisiku di rumah."
Aku tidak bingung. Tentu saja Emilia mustahil berkata jujur.
"Aku anak haram. Atau setidaknya itulah sebutan bagi anak sepertiku."
Samuel mengisyaratkannya untuk berjalan, mengambil posisi duduk agar lebih santai memandangi hamparan bunga matahari.
"Ayahku—walau tidak kusebut ayah juga, tidak menikahi ibuku karena perbedaan status. Dan, yah, karena berbagai hal tidak penting mengenai Ahkam."
Orang seperti mereka memang sudah terbiasa dengan pola itu. Pernikahan demi keuntungan jauh lebih penting daripada pernikahan karena cinta.
"Ibuku menyuruhku tetap bersama Ahkam, meskipun sejujurnya aku tidak tertarik. Lalu dia pergi."
Senior berkata orang genius adalah mereka yang meyakini kebohongannya melebihi keyakinan terhadap kebenaran.
Emilia menatap Samuel lekat. Kagum pada bagaimana dia terlihat sangat murung padahal ucapannya hanya sekadar kebohongan.
Samuel menetap di Ahkam atas keinginannya sendiri. Emilia rasa dia menunggu momentum sendiri. Hari di mana dia membunuh—atau setidaknya mau membunuh Ahkam.
"Tidak banyak Ahkam menyukaiku, Ema. Hanya beberapa keponakanku yang polos dan tidak tahu. Karena itulah kamu juga diperlakukan buruk oleh mereka."
Ada sesuatu yang Argantana inginkan darinya, karena itulah dia diburu. Emilia hanya terus diam mendengarkan cerita Samuel.
Kurasa itu Oto. Kalau begitu, kekuatan mereka memang cukup besar? Atau potensi mereka?
"Ema."
Emilia baru memberi reaksi ketika Samuel tiba-tiba mendekat. Agak terlalu dekat untuk disebut jarak.
Gerakannya halus menyentuh wajah Emilia. Mengusap sudut bibirnya tiba-tiba. "Aku berterima kasih kamu masih tetap bersamaku meski diperlakukan buruk oleh mereka."
__ADS_1
Kenapa dia berterima kasih? Sejak kapan pula Emilia melakukan itu untuknya?
"Kamu tahu, Ema?" Samuel meraih sejumput rambutnya. Tersenyum halus saat mengecup rambut itu. "Aku merasakan sesuatu berubah sejak aku bersamamu."
...*...
"Heeeh, ini tontonan menarik."
Nine tidak menoleh saat suara itu terdengar. Ia hanya diam sampai Mahesa berhenti di samping kursinya, menyaksikan sejumlah layar menampilkan Emilia dan Samuel dari berbagai sudut.
"Aku hanya minta perwakilan dari Number," balas Nine.
Karena Emilia berada dalam tanggungan Mahesa, maka mau tak mau segala tindakannya juga harus dilaporkan. Sebelum menangani sesuatu sebesar perusahaan Ahkam, maka jelas perlu izin dan kontrolnya.
Tapi biasanya yang perlu datang cuma orang suruhan. Bukan Mahesa langsung.
"Aku perlu melihat perkembangan Emilia." Mahesa meraih headphone untuk mendengar suara mereka. "Diluar dugaanku, Samuel ternyata mudah tergoda."
"Dan sesuai dugaan, Emilia tidak peduli."
"Hmmmm." Mahesa tersenyum kecil. "Bicara soal itu, menyerang Oto lalu ingin mengacaukan saham Ahkam, Emilia mulai memanasi panggung. Berarti dia mulai muak di sana."
"Dari awal dia seharusnya tidak berada di sana."
"Bukankah mereka pasangan serasi?"
Ya, sangat serasi. Satunya pemegang organisasi mafia berbahaya, satu lagi orang yang keberadaannya sudah mampu mengguncang Nugraha, dan kombo mereka akan menghasilkan Ahkam.
Mahesa panen tiga hal dalam sekali tangkap. Tentu saja mereka serasi.
"Emilia menyukaimu."
__ADS_1
"Anak gadis mudah menyukai seseorang yang sering bersama mereka." Mahesa menjatuhkan diri ke kursi di sampingnya. "Mengalihkan perhatian mereka lebih mudah dari memotong kue ulang tahun anak kecil."
...*...